
Ayah Bayu dan Fredy, terus saja mencari keberadaan Rangga dengan mengarahkan seluruh anak buah mereka. Sementara saat ini, Rangga terjaga dari tidurnya, dan ia pun merasakan perutnya terasa lapar.
"Ya ampun perutku lapar sekali, aku harus mencari makanan, aku tidak boleh sakit," gerutunya seraya keluar dari mobilnya.
Kebetulan di tempat mobilnya parkir, ada sebuah warung makan. Rangga pun masuk ke dalam warung makan tersebut.
Tanpa melihat isi dompetnya, ia pun memesan makanan satu porsi dan juga minuman yakni teh manis hangat. Karena Rangga merasa lapar, ia pun makan dengan lahapnya. Hanya dalam sekejap mata makanan yang ada di piring telah habis.
"Jadi berapa ya, Bu?" tanya Rangga.
"Cuma lima belas ribu saja," ucap pemilik warung.
Sejenak Rangga meraih dompetnya yang ada di kantong saku celananya. Tetapi naas, di dalam dompetnya tidak ada uang sepeserpun. Karena uang sudah diberikan pada, Pak Uus. Tetapi Rangga sama sekali tidak mengingat akan hal itu.
" Aduh, bagaimana dompetku bisa tidak ada uangnya ya?" batin Rangga seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sementara pemilik warung terus saja menatap ke arah, Rangga.
"Mana bayarannya, Pak. Kenapa lama sekali sih? karena saya akan melayani pembeli yang lain," ucapnya ketus.
"Anu, Bu. Ternyata saya lupa nggak bawa uang. Lihatlah dompet saya kosong nggak ada uangnya sama sekali," ucap Rangga malu.
"Saya nggak mau tahu ya, bapak sudah makan sampai habis kok nggak mau bayar sih?" ucapnya kesal.
"Astaghfirullah aladzim, bukannya saya nggak mau bayar, Bu. Tetapi saya benar-benar nggak punya uang sama sekali," ucap Rangga.
"Lantas bapak maunya gratisan begitu! seenaknya saja! modal saya itu pake uang, kalau seperti ini saya bisa rugi!" bentak si pemilik warung.
"Saya minta maaf, Bu. Saya nggak minta gratisan kok, saya minta pengertian ibu saja. Besok saya bayar ya, saya akan ambil uang dulu di rumah," pinta Rangga memelas.
"Heran dech, penampilan berdasi. Masa iya, uang receh lima belas ribu saja nggak punya?" ejek pemilik warung.
Rangga bingung sekali,dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi," aduh..aku harus bayar pakai apa ini? sedangkan aku sama sekali sudah tak punya uang. Heran juga, masa dompetku kok nggak ada uangnya ya?"
Rangga diam saja berdiri, sementara pemilik warung beralih ke pembeli yang lainnya. Kejadian ini sempat di lihat seorang supir ojek. Dan ia pun tak tega dengan Rangga, ia menghampirinya," pak, ini bayarlah pada si pemilik warung."
__ADS_1
Tukang ojek tersebut ternyata Wina, yang kebetulan juga sedang mengantri membeli makanan, karena tiba-tiba malam-malam lapar. Wina menggenggamkan uang lima belas ribu ke tangan Rangga.
"Tunggu, jangan pergi dulu!"
Rangga lekas membayar makannya, dan ia pun berlari kecil ke arah Wina dimana saat ini Wina sudah berada di ambang pintu keluar warung tersebut.
"Ada apa ya, pak?" tanya Wina heran.
"Saya ingin minta tolong, bisa kan?" tanya Rangga.
"Bisa, pak. Apa yang bisa saya bantu ya, pak?" tanya Wina di balik helm dan maskernya.
"Mas, saya ingin ke kantor malah lupa jalan dan nggak tahu ini jauh sekali. Yang saya heran, saya juga lupa alamat kantor saya. Saya ingin pulang ke rumah, juga lupa alamat rumah saya. Bisa tolong saya?" ucap Rangga memelas seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Dompet Bapak, mana?" tanya Wina seraya menengadahkan tangannya.
