
"Tapi neng?" Jawab bik Jum ragu.
"Percaya sama Syalu bik, insya Allah Syalu siap menghadapi laki-laki itu." Imbuh Syalu sambil menatap bik Jum untuk meyakinkan wanita paruh baya tersebut.
Kini bik Jum hanya diam pasrah, dia tidak mungkin melawan Doni dan dia pun tidak mungkin mencegah Syalu, gadis yang berusia 18tahun tersebut berusaha meyakinkan wanita paruh baya yang ada di hadapan nya, walaupun hati nya sendiri merasa tak yakin melawan Doni.
"Aku iklas apa yang akan terjadi nanti, tapi setidak nya, aku sudah berusaha melawan dan menghentikan niat jahat laki-laki itu." Ucap Syalu dalam hati.
"Apa nona sudah siap?" tanya Parman kemudian.
Syalu hanya menjawab pertanyaan Parman dengan anggukan.
"Mari ikut saya nona!" lanjut Parman.
"Tunggu!!! Dimana den Doni?" Tanya bik Jum.
"Tuan ada di ruang kerja, sebentar lagi akan kekamar utam." Jawab Parman dingin.
"Antar kan saya pada den Doni!" bik Jum sengaja mengulur-ulur waktu.
Parman sedikit bingung dengan perintah bik Jum, karena tidak biasa nya bik Jum minta di antar hanya untuk menemui tuan nya.
"Kenapa diam? ada masalah dengan permintaan saya?" tanya bik Jum sedikit kesal.
Di tanya seperti itu tentu membuat Parman sedikit gelagapan.
"Oh...tentu...ti.. dak bik."Jawab Parman gugup.
" Lalu?"tanya bik Jum penuh selidik.
"Maafkan saya bik, bibik bisa langsung menemui tuan, saya hanya di tugaskan membawa nona Syalu kekamar utama." Ucap Parman.
"Sialan si Parman, kayak nya dia curiga dengan permintaan ku." Ucap bik Jum dalam hati.
"Mari nona!" ajak Parman ke Syalu.
"Baiklah." Kemudian Syalu mengekor di belakang Parman.
"Tunggu neng!" bik Jum mengehentikan Syalu.
Kemudian Syalu menoleh ke arah bik Jum, dengan cepat bik Jum memeluk Syalu dengan menitikan air mata.
"Neng jaga diri ya, bibik harap tidak terjadi apa-apa dengan neng." Ucap bik Jum dengan sedih.
__ADS_1
"Terima kasih bik karena sudah menghawatirkan Syalu, semoga ada keajaiban untuk Syalu malam ini." Jawab Syalu pasrah.
"Mari nona, tuan sudah menunggu!" Tiba-tiba Parman menyela pembicaraan Syalu dan bik Jum.
Kemudian Parman dan Syalu keluar kamar dan menuju kamar utama. Sedangkan bik Jum hanya diam terpaku melihat Syalu pergi kearah kamar utama.
"Ya Tuhan semoga engkau selalu senantiasa melindungi gadis itu, jangan biarkan den Doni melakukan hal buruk pada diri nya." Doa bik Jum dalam hati.
Kini Parman dan Syalu telah tiba di depan pintu kamar utama, kemudian dengan cepat Parman mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Hanya suara itu yang terdengar dari dalam kamar, mendengar suara Doni, hati Syalu mulai bergetar, Tiba-tiba saja nyalinya kembali ciut, rasa ragu mulai menghantui perasaan nya. Keringat nya mulai mengucur dari dahi nya, tangan dan tubuh nya terasa panas dingin.
Kemudian Parman memegang handle pintu dan membuka nya.
"Silah kan nona!" perintah Parman kepada Syalu untuk segera masuk.
Ragu-ragu Syalu melangkahkan kaki kedalam kamar, terlihat laki-laki yang sedang menunggu diri nya sedang berdiri di dekat jendela dengan pandangan menatap lurus ke arah luar jendela.
"Ada perintah lagi tuan?" tanya Parman kepada majikan nya.
"Ajak bik Jum menemui keluarga nya di kampung, bilang ke dia saya memberinya cuti dua minggu!" Perintah Doni.
