Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Di Tolak Risgn


__ADS_3

Tak berapa lama, Ella telah sadarkan diri.


"Dokter Reno, kok ada di sini?" Ella mengerjakan matanya seraya memegangi kepalanya.


"Iya, aku di telpon sama Rama. Katanya kamu tiba-tiba pingsan. Pasti kamu kuranh tidur ya, jangan banyak pikiran. Ingat, kamu sedang hamil."


Ella pun menunduk malu, di dalam hatinya berkata," hadeh, Dokter Reno tahu saja kalau aku ini begadang. Memang aku semalam nggak bisa tidur, entah kenapa gelisah memikirkan masa depan."


"Ella, kenapa diam?" tegur Rama.


"Nggak apa-apa, Mas? aku memang semalam nggak bisa tidur, entah kenapa seperti itu," ucap Ella.


"Apa mungkin Ella memikirkan suaminya ya?" batin Rama.


"Ella, jika ada yang meresahkan pikiranmu. Sebaiknya ceritakan saja pada, ibu. Siapa tahu ibu bisa kasih solusi, jangan di pendam sendiri. Apa lagi kamu sedang hamil," ucal Bu Berta.


"Iya, Bu. Aku nggak mikir apa pun kok, hanya tiba-tiba nggak bisa tidur saja. Entah kenapa seperti itu," ucap Ella berbohong.


Bu Berta tak bisa berkata lagi pada saat mendengar alasan Ella tersebut. Dokter Reno memberikan multi vitamin untuk di konsumsi oleh Ella.


"Ella, ingat selalu ya? jaga kesehatan, karena kamu nggak sendirian. Di dalam tubuhmu itu ada seorang bayi. Jika kamu sakit, anakmu akan ikut merasakan sakit. Nggak usah memikirkan hal yang tidak penting. Dan ini ada multi vitamin, kebetulan aku bawa sekalian. Supaya kamu nggak usah repot-repot menebusnya di apotik."


"Baiklah, terima kasih ya dok."


Setelah cukup lama berada di rumah Rama, Dokter Reno segera pergi karena ia juga harus segera ke rumah sakit tempat nya bertugas.


Selepas dokter Reno pergi, Ella bangkit dari berbaringnya.


"Bu Berta-Mas Rama, maafkan aku ya. Gara-gara aku pingsan jadi merepotkan saja." Ella merasa tidak enak hati, ia pun menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Nggak apa-apa, Ella. Kami malah sempst khawatir, terutama Rama dia sangat cemas padamu pada saat melihatmu tak juga sadarkan diri," Bu Berta keceplosan.

__ADS_1


"Hah, apa ya begitu Mas Rama? hhee Mas Rama terlalu berlebihan sekali dech," Ella terkekeh.


"Hem, lihatlah mah. Ella malah terkekeh, padahal aku benar-benar mengkhawatirkannya, takut terjadi sesuatu padanya. Lantas apa yang akan kita katakan kepada keluarganya?" Rama memonyongkan bibirnya.


"Hehehe.... sudahlah kamu nggak perlu manyun seperti itu, nanti wajah jelekmu bertambah jelek saja," goda Bu Berta terkekeh pula.


Rama pun berlalu pergi dariml hadapan Ella dan mamahnya seraya menggelengkan kepalanya. Ella bangkit berdiri dan mulai aktifitasnya lagi untuk mengurus Bu Berta.


"Ella, sebaiknya kamu istirahat saja. Biar khusus hari ini aku mengurys diriku sendiri. Lagi pula sebelum ada kamu, aku jiga sudah terbiasa mengurus diri sendiri."


Namun Ella tak mendengar apa yang di katakan oleh Bu Berta, ia tetap mengurusnya," Bu, itu kan sebelum bada aku. Kini sudah ada aku ya,aku yang mengurus ibu. Tenang saja, bu. Aku nggak akan pingsan lagi kok. Kan sudah di beri obat sama, Dokter Reno."


"Sebaiknya kamu minum saja dulu obatnya, supaya benar-benar sehat kembali."


Ella pun menuruti kemauan Bu Berta, untuk dirinya sejenak minum obat. Karena ia juga tidak ingin berlarut-larut dalam sakit. Ia ingin sehat karena punya tanggung jawab, yakni mengurus Bu Berta.


********


Dan saat ini Bu Berta sudah sehat, sudah benar-benar pulih. Ia sudah bisa berjalan dengan lancar tanpa menggunakan penopang atau pun di kursi roda lagi.


