
Rangga terus saja gelisah karena tidak menemukan keberadaan Ella dan juga Bu Ari.
"Jika Ella pergi jauh, pasti semua pakaiannya di bawanya. Tetapi aku sudah cek ke kamarnya tapi koper dan juga pakaian masih tertata rapi."
"Hanya saja tadi saat aku mengecek ke kamar Bu Ari, tidak ada pakaian dan kopernya. Aneh sekali," batin Rangga memicingkan alisnya.
Saat ini ia bingung harus bagaimana dan apa yang akan ia lakukan untuk hal ini. Ia juga gengsi jika ingin bertanya pada, Sigit.
"Sigit kan sudah pulang lebih dulu dariku. Apa sebaiknya aku bertanya saja padanya ya? mungkin saja Sigit mengetahui keberadaan Ella dan juga Bu Ari. Aku rasa ini sangat mencurigakan. Karena Ella tidak pernah menghilang seperti ini sebelumnya. Ia selalu saja memberi kabar padaku. Bahkan pada saat aku bersikap dingin pun, Ella selalu saja bersikap baik dan seolah tak pernah terjadi apa-apa."
Rasa penasaran terus saja menghinggapi diri Rangga. Hingga menjelang makan malam, barulah ia berani bertanya pada Sigit.
"Sigit, apa kamu tahu kemana perginya Ella dan Bu Ari? karena Ella sama sekali tak membawa apa pun pada saat ia pergi, beda dengan Bu Ari. Papah sempat cek ke kamarnya, sudah tak ada pakaiannya sama sekali," tanya Rangga menatap menyelidik ke arah Sigit.
"Aku malah sama sekali nggak tahu, pah. Karena pada saat aku pulang kerja langsung masuk ke dalam kamar hingga tak tahu Ella atau Bu Ari pergi. Biarkan sajalah, pah."
"Bukannya malah kebetulan jika mereka pergi begitu saja? jadi kita tak usah bersusah payah untuk membuat mereka pergi. Dengan begini Papah tinggal mengurus perceraian saja."
Dengan entengnya Sigit berkata seperti itu. Karena memang dari awal ia mengharapkan ibu dan anak ini pergi dari rumahnya.
"Pah, aku minta maaf ya? karena akulah yang telah membuat Ella pergi dari rumah ini. Bahkan pergi untuk selamanya karena beberapa anak buahku telah menghabisi nyawanya," batin Sigit.
Di dalam hati Sigit merasa sangat senang sekali karena tanpa melakukan apa pun pada Bu Ari, ia telah pergi dengan sendirinya. Tetapi ada rasa penasaran, kemana perginya Bu Ari. Sedangkan Ella telah meninggal dunia dan jasadnya telah di buang ke lautan luas.
"Sebenarnya Bu Ari pergi kemana ya? pasti dia belum tahu tentang meninggalnya Ella. Apa mungkin saat ini Bu Ari kembali ke kampung ya? ah peduli amat dengan dirinya. Justru seharusnya aku senang karena tak usah repot-repot untuk memerintah orang menyingkirkan, Bu Ari," batinnya senang.
__ADS_1
*******
Pagi menjelang, Rangga tak juga tenang. Walaupun ia sudah tidak pernah tidur satu ranjang bersama istrinya. Tetapi ia tak memungkiri jika di hatinya masih ada rasa cinta yang mendalam.
Ia terus saja gelisah memikirkan kondisi Ella dan Bu Ari. Hingga tanpa sepengetahuan Sigit, Rangga memerintahkan anak buahnya untuk mengecek rumah Ella yang ada di kampung.
"Semoga saja Ella dan Ibunya ada di kampung. Supaya hatiku sedikit tenang, bagaimana pun Ella masih istri sahku. Dan perselingkuhan dirinya juga belum terbukti jika anak yang saat ini sedang di kandung oleh Ella telah lahir. Selama Ella belum melakukan Tes DNA, aku tidak boleh bersikap masa bodoh padanya."