"Mas, saya minta tolong antarkan saya ke rumah. Kok malah di mintai dompet saya? padahal mas tahu kan, dompet saya nggak ada isinya?"rajuk Rangga manyun.
"Astaghfirullah aladzim, bapak. Saya hanya ingin melihat kartu identitas, bapak saja. Supaya saya tahu dimana alamat rumah, bapak. Katanya bapak itu sama sekali nggak ingat alamat rumah dan juga alamat kantor."
Rangga tersipu malu," Astaghfirullah aladzim, saya juga nggak kepikiran sampai di situ, mas. Seharusnya sudah dari tadi ya, saya bisa pulang ke rumah dengan bertanya pada orang memakai kartu identitas saya."
Rangga meraih dompetnya dan memberikannya pada, Wina.
"Maaf ya, pak. Saya lancang telah membuka dompet Bapak. Nah ini juga ada kartu nama bapak, seharusnya bapak juga bisa ke kantor dengan kartu nama ini."
Wina menunjukkan kartu nama Rangga, dan Rangga hanya tersenyum malu seraya menepuk jidatnya sendiri.
"Sebentar ya, pak."
Wina melihat kartu nama Rangga dan tertera nomor ponsel.
"Bapak, bawa ponsel nggak?" tanya Wina.
"Nggak, ponsel entah di mana?" ucap Rangga sekenanya.
__ADS_1
"Oh ya sudah, kalau begitu. Bapak sampai di sini naik apa?" tanya Wina kembali.
"Entahlah, saya juga lupa mas. Di sini naik apa ya?" Rangga mencoba mengingat-ingat.
"Itu mobil siapa?" tanya Wina pada saat melihat mobil terparkir tepat di tepi jalan warung makan.
"Saya nggak tahu, mas. Itu mobil siapa?" ucap Rangga lagi.
"Astaghfirullah aladzim, sepertinya bapak ini pikun dech. Mending aku foto saja warung makan dan plat nomor mobilnya. Dan aku antar bapak ini pulang ke rumahnya, kasihan juga,' batin Wina.
Wina sempat mengirimkan pesan ke nomor ponsel Rangga berupa foto kartu identitas dan plat nomor mobil Rangga.
Saat itu juga, Wina meminta Rangga untuk naik keboncengan motornya," pak, pegangan ya. Takut bapaknya jatuh."
"Iya, mas."
Rangga tidak tahu jika sopir ojek ini adalah seorang wanita. Hingga dia dari tadi memanggil dirinya, mas. Hal ini tidak di permasalahkan oleh, Wina. Karena sudah sering dia di kira lelaki, karena penampilannya.
Dengan laju perlahan, Wina mengantarkan Rangga ke rumah mewahnya.
Seperginya Rangga bersama dengan Wina. Beberapa menit kemudian, datang Ayah Bayu. Tepat di belakang mobil Rangga yang terparkir.
Ayah Bayu meminta sopir pribadinya untuk sejenak menghentikan laju mobilnya tepat di belakang mobil Rangga.
Ayah Bayu lekas turun dari mobil dan menghampiri mobil Rangga. Dia mengamatinya," kok Rangga nggak ada ya? lantas kemana dia pergi?'
Ayah Bayu melangkah ke arah warung yang barusan Rangga mampir untuk makan. Tetapi semua yang ada di warung tersebut tidak tahu pada saat di tanya tentang Rangga. Begitu pula dengan pemilik warung, yang hanya fokus dengan pembeli saja.
Dia juga tidak paham jika itu adalah mobil Rangga. Apa lagi para pembeli yang sedari tadi hilir mudik berganti-ganti orang.
Ayah Bayu lekas menelpon Fredy.
📱" Apakah ayah telah menemukan, suami Ella?"
📱"Ayah hanya menemukan mobilnya saja. Tetapi Rangganya entah ada dimana? ayah sudah menanyakan keberadaannya pada orang yang ada di sekeliling mobilnya, tetapi nggak ada yang tahu."
__ADS_1
📱" Ya sudah, ayah kirim Sherlock saja, biar aku menyusul ke lokasi."