Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Dilema


__ADS_3

Seperginya Mery, Rama menghampiri Ella,"Mbak Ella, aku minta maaf ya telah menyeretmu dalam masalahku. Aku lakukan itu supaya Mery tak lagi menggangguku."


"Iya, Ella. Ibu juga minta maaf tadi mengatakan kamu adalah istri Rama. Apa yang ibu lakukan juga seperti itu supaya Mery tidak datang lagi kemari," ucap Bu Berta.


"Ya, nggak apa-apa."


Walaupun di dalam hati Ella merasa tak suka dengan apa yang telah di lakukan oleh Bu Berta dan Rama. Tetapi ia tak enak hati jika akan komplen.


"Mah, aku minta maaf ya. Aku tidak menulis detail apa saja yang di butuhkan untuk acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Ella. Ternyata mendetail dan rumit hingga aku hanya memberikan dana saja pada Bu Ari, mah."


Bu Berta hanya menyunggingkan senyuman," hehehe... nggak apa-apa. Kok kamu tepat sekali pulang, di saat ada Mery di rumah?"


"Saya yang memberitahu Mas Rama, Bu," ucap Ella menyela pembicaraan.


"Maafkan saya."


"Nggak apa-apa, Ella. Apa yang kamu lakukan memang benar kok, jadi nggak usah merasa bersalah seperti itu."


Bu Berta mengusap bahu Ella.


Ella hanya tersenyum, di dalam hatinya ingat selalu pada Mery. Entah kenapa dia merasa akan ada hal buruk yang terjadi padanya. Tetapi entah apa itu.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa aku berpikiran negatif seperti ini? semoga saja apa yang aku pikirkan tidaklah sampai terjadi. Semoga saja wanita tadi benar-benar tidak menggangu Mas Rama lagi. Tetapi yang aku tahu selama ini jika seseorang begitu sangat mencintai lawan jenisnya, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Semoga saja wanita tadi tidak berbuat nekad, ia bisa menyadari bahwa Mas Rama sudah tidak cinta lagi padanya," batin Ella.


Sementara nan jauh di sana, Rangga terus saja memikirkan Ella.


"Di manakah Ella saat ini ya, Allah? padahal umur kehamilannya saat ini memasuki umur tujuh bulan, dua bulan lagi ia akan melahirkan. Apa ia sudah melakukan USG, untuk mengetahui jenis kelamin anak kami?"


"Hidupku terasa sepi sendiri seperti ini ya, Allah. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi supaya aku bisa menemukan keberadaan, Ella. Nggak mungkin aku lapor ke kantor polisi karena ia pergi ada permasalahan pribadi denganku. Yang ada aku akan malu sendiri," batinnya.


Rangga selalu merasa kesepian, di rumah mewah tempat tinggalnya, ia hanya hidup sendiri. Hanya ada para asisten rumah tangganya saja.


Dia juga sudah tidak pernah lagi menjenguk Sigit di dalam penjara. Dia benar-benar sudah tidak menganggap Sigit sebagai anaknya lagi, bahkan saat ini dia sudah mewariskan semua harta kekayaannya untuk Ella dan anaknya yang saat ini masih ada di dalam kandungan.

__ADS_1


"Ella, untuk menebus semua dosa-dosaku padamu dan anak kita. Aku telah mengalihkan semua harta warisan yang aku miliki atas nama dirimu dan juga calon anak kita. Aku sama sekali tidak memberi sepeserpun kepada Sigit. Karena ulah dia, rumah tangga kita berantakan seperti ini dan aku sampai menelantarkanmu serta calon anak kita."


Rangga berkata seraya mengusap foto pengantinnya. Dia berbicara sendiri bagaikan sedang berbicara dengan, Ella.


"Ya Allah, apakah memang Engkau sama sekali tidak akan memberiku kesempatan untuk bisa memperbaiki segala kesalahanku ini? sehingga sampai detik ini aku tidak bisa menemukan keberadaan Ella."


"Apakah begitu besar dosa-dosaku ini ya Allah, sehingga tidak terampunkan sama sekali?"


"Padahal aku benar-benar tulus ingin menebus segala kesalahanku dan benar-benar ingin memperbaiki semuanya, tetapi Engkau tidak memberikan kesempatan satu kali lagi untukku bisa bersama dengan Ella kembali."


"Jika memang Engkau tidak memberiku kesempatan untuk bisa bersama dengan istri dan anakku, kenapa Engkau membiarkanku tetap hidup Ya, Allah?"


