
Rama kembali bertanya pada wanita muda itu," siapa namamu? kenapa diam saja?"
Diam-diam Rama memotret wanita itu tanpa sepengetahuannya. Untuk dia tanyakan ke yayasan dimana dirinya mencari seorang perawat.
"Namaku, Ita."
"Oh Iya, sebentar ya. Aku ada urusan sejenak, kamu tunggu di sini dulu bersama dengan mamahku. Silahkan kalian ngobrol dulu."
Rama agak menjauh dari Bu Berta dan wanita itu. Dia terlebih mengirimkan chat pesan pada security.
[Tolong awasi selalu wanita yang sedang bersama dengan mamahku. Jangan sampai teledor!]
[Baik, Den Rama.]
Saat itu juga Rama menghubungi yayasan di mana dia mencari seorang perawat untuk merawat Mamahnya.
Kring kring kring kring kring
📱" Halo selamat pagi, dengan yayasan Budi Darma Kasih. Ada yang bisa kami bantu?"
📱" Begini Mbak, saya ingin menanyakan tentang seorang perawat untuk merawat Mamah saya. Waktu itu saya ke yayasan."
📱" Atas nama siapa ya, pak?"
📱" Atas nama Rama. Kiranya siapa ya nama perawat tersebut? karena di sini ada seorang wanita bernama Ita. Dia mengaku dari yayasan Budi Darma Kasih. Saya hanya ingin memastikan apakah wanita ini benar-benar dari yayasan tersebut."
📱" Kami belum mengirimkan seorang perawat pun ya ke alamat rumah bapak Rama. Mohon dikirimkan foto wanita tersebut, siapa tahu kami yang salah informasi ternyata ada rekan kerja kami yang telah mengirimkan wanita tersebut ke tempat bapak."
Saat itu juga Rama mengirim chat pesan berupa foto wanita yang mengaku sebagai perawat. Setelah sejenak melihat foto tersebut, pihak yayasan mengatakan hal yang mengejutkan bagi Rama.
📱" Maaf Pak Rama, setelah kami cek. Wanita tersebut bukan dari yayasan kami."
📱" Ok, terim kasih informasinya. Berarti pihak yayasan belum mengirimkan perawat ke rumah saya?"
📱" Setelah kami cek, sedang dalam perjalanan pak. Namanya Eka, bukan Ita. Nanti saya kirimkan fotonya, supaya bapak tidak salah orang lagi."
Sejenak orang dari yayasan mengirimkan foto calon perawat yang akan merawat Bu Berta. Mengetahui bahaya sedang mengancam mamahnya, Rama lekas mematikan panggilan telepon tersebut. Dan segera berlari ke teras halaman.
__ADS_1
"Alhamdulillah..m ternyata mamah masih aman dan wanita yang menyamar sebagai perawat itu juga telah pergi," batin Rama.
"Mah, di mana wanita itu? kok sudah nggak ada?" tanya Rama celingukan mencari wanita yang bernama Ita.
"Dia baru saja pergi, tetapi katanya akan datang kembali besok pagi. Karena kebetulan ada hal penting, sehingga dia pulang dulu," ucap Bu Berta.
"Alhamdulillah, Mamah baik-baik saja."
Bu Berta memicingkan alisnya, pada saat mendengar perkataan dari, Rama.
"Maksudnya apa ya, Rama? kok mamah jadi bingung loh?"
"Barusan itu perawat palsu, mah. Aku sudah cek ke yayasan. Yang asli datangnya besok, namanya Eka bukan Ita."
Rama pun menunjukkan foto perawat yang asli kepada mamahnya.
"Astaghfirullah aladzim, lantas siapa wanita tadi, Rama?" tanya Bu Berta.
"Entahlah, mah. Aku juga tidak tahu yang jelas sepertinya wanita tadi berniat tidak baik pada kita terutama pada Mamah. Untung saja Allah masih melindungi Mamah hingga dijauhkan dari marabahaya," ucap Rama merasa sangat bersyukur karena mamahnya baik-baik saja.
"Wanita tadi bicara apa saja dengan, mamah?" tanya Rama penasaran.
"Dia nggak ngomong apa-apa, hanya diam saja malah sibuk bermain ponsel. Mama juga tidak menanyakan apa pun padanya," ucap Bu Berta.
