
Kini Bu Ari dan Sigit, masing-masing sedang berpikir keras bagaimana caranya supaya mereka bisa memisahkan Ella dari Rangga. Mereka sudah sepakat jika salah satu dari mereka mempunyai sebuah saran yang jitu, harus saling memberi tahu.
"Apa ya, cara yang tepat supaya aku bisa memisahkan Papah dari Ella? harus yang benar-benar tepat, supaya langsung bercerai."
Sigit terus saja memutar otaknya untuk berpikir bagaimana caranya supaya dirinya bisa memisahkan Ella dari Rangga.
Dan sejenak ia tersenyum, ia pun mempunyai ide yang cemerlang. Ia lekas menemui Bu Ari untuk meminta dirinya membantu melancarkan idenya yang menurutnya akan membuat Ella bisa berpisah dengan Rangga dalam waktu cepat.
Sigit celingukan melihat samping kanan dan kiri, ia tak ingin pembicaraannya dengan Bu Ari, di ketahui oleh orang lain. Setelah ia merasa aman, ia pun membisikkan sesuatu pada Bu Ari.
"Wah...Nak Sigit pintar juga. Kapan rencananya akan di laksanakan?" tanya Bu Ari antusias ingin membantu Sigit.
"Secepatnyalah, nanti aku yang mencari lelakinya. Dan ibu yang menuang obat tidur ke dalam minuman yang di konsumsi oleh, Ella. Bagaimana, keren kan rencananya?"
Bu Ari mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum ke arah Sigit. Dan saat itu juga Sigit menelpon salah satu anak buahnya untuk membantu rencana dirinya.
Kebetulan Sigit sudah mempunyai obat tidur untuk di campurkan ke dalam minuman yang akan di konsumsi oleh, Ella. Ia langsung memberikanya pada, Bu Ari.
Saat itu juga Bu Ari sibuk membuat minuman kesukaan Ella, jus buah di sore hari menjelang waktu Rangga akan pulang dari kantor.
Tak berapa lama, ia sudah selesai membuat jus buah alpukat kesukaan Ella.
"Nak, ini jus untukmu. Lekas di minum ya, biar badan terasa segar. Kalau di minum di saat dingin kan lebih segar dan nikmat."
Bu Ari meletakkan segelas jus Alpukat dingin di atas meja, di teras halaman.
__ADS_1
Karena sudah biasa, Ella setiap sore duduk di teras halaman untuk menunggu kepulangan suaminya.
"Terima kasih ya, Bu. Seharusnya ibu tak perlu repot-repot membuatkanku jus, karena aku bisa membuatnya sendiri."
Namun Ella tidak langsung meminumnya, ia asyik memainkan ponselnya saja sehingga membuat Bu Ari harus membujuknya lagi untuk segera meminum jus tersebut.
"Minumlah Ella, masa iya kamu tak menghargai jerih payah ibu yang sudah membuat kamu jus itu," bujuk rayu Bu Ira.
"Iya Bu, tenang saja. Nanti juga akan aku minum, biasanya aku meminumnya segelas itu barengan sama Mas Rangga. Aku sedang menunggunya pulang dulu," ucap Ella.
Di dalam hati Bu Ari, sangat kesal mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Ella. Akan tetapi ia malas untuk berdebat dengan, Ella. Ia pun masuk ke dalam rumah dan mengatakan hal ini kepada Sigit.
"Nak Sigit, bagaimana ini? Ibu sudah menjalankan perintahmu dengan membubuhkan obat tidur dalam jus yang ibu buat untuk Ella. Tetapi ia tidak mau langsung meminumnya dengan alasan ia sudah terbiasa joint meminum jusnya dengan bersama, Pak Rangga," ucap Bu Ari gelisah.
"Aduh .. kalau seperti ini usahaku bisa gagal. Jalan satu-satunya aku harus membeli obat bius dan membius Ella supaya dia tak sadarkan diri," batin Sigit.