Parman nampak bingung dengan perintah bos nya, karena selama ini dia tidak pernah mengizinkan bik Jum pulang kampung, jika memang bik Jum merindukan keluarga nya, maka keluarga nya lah yang di bawa ke Bandung untuk menemui bik Jum.
"Kenapa bisa dua minggu, biasa nya juga izin Satu hari aja nggak di kasih." Batin Parman.
"Apa kau tidak mendengar perintah ku Parman!!!" seketika suara Doni menggelegar di dalam kamar utama.
"Ma...aaf tuan, saya hanya berfikir apa bik Jum mau pergi selama itu." Jawab Parman gugup.
Prank
Tiba-tiba suara benda di lempar dan pecah berserakan di lantai kamar, Doni begitu kesal dengan pertanyaan Parman, melihat Doni begitu murka tentu membuat sang bodyguard dan Syalu gemetar ketakutan.
"Kamu mau mati... ha?" kerjakan saja perintah ku atau ku pecahkan kepala mu dengan senjata ku ini."Bentak Doni sambil mengeluarkan senjata dari balik pinggang nya.
__ADS_1
"Ma...af... tuan, saya tidak bermaksud." Parman hanya menunduk kan kepalanya.
"Cepat pergi!!! Kau sudah membuang waktu dan tenaga ku Parman." Hardik Doni.
"Baik tuan." Patuh Parman.
Ketika Parman hendak memutar badan tiba-tiba langkah nya terhenti.
"Tunggu!!" Doni menghentikan Langkah Parman.
"Ya Tuan." Jawab Parman.
"Matilah aku, Jangan-jangan tuan Doni mau bunuh aku disini gara-gara pertanyaan tadi." Gumam Parman dalam hati.
"Kemari!!" Perintah Doni.
Tanpa aba-aba Parman langsung berlutut dan memeluk kaki sang majikan, dia menangis meraung-raung meminta ampun agar tidak di tembak kepalanya oleh sang majikan.
Melihat hal itu tentu saja Syalu terkejut dan menggeleng kan kepalanya. Sedangkan Doni nampak kebingungan dengan sikap bodyguard nya, Dia memanggil Parman hanya untuk memberi nya perintah lagi, tapi yang terjadi di luar dugaan nya.
"Astaga...ini om-om badan nya gede, kumis tebal kepala botak, ngeliat badan nya nggak salah, ngeliat muka serem eh nggak tau nya hatinya hello kitty." Ucap Syalu dalam hati sambil tersenyum.
"Parman...apa yang kamu lakukan ha?" bentak Doni.
"Ampun tuan...ampun... Hu hu..." Parman masih asik dengan tangis nya.
Seketika Doni baru menyadari kenapa Parman seperti itu, dia tak habis fikir dengan pemikiran bodyguard nya itu.
"Cepat bangun!! atau akan benar-benar ku tembak kepala mu...!!"bentak Doni.
Mendengar perintah bos nya, Parman mendongak kan kepala nya ke atas kemudian berdiri sejajar dengan majikan nya itu.
" Ha? Jadi tuan bukan mau menembak kepala saya ya?"tanya Parman kemudian.
"Makan nya orang ngomong itu di dengar dulu, malu-maluin seragam bodyguard mu saja." ketus Doni.
Parman hanya cengar-cengir mendengar perkataan Doni, kemudian pandang nya beralih ke Syalu, hatinya merasa kikuk ketika melihat Syalu tersenyum seperti mengejek. Apa mau di kata ini memang salah nya, tanpa mendetengarkan perintah tuan nya dia langsung ambil kesimpulan begitu saja.
"Jadi apa perintah untuk saya lagi tuan?" tanya Parman serius.
"Hapus dulu sisa air mata di wajah mu itu, saya tidak suka ngomong sama laki-laki tapi nyata nya cengeng gini." Lanjut Doni.
"He... he..." Kemudian Parman menghapus sisa air matanya dengan perasaan sedikit malu karena dari tadi dia melihat Syalu selalu melirik dirinya dengan tersenyum.
__ADS_1