
"Mbak Ella bisa kita bicara sebentar?" pinta Rama.
Rama pun keluar dari kamar mamahnya diikuti oleh, Ella.
"Mbak Ella, saya minta maaf atas tingkah Mamah saya yang kurang sopan."
Rama merasa tidak enak hati, karena ia tahu kegaduhan yang terjadi barusan pasti ulah mamahnya, bukan karena Ella yang secara tidak sengaja menjatuhkan nampan berisikan cangkir dan juga piring.
"Untuk apa Mas Rama meminta maaf? karena tidak ada yang salah di sini dan tidak ada yang perlu dimaafkan."
"Saya sudah paham dengan tabiat orang tua, karena pada hakekatnya setiap orang tua itu kembali ke masa anak-anak bahkan sifatnya melebihi sifat anak-anak."
"Bahkan tidak semua orang tua sifatnya sama, setiap orang berbeda-beda. Mas Rama, tidak perlu merasa tidak enak hati pada saya. Karena ini sudah menjadi pekerjaan saya."
"Percaya saja dengan kinerja saya, lambat laun pasti Bu Berta bisa menerima keberadaan saya di sini."
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Ella, membuat heran Rama.
"Mbak Ella, jika mba merasa sudah tidak bisa menghadapi sifat mamah saya. Saya tidak akan memaksa mbak untuk tetap merawat mamah. Jangan di paksakan ya, mba. Karena saya sadar kok, sifat Mamah memang sangat keras. Dia bersikap seperti tadi bukan hanya pada, Mba Ella."
"Dalam satu bulan ini, sudah banyak sekali para perawat yang datang dan pergi dari rumah ini. Malah ada yang bertahan hanya beberapa jam saja, lantas ia berpamitan risgn."
"Yang bertahan lama hanya beberapa hari saja. Lalu pamit pulang juga. Sampai saya menyerah sendiri untuk mencarikan perawat itu Mamah."
"Tetapi saya juga tidak bisa merawatnya sendiri, karena saya juga harus mengurus perusahaan."
__ADS_1
Ella tersenyum mendengar cerita dari Rama," Mas Rama, saya akan tetap bertahan di sini. Kita lihat saja di sini siapa yang akan mampu melawan ego. Apakah Bu Berta akan selalu seperti ini pada saya? ataukah saya yang akan mundur?"
"Ya sudah jika begitu, tetapi tolong jujur saja ya mba. Jika suatu saat nanti mba ingin berhenti merawat mamah saya," ucap Rama.
"Mas Rama, seharusnya membiasakan diri berkata dan berpikir positif. Supaya hasilnya juga positif. Maaf ya, mas. Bukan saya sok menggurui."
Ella merasa tak enak hati, karena ia telah keceplosan dalam berkata.
"Santai saja Mbak Ela tak perlu minta maaf." Rama pun terkekeh melihat sikap Ella yang menurutnya terlalu formal.
********
Hari kedua di mana Ella bekerja merawat Berta, ia masih saja mendapatkan sikap tidak baik dari pasiennya tersebut tetapi ia masih bisa bersabar menghadapinya.
"Bu Berta, daripada Ibu marah-marah terus bagaimana kalau kita sejenak jalan-jalan ke taman supaya pikiran fresh segar atau otot yang tegang menjadi rileks," saran Ella.
"Aku nggak mau pergi-pergi, bukankah kamu tahu aku itu susah untuk berjalan. Aku malas kalau sesekali harus pindah dari kasur ke kursi roda dari kursi roda ke mobil rasanya capek," tolak Berta.
"Tapi aku yakin, ibu Berta itu masih bisa berjalan loh. Jika kita bisa sedikit demi sedikit latihan berjalan, pasti pada akhirnya ibu bisa kembali pulih seperti sedia kala," ucap Ella.
"Kalau ngomong itu jangan asal ya, kakiku buat menginjak lantai saja rasanya sakit sekali, jika pada saat berdiri. Bagaimana aku bisa berjalan lagi?" Berta tak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Ella.
