
Setelah cukup lama mereka ketakutan dan berdiam diri, pada akhirnya Bu Ari yang telah terlebih dahulu berkata," ta-tadi kami nggak sengaja melihat di acara berita televisi jika di lapas dimana Sigit di penjara terjadi kehebohan.'
"Dimana banyak narapidana kabur, begitu pula dengan Sigit. Dia masuk ke dalam daftar hitam beberapa buronan yang telah berhasil kabur."
Baik Ella maupun Rangga terperangah, seolah tak percaya dengan berita yang telah di sampaikan oleh Bu Ari.
Pada saat Rangga atau Ella akan bertanya lebih lanjut, tiba-tiba ponsel Rangga berdering. Ternyata panggilan telepon dari kepolisian.
📱" Halo, Tuan Rangga. Kami dari pihak kepolisian, memberikan kabar jika anak anda, Saudara Sigit telah berhasil kabur dengan para narapidana lainya. Pada saat terjadi kebakaran di lapas. Dan kami bohong kerjasamanya, jika Tuan mengetahui tempat persembunyiannya, cepat kabari kami. Terima kasih."
📱" Baiklah, Pak. Saya juga akan membantu sebisa saya untuk bisa menemukan keberadaan anak saya."
Baik aparat kepolisian maupun Rangga, keduanya mematikan panggilan telepon tersebut.
"Ternyata apa yang dikatakan ayah dan ibu benar, Sigit kabur dari penjara. Jika seperti ini kita harus lebih waspada, bahaya bisa mengancam terutama untukmu sayang dan juga anak kita," ucap Rangga menghela napas panjang.
"Kamu tenang saja, Rangga. Tak usah dibikin stres, nanti yang ada kamu tambah sakit dan semakin merepotkan Ella saja. Aku akan memerintahkan seluruh anak buahku dan juga anak buah Fredy, supaya selalu waspada di sekeliling rumah ini, agar tidak terjadi hal buruk pada anak dan cucuku," ucap Ayah Bayu.
"Iya, Ayah. Aku minta maaf karena hanya merepotkan Ella saja."
Rangga agak tersinggung dengan perkataan dari ayah Bayu.
"Sudahlah, Mas Rangga. Hanya seperti itu saja kamu tersinggung. Seharusnya kamu memperbaiki diri sendiri, koreksi diri. Sekarang bukan saatnya untuk baper-baperan, karena bahaya sedang mengancam kita," ucap Ella merasa tak suka dengan sikap Rangga yang terlalu sensitif tapi keras kepala.
Ayah Bayu berlalu pergi dari hadapan Rangga dan juga Ella. Ia lekas menelpon nomor ponsel Fredy untuk memberitahu tentang kabar kaburnya Sigit dari penjara.
📱"Halo ayah, ada apa ya?"
📱" Barusan ayah dan ibu melihat di acara televisi tentang kabar kaburnya beberapa narapidana dan salah satunya adalah Sigit."
📱" Astaghfirullah aladzim, bagaimana mereka bisa kabur? kok aku tidak melihat acara tersebut, padahal baru saja aku menonton televisi. Atau mungkin bukan channel-nya."
📱" Barusan pihak kepolisian juga sempat menelpon Rangga, bahwa mereka bisa kabur karena mengambil kesempatan dalam kesempitan di mana pada saat itu lapas terjadi kebakaran."
__ADS_1
📱" Ini tidak bisa dibiarkan, ayah. Karena mengancam bahaya Ella dan anaknya."
📱" Makanya itu, Ayah menelponmu karena ingin meminta bantuanmu untuk mengerahkan seluruh anak buahmu. Guna menjaga Ella dan anaknya. Ayah juga akan melakukan hal yang sama, karena kita sudah mengetahui bahwa Sigit orang yang sangat berbahaya bisa menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya."
📱" Tenang saja, Ayah. Aku akan mengerahkan seluruh anak buahku bukan hanya untuk menjaga Ella dan anaknya, tetapi sebagian anak buahku akan aku kerahkan untuk mencari keberadaan Sigit, karena dia tidak bisa dibiarkan begitu saja."
