DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 63. BERSALAH


__ADS_3

Satu Jam sudah berlalu Bintang memberikan Tausiyah, namun ada sepasang mata yang tengah memperhatikan Syalu yang tengah mendengar kan Tausyiah yang di berikan oleh Bintang. Kebetulan posisi duduk jama'ah laki-laki dan perempuan di pisah berseberangan, namun Syalu bertingkah seolah-olah tidak tahu karena dia takut penyamaran nya akan di ketahui orang terutama kedua orang tua nya.


"Kenapa aku seperti mengenal gadis bercadar itu?" Batin Delon.


"Kak, kayaknya papa nya kakak lagi lihatin kakak deh." Ucap Syfa.


"Iya kakak tahu, makanya kakak pura-pura nggak tahu." Jawab Syalu setengah berbisik.


"Papa kenapa sih ngeliatin kearah sini terus? apa iya papa merasa terpesona gara-gara mama memakai hijab?" Ucap Rosa penuh dengan percaya diri.


Kebetulan posisi duduk bu Rosa ada di belakang Syalu, Syalu pun tidak menyadari kalau yang di belakang nya adalah bu Rosa ibu kandung nya sendiri, setelah mendengar celetukan seseorang yang ada di belakang nya, barulah Syalu menyadari kalau di belakang nya adalah ibu nya sendiri.


"Astaghfirullah...Syfa...dibelakang aku ada mama." Ucap Syalu setengah berbisik dan panik.


Kemudian Syfa menoleh kebelakang dan segera menghadap kedepan lagi.


"Oh...iya kak benar di belakang ada mama kakak." Ucap Syfa yakin.


Sedangkan Delon yang berada di hadapan mereka masih memperhatikan Syalu dengan seksama.


"Mata itu mengingat kan aku dengan seseorang, tapi siapa ya?" Lagi-lagi Delon berfikir keras untuk mengingat-ingat sesuatu.


Tepat pukul memasuki jam Ashar Tausyiah yang di berikan oleh Bintang pun telah selesai, kini tiba saat nya mereka melakukan shalat ashar secara bersama dan tentunya di imami oleh Bintang, Bintang sendiri pun merasa tidak enak karena merasa lebih muda untuk menjadi imam, tadi nya dia meminta abah Sudin untuk menggantikan nya, namun di tolak oleh abah Sudin karena banyak warga kampung menginginkan diri nya jadi imam ketika Shalat Ashar.


Setelah melaksanakan Shalat secara bersama kini tiba saatnya mereka berpamitan untuk pulang ke penginapan karena ingin beristirahat, namun di cegah oleh Abah Sudin karena ada Undangan makan malam di rumah nya, Bintang dan yang lain pun tidak dapat menolak karena merasa tidak enak hati dengan abah Sudin.


Sedangkan Delon masih saja memperhatikan gerak gerik wanita bercadar yang ada di hadapan nya, Syalu nampak gelisah karena takut kalau papa nya menyadari bahwa itu diri nya. Untuk menghilangkan rasa penasaran nya Delon berjalan mendekati Abah Sudin dan ingin bertanya langsung pada Abah Sudin, karena yang Delon perhatikan nampaknya Ustadz Bintang dan yang lain nya begitu dekat dengan Abah Sudin.


"Assalamu'alaikum?" Ucap Delon memberikan salam ketika sudah berada di dekat Abah Sudin.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak, karena memang kebetulan Bintang dan yang lain nya masih di dekat Abah Sudin.


"Iya Pak Delon, ada yang bisa saya bantu?" Jawab Abah Sudin.


"Bisa kita bicara sebentar bah, ada yang ingin saya tanyakan."Ucap Delon.


"Baiklah pak, tunggu sebentar ya!" Jawab Abah Sudin.


"Bintang dan teman nya kalau mau pulang dulu dan istirahat nggak apa-apa, tapi jangan lupa nanti kesini lagi ya ketempat Abah habis ba'da Isya kita makan malam di rumah Abah." Ucap Abah Sudin pada Bintang dan teman-temannya.

__ADS_1


"Baiklah bah, insya Allah kami akan akan memenuhi undangan Abah untuk makan malam." Jawab Bintang yang kemudian dapat anggukan dari yang lainnya sebagai persetujuan untuk ikut dalam undangan tersebut.


Sedangkan Syalu nampak heran, apa yang sebenarnya ingin di bicara kan papa nya pada Abah Sudin.


"Papa mau bicara apa ya sama Abah Sudin?apa iya papa udah tau keberadaan ku?" ucap Syalu dalam hati.