"Seharusnya pada saat kecelakaan itu, Engkau renggut saja nyawaku supaya aku tidak harus merasakan penderitaan seperti ini dan selalu dihantui oleh rasa bersalah ku kepada istri dan anakku."


Dengan berlinang air mata, Rangga terus merutuki diri sendiri di dalam kamarnya. Yang sunyi sepi tiada Ella menemani.


Seringkali ia membayangkan masa-masa indah bersama dengan Ella, pada saat dirinya belum menjadi suami Ella. Dan kadangkala ia juga membayangkan pada saat dirinya telah menjadi suami, Ella.


"Aku sudah putus asa ya, Allah. Aku minta saat ini juga Engkau ambil saja nyawaku, dari pada aku harus merasakan penderitaan yang terus-menerus karena tidak bisa bersama lagi dengan istri dan calon anakku."


Gumamnya seraya terus saja memukuli kepalanya yang sedang merasakan sakit tiada terkira.


Setelah mengetahui kebenaran bahwa Ella tidak selingkuh sama sekali, sejak saat itu hidup Rangga dipenuhi dengan rasa penyesalan. Rasa bersalah yang teramat dalam bahkan setiap hari, hidupnya tidak merasa tenang.


Saat ini ia merasakan hancur sehancur-hancurnya, setiap kali ia berkeluh kesah, setiap kali ia marah, setiap kali ia menangis. Tetapi semua itu tidak mengubah keadaan dirinya. Tetap saja hidupnya seorang diri, tetap saja tidak berhasil menemukan keberadaan, Ella.


Kondisi tubuhnya juga sudah tidak seperti dulu lagi. Lambat laun tubuh Rangga terlihat kurus karena tak terurus. Tidak enak makan, tidak enak tidur dan tidak bersemangat dalam melakukan segala aktifitasnya.


Ibarat kata, sudah ingin mati tapi tak juga di beri kematian. Hingga Rangga merasakan siksa batin. Padahal Ella sudah tidak memikirkan dirinya sama sekali.


Bukan karena tak cinta lagi, tetapi karena dirinya sudah teramat sakit hati atas tuduhan perselingkuhan. Bahkan anak yang ada di dalam kandungannya, sempat di ragukan oleh, Rangga.


Dia tidak bersyukur punya istri masih muda dan cantik serta pintar dan baik. Tetapi dia malah masih saja tak percaya dengan Ella, hanya karena hasutan dari Sigit.

__ADS_1


Sigit juga alami hal yang naas selama di dalam penjara. Karena teman-teman sesama Nara pidana yang satu sel dengannya, sama sekali tidak bersahabat dengannya.


BUG


BUG


BUG


Beberapa teman sesama nara pidana memukuli Sigit. Ia tak bisa lagi menghindar. Hanya karena kesalahan sedikit saja, Sigit selalu mendapatkan pukulan.


"Aahhh...sakit! tolong hentikan!" rengek Sigit sambil terus memegangi perutnya yang terkena beberapa pukulan.


"Makanya nggak usah sok kamu ya? di luar memang kamu pernah menjadi seorang pemimpin perusahaan. Tetapi di dalam sel ini, aku yang berkuasa!"


'Jika kamu terus saja menolak perintahku, jangan harap aku mau menghentikan pukulan ku padamu."


"Bahkan aku bisa melakukannya hingga kamu mati! dan aku pastikan tidak akan ada yang dapat menolong dirimu!"


Salah satu nara pidana yang berperawakan tinggi kekar melotot ke arah Sigit yang terus saja kesakitan.


Dan dua anak buahnya yang lain tersenyum sinis ke arah Sigit.


"Aku mohon ampun, tolong jangan pukuli aku lagi aku. Aku akan menurut dan tidak akan membantah segala apa yang kamu perintahkan kepadaku."


Sigit terus saja memohon pada salah satu temannya sesama narapidana tersebut.


"Hem, awas ya! jika kamu sekali lagi berulah dan membantah, sekalian saja aku habisi kamu. Aku bisa merekayasa kematianmu, supaya tidak ada yang menjadi tersangka."


"Aku penjahat kelas kakap, dan kamu hanya penjahat kelas teri saja. Jadi tak usah menantangku lagi!'


"Ingat baik-baik apa yang aku katakan ini! karena aku tidak akan mengatakan apa pun lagi, paham!"


Sigit hanya mengangguk pelan, saat ini ia masih saja merasakan sekujur tubuhnya begitu sakit luar biasa. Ini terjadi bukan cuma sehari dua hari. Tetapi hampir tiap hari, Sigit selalu mendapatkan pukulan bertubi-tubi.

__ADS_1


__ADS_2