📱" Benar sekali, karena kita tidak cukup untuk waspada, berdiam diri di tempat menjaga Ella dan anaknya. Jika seperti itu, Sigit akan berkeliaran bebas di luaran sana. Ayah setuju dengan tindakanmu itu, semoga kinerja anak buahmu benar-benar bisa diandalkan hingga tempat persembunyian Sigit bisa ditemukan."
📱" Baiklah Ayah, kalau begitu aku akan segera menghubungi seluruh anak buahku sekarang juga. Kita harus bertindak secepat mungkin, sebelum Sigit bertindak, kita harus mendahului dengan tindakan terlebih dahulu."
Fredy pun langsung mematikan panggilan telepon dari ayahnya dan ayah Bayu juga segera menghubungi beberapa anak buahnya untuk saat ini juga, waspada menjaga rumah mewah milik Rangga.
Sementara saat ini Sigit justru datang ke kantor milik Rangga, dia memakai penutup di wajahnya dan sudah memakai pakaian bebas dari mengambil jemuran orang.
Sigit membawa dua rekan sesama narapidana untuk menemaninya ke kantor Rangga.
Sigit mencari keberadaan Rangga, tetapi tidak menemukannya. Dia pun menemui Pak Jaka, yakni asisten pribadi Rangga.
Sogit membuka maskernya di hadapan Pak Jaka," pak, dimana papah?"
"Tu-Tuan Rangga, sedang sakit."
Ucapnya ketakutan karena di lehernya di tempelkan sebuah benda tajam.
"Oh jadi, bapak yang sementara menghandle kantor papah ya? Bagus kalau begitu cepat siapkan uang cash yang banyak sekarang juga!"
Pak Jamal hanya diam saja tak berkutik dari tempatnya berdiri.
"Cepat, pak! Jangan sampai aku bertindak kasar kepada bapak! lakukanlah sekarang juga, hubungi bagian keuangan untuk menyiapkan seluruh uang yang ada! beserta surat-surat penting yang ada di kantor ini, kumpulkan semuanya saat ini juga!"
"Ta-ta-tapi, Den."
"Mau membantah, baiklah aku tidak akan segan-segan menghabisin sama bapak sekarang juga!" Sigit menekan pisaunya di leher Pak jaman, sehingga sedikit menggores membuat luka.
__ADS_1
"Baiklah, Den. Tapi tolong jangan sakiti saya," pintanya memelas.
Saat itu juga Pak Jamal menuruti kemauan Sigit, tetapi di dalam hatinya merasa bersalah kepada, Rangga.
"Tuan Rangga, saya minta maaf. Semua di luar kendali saya," batinnya merasa bersalah.
Setelah Sigit mendapatkan semua yang diinginkannya, dia pun segera meninggalkan kantor Rangga, dengan memakai kembali penutup mukanya dan mengajak beberapa rekan sesama narapidana untuk segera pergi dari kantor tersebut.
Seperginya Sigit, barulah Pak Jamal menghubungi, Rangga. Ia segera menelpon Rangga.
📱" Apakah ada masalah Pak Jamal, Sehingga anda menelpon?'
📱" Maafkan saya tuan Rangga, semuanya di luar kendali saya."
📱" Apa maksud dari perkataanmu ini, Pak Jamal?"
📱" Barusan, Den Sigit datang kemari bersama beberapa rekan sesama narapidana. Den Sigit mengambil paksa semua yang ada di dalam kantor ini dari uang cash sampai surat-surat berharga."
📱" Astaghfirullah aladzim, kenapa anda tidak mencegahnya?"
📱" Bagaimana saya bisa mencegahnya, jika saya diancam oleh, Den Sigit dengan menodongkan benda tajam ke leher saya, bahkan sampai leher saya sedikit terluka."
📱" Ya sudah kalau begitu."
📱" Sekali lagi saya minta maaf, Tuan Rangga."
Rangga sama sekali tak mendengar permintaan maaf dari Pak Jamal, ia bahkan menutup panggilan telepon tersebut secara sepihak.
Karena merasa penasaran, Rangga lekas mengecek rekaman video CCTV lewat ponselnya dan ternyata apa yang dikatakan oleh Pak Jamal memang benar adanya.
"Dasar anak kurang ajar dan durhaka! beraninya merampas semua yang aku punya. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam, Sigit!"
Rangga begitu kesal melihat di dalam rekaman video CCTV,
__ADS_1