"Ustadz kalian duluan aja ya ke parkiran, soalnya saya mau ke toilet dulu." Ucap Syalu.


"Syfa temenin ya kak." Ucap Syfa.


"Hum." hanya itu yang keluar dari bibir Syalu.


"Ya udah kalau gitu kami tunggu di parkiran ya, kalian hati-hati." Ucap Bintang.


Kemudian Syalu dan Syfa berlalu pergi dari hadapan Bintang dan yang lain nya, sedangkan Bintang, Julian dan Furqon pergi menuju parkiran.


"Loh kak, kok kita jalan arah sini? bukan nya toilet disana?" tanya Syfa yang nampak kebingungan, karena memang langkah yang di ambil Syalu bukan menuju toilet melainkan menuju dimana ada pak Delon dan Abah Sudin.


"Ssssttt...jangan berisik, kakak mau dengar apa yang ingin di bicarakan papa sama Abah Sudin." Ucap Syalu memberi isyarat.


"Tapi ini nggak baik kak, kita nggak boleh menguping pembicaraan orang lain."Ucap Syfa mengingat kan.


"Iya kakak tau, tapi kakak penasaran, kakak takut kalau papa curiga sama kakak." Jelas Syalu.


"Ya udah, kamu ke parkiran aja nanti kakak nyusul." Ucap Syalu.


"Nggak mau, Syfa nggak mau tinggalin kakak sendirian disini."Bantah Syfa.


Dari balik pintu samping masjid nampak pak Delon dan Abah Sudin sedang tengah bercakap-cakap, dengan hati-hati Syalu dan Syfa mendekati pintu tersebut.


"Jadi apa yang ingin bapak tanyakan pada Saya."Tanya Abah Sudin.


"Gini bah, dari tadi aku memperhatikan dua wanita yang memakai cadar yang posisi nya duduk di hadapan saya pas acara Tausyiah tadi." Ucap Delon memulai pembicaraan nya.


Mendengar wanita bercadar nampak Abah Sudin sedang memikirkan sesuatu seolah-olah mengingat sesuatu.


"Itu loh bah, tadi aku lihat mereka datang bersama dengan ustadz Bintang." Jelas Delon.


Seketika Abah Sudin langsung mengingat nya.

__ADS_1


"Oh...itu...yang satu adiknya Ustadz Bintang, dan yang satunya calon istri nya."Jawab Abah Sudin.


"Calon Istrinya? yang mana?" Tanya Delon penasaran.


"Kalau nggak salah tadi memakai Syar'i berwarna maroon, itu loh pak yang bola matanya agak kebiru-biruan." Jelas abay Sudin detail.


Deg


Deg


Pak Delon nampak terkejut mendengar penjelasan Abah Sudin.


"Bukan kan perempuan yang aku perhatikan itu memang memakai baju Syar'i maroon?" Ucap Delon dalam hati.


"Apa Abah tau nama nya?" tanya Delon lagi.


"Kalau nggak salah namanya Sya, ya benar tadi adik nya ustadz Bintang mengebut nama perempuan itu kak Sya." Jelas pak Sudin nampak mengingat-ingat.


Deg


Deg


Degup jantung pak Delon semakin tidak karuan mendengar nama Sya.


"Apakah itu mungkin itu Syalu? kenapa mata dan fostur tubuh nya mirip sekali dengan anak ku." Ucap Delon dalam hati.


"Pak Delon, ada apa sebenarnya? kenapa bapak nampak gelisah? dan kenapa bapak menanyakan calon istri ustadz Bintang?" tanya Abah Sudin pada Delon.


"Abah..entah kenapa jika melihat mata itu aku merasa melihat anak ku sendiri, Syalu."Ucap Delon dengan wajah murung.


Deg


Deg


Deg


Mendengar kata-kata papa nya tentu membuat Syalu terkejut bukan main, ternyata dugaan nya benar kalau papanya sudah menyadari kalau itu diri nya, Syfa pun tak kalah terkejut nya mendengar penuturan dari orang tua Syalu, ternyata apa yang di katakan Syalu benar.


"Loh...pak, bukan nya Syalu sudah menikah? bukan nya dia berada di rumah suaminya?" tanya Abah Sudin.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Abah Sudin tentu membuat Delon menjadi bingung, dia bingung harus memulai dari mana mengenai cerita tentang putri nya yang tragis akibat keserakahan istri dan ketidak berdayaan diri nya.


Dia merasa sangat bersalah dan berdosa karena tidak dapat melindungi putri semata wayangnya, hanya penyesalan yang sedang menyelimuti hidup nya saat ini.


__ADS_2