'Ella, aku minta maaf karena selama ini aku tak menghiraukan dirimu. Mungkin ini yang menyebabkan dirimu akhirnya pergi meninggalkan rumah."
"Tidak-tidak-tidak, Ella tidak seperti itu. Ella wanita yang kuat dan penuh dengan sopan santun. Ia tidak akan pergi begitu saja tanpa pamit."
"Ya Allah, kenapa aku semakin mengkhawatirkan Ella dan juga Bu Ari ya?"
Karena suasana hatinya yang sedang tidak baik, hingga hari ini Rangga memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Ia tidak akan tenang dal bekerja jika belum mengetahui tentang kabar Ella dan Bu Ari.
"Hari ini papah libur, karena kurang enak badan,' ucapnya singkat tanpa menoleh ke arah Sigit sama sekali.
"Pah, jangan bilang jika papah ini sedang gelisah dan khawatir memikirkan Ella dan ibunya. Pah, Ella itu sudah berkhianat jadi untuk apa papah masih saja memikirkannya. Biarkan saja Ella dan ibunya pergi," ucap Sigit.
"Sudahlah, kamu tak usah mengurusi kehidupan rumah tangga Papah. Sebaiknya kamu urus dirimu saja..Cepat berangkat sana ke kantor, supaya tidak terlambat," ucap Rangga mengalihkan pembicaraan.
Hingga pada akhirnya, Sigit pun berlalu pergi dari hadapan Rangga. Ia segera melangkah ke garasi untuk segera mengemudikan mobilnya arah kantor.
Sesekali Sigit terus saja tersenyum dan tersenyum. Ia merasa dirinya telah memenangkan pertandingan tersebut.
__ADS_1
"Hhaaa...saleh siapa kamu ketus dan r pernah bersikap lembut padaku, Ella. Aku juga kecewa karena kamu telah hamil anak, Papah. Haaa.... tidak ada satu orang pun yang bisa melawanku," gumamnya tersenyum sinis.
Dia pun lekas fokus dengan pekerjaan kantornya. dan tiba-tiba pintu ruang kerjanya di ketuk oleh seseorang.
Tok tok tok tok
"Masuk"
Salah seorang karyawan Sigit masuk ke ruang kerjanya.
"Tuan, ada salah satu klien baru yang ingin bertemu dengan anda sekarang juga. Sebelumnya, ia sudah mengatur jam pertemuan," ucapnya.
"Oh ya, aku baru ingat. Namanya Tuan Fredy kan ya? suruh saja dia masuk kemari!" perintah Sigit pada karyawannya tersebut.
Saat itu juga sang karyawan mempersilakan Freddy untuk masuk.
"Hallo, Tuan Fredy. Saya sudah menunggu dari tadi, saya pikir anda tidak akan datang. Silahkan duduk, Tuan Fredy."
Fredy duduk di hadapan Sigit. Di dalam hatinya ada rasa ingin sekali menghabisi Sigit. Tetapi ia mencoba menahan rasa itu.
"Jadi ini yang namanya, Sigit. Lihat saja, aku akan membuatmu menderita seperti yang telah kamu lakukan pada saudaraku, Ella. Aku tidak akan terima dengan segala perlakuanmu. Untung saja waktu itu aku melihat kejadian itu. Dan lekas menolong Ella. Jika tidak, mungkin saat ini aku tidak akan bisa bertemu dengan saudaraku,' batin Fredy.
Sigit merasa heran karena sedari tadi Fredy terus saja menatap dirinya tak berkedip," Tuan Fredy, apakah ada yang aneh dengan wajahku? hingga anda terus saja menatapku tak berkedip?"
Pertanyaan dari Sigir mengagetkan lamunan Fredy," heee.. maafkan saya Tuan. Saya kagum dengan wajah anda yang sangat tampan. Pasti para wanita banyak yang telah jatuh cinta pada anda."
__ADS_1
'Hem, tetapi rata-rata para wanita itu tidak tulus. Hanya cinta pada hartaku saja. Anda juga tampai, Tuan Fredy."
Sejenak keduanya malah bercerita tentang pribadi masing-masing.