"Bu Berta, jika anda merasakan di bagian kaki sakit berarti itu masih ada kemungkinan Ibu bisa berjalan. Kecuali ibu sama sekali tidak bisa merasakan apapun pada kaki ibu, barulah itu pertanda Ibu tidak akan bisa berjalan sama sekali."
"Aku mohon kali ini Ibu percaya saja pada apa yang aku katakan. Kita sama-sama berpikiran positif thinking dan juga berkata tentang hal-hal yang baik supaya hasilnya juga baik."
__ADS_1
"Kebetulan aku juga bisa sedikit-sedikit melakukan pemijatan pada anggota tubuh jika mengizinkan setiap harinya aku akan mengurut kaki Ibu perlahan-lahan, supaya otot-otot kaki Ibu bisa lentur dan tidak tegang terus serta tidak kaku terus."
Jika otot kaki ibu telah lentur kembali pasti akan mudah untuk digerakkan dan ibu akan segera bisa berjalan kembali."
Mendengar perkataan panjang lebar yang dilontarkan oleh Ella, tak lantas membuat Berta percaya. Dia malah tersenyum sinis kepada Ella," kamu ini kan cuma perawat bukan seorang dokter. Selama ini dokter Reno tidak pernah mengatakan apapun. Bahkan dia tidak pernah mengatakan tentang kakiku ini. Bagaimana mungkin kamu bisa percaya diri seperti itu dengan mengatakan aku bisa berjalan lagi?"
"Bu Berta, aku memang bukan seorang dokter dan hanya seorang perawat. Tetapi bukan berarti aku tidak pernah bersekolah di akupuntur, pemijatan, sehingga aku bisa mengerti teknik-teknik dalam memijat dan aku juga sedikit bisa membantu orang-orang untuk bisa berjalan kembali."
"Aku tidak akan memaksakan ibu untuk bersedia sedikit demi sedikit berlatih berjalan. Tetapi setidaknya izinkanlah aku untuk membuktikan perkataanku ini."
Dengan bujuk rayu yang Ella lakukan, hingga pada akhirnya dia berhasil juga membuat Berta bersedia untuk rutin latihan berjalan dengannya.
Sejenak Ella mengurut kaki Berta, dan setelah itu dia membantunya untuk duduk di kursi rodanya. Ella lekas mengajak Berta untuk sejenak ke taman di dalam rumah tersebut.
Karena kebetulan rumah Rama begitu luas dan bagaikan istana, hingga Ella tak perlu repot-repot mengajak Berta ke taman.
Berta sempat memekik kesakitan pada saat kakinya dipijat oleh, Ella. Tetapi hal itu cuma terjadi sebentar saja, setelah itu Berta mengatakan bahwa kakinya sudah tidak sakit lagi.
"Ternyata setelah dipijat olehmu, kakiku merasa sedikit agak lebih baik dan tidak merasa kaku lagi. Maukah kiranya jika setiap hari kamu mijit kakiku, Ella?" tanya Berta pada saat dirinya duduk di kursi roda.
"Alhamdulillah... aku ikut senang mendengarnya, Bu. Dengan senang hati aku akan rutin memijit kaki Ibu, aku sangat yakin jika Ibu bisa berjalan lagi."
Perlahan tapi pasti Ella sudah mulai bisa berinteraksi dengan Berta. Sedikit demi sedikit Berta juga sudah tidak marah-marah lagi padanya. Bahkan ia sudah bisa mengulas senyuman walaupun hanya sekejap saja.
"Terima kasih ya Allah, pada akhirnya perlahan-lahan Bu Berta mau menerima keberadaan aku di sini untuk merawat dirinya. Sertai aku selalu ya Allah, selama aku merawat Bu Berta. Supaya aku selalu diberi kesehatan begitu pula calon anakku ini," ucapan rasa syukur Ella di dalam hatinya.
__ADS_1