Ellalun memutuskan untuk risgn dari rumah itu. Karena dirinya merasa jika Bu Berta sudah tidak butuh perawatan lagi.


"Bu Berta-Mas Rama, ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian. Aku ingin risgn dari sini, karena aku rasa ibu sudah tidak perlu perawatan lagi."


"Alhamdulillah, ibu saat ini sudah bisa berjalan dengan normal. Jadi aku memutuskan untuk mengundurkan diri."


"Aku juga akan mengurus acara untuk syukuran tujuh bulanan di rumh yang akan di laksanakan satu Minggu lagi."


Mendengar Ella akan pergi, Bu Berta menitikkan air mata," Ella, walaupun aku sudah sembuh, aku masih butuh kamu. Jangan risgn, tetap di sini saja ya?"


Rama ikut berbicara," mah, nggak bisa seperti itu. Mamah kan sudah sehat, masa iya Ella terus saja di sini?"

__ADS_1


"Nggak, Rama. Pokoknya mamah ingin Ella tetap ada di sini untuk bersama mamah. Walaupun Mamah sudah tidak perlu di rawat lagi. Ella, untuk acara syukuran tujuh bulanan, biar ibu yang mengurusnya."


"Ibu, ingin kamu tetap di sini, setidaknya satu bulan lagi. Kamu nggak usah capek-capek bekerja urus, ibu."


"Cukup di sini temani hari-hari ibu, jika Rama sedang ada di kantor, ibu pasti sendirian dan kesepian."


"Ibu, mohon mau ya? tinggal di sini paling nggak ya sampai usia kehamilan kamu delapan bulan."


"Kamu katakan saja apa yang di butuhkan untuk acara syukuran tujuh bulanan, biar ibu yang atur semuanya."


"Karena ibu khawatir, adat di tempatmu dengan di tempat ibu beda. Mau ya Ella, kamu di sini hingga umur kandunganmu delapan bulan?"


Ella terdiam seolah sedang berpikir, tetapi ia juga tak tega jika harus menolak kemauan, Bu Berta. Hingga pada akhirnya ia pun bersedia tinggal lebih lama lagi sesuai dengan kemauan, Bu Berta.


"Baiklah, Bu. Aku akan di sini satu bulan lagi. Untuk acara syukuran tujuh bulanan, biar aku urus sendiri. Aku nggak ingin merepotkan ibu dan Mas Rama," tolak Ella secara halus.


"Tetapi aku suka di repotkan olehmu kok, Ella. Jadi nggak usah sungkan. Jika kamu menolak, pasti Mamah akan sedih loh," bujuk rayu Rama.


"Tapi, mas....


"Nggak ada tapi-tapian lagi pokoknya. Nggak ada penolakan lagi. Biar ibu dan Rama yang urus semua keperluan dalam acara tujuh bulanan. Jika kamu ingin di lakukan di rumah ibumu, nggak apa-apa. Tapi biar kamu yang mengurusnya," ucap Bu Berta berkeras hati.


"Baiklah, Bu. Tetapi aku ingin di langsungkan di rumahku saja. Dan aku juga nggak ingin mewah-mewah. Yang terpenting doanya saja. Itu sudah cukup bagiku, Bu."


"Baiklah, nanti Ram yang akan mengurus semuanya. Rama, nanti kamu bisa datang ke rumah Ella, dan tanyakan apa saja yang di perlukan untuk acara syukuran tujuh bulanan, Ella," pinta Bu Berta.


"Ok, bos. Siap laksanakan tugas dengan sesegera mungkin," ucap Rama dengan hormat pada Mamahnya.


Dari awal benci sekali pada Ella, kini Bu Berta berubah sayang sekali pada Ella. Padahal Ella sama sekali tidak melakukan hal aneh-aneh. Ia hanya membalas segala perilaku buruk Bu Berta dengan kasih dan sayang.


"Ya Allah, Bu Berta baik sekali padaku. Kebaikannya sungguh luar biasa. Aku sampai merasa tak enak hati karenanya. Semoga Allah memberikan panjang umur, sehat selalu. Hingga beliau bisa melihat Mas Rama menikah dan punya banyak keturunan supaya rumah ini ramsi, seperti yang di inginkan olehnya," batin Ella.

__ADS_1


Selama ia bekerja menjadi perawat, baru kali ini bertemu dengan pasien yang sangat galak tetapi pada akhirnya malah baik sekali. Ia awalnya juga kaget melihat tabiat Bu Berta yang lain dari pada yang lain.


__ADS_2