"Kita harus lebih waspada lagi, mah. Jika besok wanita itu datang lagi kemari. Aku pasti akan menangkapnya dan membawanya ke kantor polisi," ucap Rama.
Rama menjadi sangat kesal dengan wanita yang telah datang mengaku sebagai perawat tersebut.
"Lihat saja ya, besok aku akan menangkap basah dirimu! dan aku akan tahu siapa sebenarnya dirimu," batin Rama sudah tidak sabar lagi untuk segera menangkap basah perawat palsu tersebut.
"Rama, sebenarnya kamu tak usah menyewa perawat juga nggak apa-apa, mamah kan sudah bisa berjalan."
Perkataan mamahnya membuyarkan lamunan, Rama.
"Mamah perlu perawat, karena aku tidak selamanya stand by di rumah. lagi pula bibi sibuk di dapur dan sibuk dengan pekerjaan rumah lainnya pastinya nggak akan fokus untuk menjaga, mama."
*******
__ADS_1
Esok pagi yang ditunggu Rama telah tiba. Ia pun memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan menyerahkan urusan kantor untuk di handle oleh salah satu orang kepercayaannya.
Karena Rama ingin mengetahui siapa sebenarnya perawat palsu itu, bahkan Rama sudah meminta perawat yang aslinya untuk tidak datang terlebih dahulu.
'Untung saja kemarin aku sempat meminta nomor ponsel, Mbak Eka. Sehingga aku bisa menghubunginya untuk tidak datang ke sini dulu, karena aku akan menyelesaikan urusan dengan perawat palsu itu!"
Ting tong ting tong ting tong
Terdengar bunyi bel pintu gerbang.
"Aku yakin, pasti perawat palsu itu datang. Untung saja aku sudah waspada, dengan menelpon aparat kepolisian untuk siaga di sekitar rumahku ini."
Ita, melangkah dengan pasti menghampiri Rama yang sedang duduk di teras halaman. Dia sama sekali tidak curiga dengan sikap Rama.
"Selamat pagi, Den. Apa saya sudah bisa mulai bekerja sekarang juga?" tanya Ita.
"Sebenarnya siapa kamu, dan apa tujuanmu menyamar sebagai perawat?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Rama, membuat Ita mendadak panik dan terlihat sangat jelas kecemasan pada wajahnya.
"Kenapa kamu diam saja tidak menjawab apa pertanyaanku? dan kenapa pula kamu mendadak panik seperti itu? aku tidak akan menerkammu atau membunuhmu. Aku hanya menanyakan untuk apa kamu menyamar menjadi perawat di sini? apa tujuanmu yang sebenarnya?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut, Rama.
"Den Rama, kenapa anda mengatakan seperti itu? saya benar-benar seorang perawat dan tujuan saya kemari juga untuk merawat Nyonya Berta. Bukankah sudah saya katakan jika saya berasal dari yayasan Budi Dharma Kasih," ucapnya mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Kalau kamu tidak mau jujur, aku akan membawamu sekarang juga ke kantor polisi. Apalagi di sekitar rumahku ini banyak aparat polisi yang sedang berjaga-jaga. Katakan apa tujuanmu menyamar menjadi perawat?" Rama terus saja memojokkan Ita.
Rama menelpon beberapa aparat kepolisian yang saat ini sedang berjaga di sekeliling rumahnya untuk segera masuk ke pelataran rumah. Hal tentu saja membuat kita semakin menjadi panik.
Pada akhirnya Ita pun mengatakan yang sejujurnya, karena ia takut dengan ancaman, Rama.
"Maafkan saya, Den Rama. Saya hanya diperintah oleh seseorang untuk menjadi perawat dari Nyonya Berta," ucapunya tertunduk ketakutan.
"Siapa orang yang telah memerintahkanmu untuk menjadi perawat di sini? dan apakah tujuan orang itu memerintahkanmu sebagai perawat?" tanya semakin kesal.
"Saya di perintah oleh seorang wanita, untuk rajin menuangkan cairan ini ke setiap minuman, Nyonya Berta."
Ita memberikan sebuah botol kecil yang berisikan cairan, tetapi tidak jelas cairan apa."
__ADS_1