"Yah...mau bagaimana lagi Bu. Biarkan sajalah seperti apa yang diinginkan oleh Ella. Nanti aku akan mencari cara lain saja yang lebih efektif," ucap Sigit kecewa.
"Tapi Ibu minta pada Nak Sigit, untuk tidak melakukan hal yang berbahaya ya pada, Ella," ucap Bu Ari.
"Astaga Bu Ari. Aku ini mencintai anak ibu setulus hatiku, walaupun ia telah menjadi istri papah. Aku ingin dia bisa menjadi istriku, mana mungkin aku akan melakukan hal yang membahayakan bagi Ella. Aku hanya ingin memisahkan Ella dari papah saja supaya aku bisa memilikinya sepenuh hati," ucap Sigit terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Ia pun berlalu pergi dari hadapan, Bu Ari.
Bu Ari pun terdiam saja, ia menjadi penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Sigit pada Ella.
"Sebenarnya, apa lagi yang akan di lakukan oleh Sigit pada Ella? semoga saja memang tidak membahayakan Ella untuk rencana barunya, Sigit," batin Bu Ari.
__ADS_1
Sementara di dalam kamarnya, ada rasa kecewa yang sangat mendalam karena usahanya gagal total.
"Kenapa segala rencana yang selalu aku lakukan untuk memisahkan Ella dari papah selalu saja gagal! astaga....apa memang aku sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bisa bersama Ella? apa memang Ella benar-benar telah berjodoh dengan, papah?"
Sigit terus saja memukul-mukulkan tinjunya di kasur. Ia begitu kesal dengan dirinya sendiri dan dengan Rangga yang hidupnya lebih beruntung dari dirinya.
"Papah itu sudah tua, tetapi kenapa selalu saja keberuntungan berpihak padanya? seharusnya aku yang masih muda yang mendapatkan keberuntungan ini, bukan Papah! aku merasa ini tak adil buahku!" gumamnya kesal.
Sementara di teras halaman, pada saat Ella bangkit berdiri akan menyambut kepulangan Rangga. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang berisi jus hingga jatuh dan pecah saat itu juga.
"Sayang, apa kamu tak apa-apa?" Rangga langsung berlari ke arah Ella, ia khawatir kaki Ella kejatuhan pecahan gelas tersebut.
"Mas, nggak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa kok. Gelasnya jatuh di lantai tidak mengenai kakiku sama sekali. Sebenarnya jus tadi itu dibuatkan oleh ibu untukku, tetapi aku sudah terbiasa kan jika minum jus di sore hari itu paling nikmat satu gelas berdua dengan Mas Rangga."
Ella bergelayut manja di lengan Rangga seraya terlebih dahulu ia menyalami suaminya tersebut dan satu tangannya membawakan tas kerja miliknya.
"Nanti kita buat lagi jusnya ya, sayang.
Biarkan nanti itu si bibi yang suruh membersihkannya, karena aku nggak ingin tanganmu terluka oleh pecahan beling gelas tersebut."
Rangga mengecup lembut pucuk rambut istrinya setelah itu membelainya dengan lembut dan merangkulnya melangkah masuk ke dalam rumah.
Tak lupa ia berteriak memanggil si bibi untuk membersihkan jus yang tertumpah di teras halaman.
Di dalam kamarnya, Rangga langsung membersihkan badannya. Karena Ella sudah menyiapkan air hangat di bathup untuk berendam Rangga.
__ADS_1
Sebelumnya, dengan penuh kelembutan Ella melepaskan pakaian kerja yang di kenakan oleh Rangga. Juga melepaskan sepatu dan kaos kaki yang menempel di kakinya.
"Sayang, seharusnya kamu tak usah melakukan semua ini padaku. Kamu sudah cukup lelah seharian ini, bukan?" ucap Rangga tak tega melihat istrinya bersimpuh untuk melepaskan sepatu dan kaos kakinya.