
Di kediaman Darto nampak Rico tengah menunggu Mar sang mama tengah bersiap-siap, rasanya sudah tidak sabar ingin segera pergi, beberapa kali Rico nampak menoleh ke arah kamar sang mama namun wanita paruh baya tersebut masih juga belum muncul.
"Sial...mama kemana sih? di tungguin hampir satu jam nggak muncul-muncul dari tadi." Rutuk Rico.
Sementara di kamar Mar masih berupaya meyakinkan suaminya untuk datang ke kediaman Delon meminta suaminya untuk meyakinkan keluarga besannya untuk membatalkan gugatan cerai Syalu terhadap Rico.
"Ayo dong pa...masa cuma mama dan Rico saja yang pergi kesana, papa kan bisa meyakinkan pak Delon untuk membatalkan gugatan tersebut." Bujuk Mar pada suaminya.
"Kalau mama mau kesana silahkan, papa nggak akan mau lagi mengemis pada keluarga pak Delon, papa sudah tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan nya." tolak Darto pada istrinya.
"Bener-bener ya si papa...nggak ada sayang-sayang nya sama anak." ucap Mar dengan geram.
"Apa mama bilang? papa nggak sayang sama anak? kurang apa ma papa selama ini jadi kepala keluarga ha? kurang apa papa dengan Rico? semua kebutuhan dan keinginan nya selalu papa turuti, termasuk menikah dengan putri pak Delon, tapi memang dasar Rico nya saja yang kurang ajar, tidak pernah bersyukur dengan apa yang dia miliki." Ucap Darto meledak-ledak.
Entah kenapa jika mengingat kebodohan sang putra darah nya kembali mendidih, karena ulah sang putra dia di anggap seorang ayah yang tidak pernah mendidik anak nya dengan baik sehingga memiliki prilaku yang sangat memalukan. Melihat sang suami masih tak bergeming Mar pun langsung keluar kamar sambil merutuk, tak lupa dia menutup pintu kamar dengan membanting sangat keras.
Brak
"Astaghfirullah...ma...!!!" pekik pak Darto, dia begitu terkejut dengan sikap istrinya, sambil mengelus dada nya pak Darto bergumam.
"Jangan sampai kasih sayang mu yang terlalu besar membuat mu menjadi buta ma..." lirih pak Darto.
Sedangkan dari luar nampak Rico terkejut mendengar suara pintu di banting dengan keras, mata nya menangkap sosok sang ibu dengan raut wajah yang tengah merah padam menahan amarah.
"Ma...ada apa sih? kok Rico dengar ada suara pintu di banting?" ucap Rico dengan heran.
Mar langsung duduk di sofa di dekat Rico dan kursi roda nya berada, dengan wajah yang masih merah padam Mar pun mulai bercerita pada sang putra. Kini Rico memahami hal apa yang telah membuat sang ibu marah besar.
"Papa sekarang benar-benar berubah ma, papa udah nggak sayang lagi sama Rico." ucap Rico dengan ekspresi sedih.
"Tidak nak...papa sayang kok sama Rico, hanya saja papa mi sedikit terpengaruh dengan masalah ini, kamu yang sabar ya!" ucap Mar seraya memeluk Rico.
__ADS_1
"Jadi gimana ma? apa kita jadi kerumah mertua Rico?" tanya Rico sambil melerai pelukan nya dengan sang mama.
"Apa Rico mau nya hari ini hum?atau sebaiknya kita tunggu sampai papa mau nemenin kita kesana?" ucap Mar sedikit ragu, kali ini Mar kerasa tak yakin jika pergi tanpa suaminya.
"Ma...kalau mau nungguin papa berubah fikiran nya pasti lama dong, keburu perceraian nya terjadi, dan Rico nggak mau itu terjadi." ucap Rico dengan nada merengek seperti anak kecil.
"Oke baiklah kita pergi kesana sekarang." ucap Mar sambil meraih tas tangan nya.
Kemudian ibu dan anak tersebut pergi menuju kediaman pak Delon, dengan di bantu supir Rico menaiki kendaraan roda empat nya, sedangkan di balik jendela kaca kamar nampak laki-laki paruh baya tersebut tengah melihat kepergian sang istri dan anak nya.
"Uft...kalian benar-benar keras kepala, entah dengan cara apa lagi aku harus menyadarkan kalian, aku yakin Rico dan Mar akan membuat masalah baru lagi disana." ucap Darto sambil menghembuskan nafas kasarnya.
Tidak sampai satu jam kini mobil yang membawa Rico dan Mar telah sampai di kediaman pak Delon, sedangkan Pak Delon dan yang lain nya baru saja menyelesaikan sarapan nya dan sekarang tengah duduk di ruang tamu, diluar rumah nampak Rico tengah membenahi baju nya dan juga rambut nya, entah kenapa kali ini dia merasa gugup untuk bertemu sang mertua.
"Ma...apa kah aku sudah rapi? apa aku terlihat tampan?" ucap Rico.
"Seratus persen oke sayang, kamu selalu tampan di mata mama." ucapar sambil mengacung kan jempol.
"Ih...si mama, kalau di mata mama doang mah berarti Rico kurang ganteng." cebik Rico.
"Oke ma...tapi bantuin dong ma dorong kursi roda nya, soal nya Rico nggak bisa sendiri." ucap Rico.
"Iya sayang... " Kemudian Mar mendorong kursi roda nya menuju pintu utama kediaman pak Delon.
Di dalam rumah nampak Bintang tengah memeriksa isi dalam tasnya takut kalau ada yang tertinggal.
"Apa kalian yakin akan pulang hari ini nak Syfa?" tanya Delon pada Syfa.
"Hum... soalnya sudah satu minggu Syfa nggak ikut belajar, takut nya banyak ketinggalan pelajaran." ucap Syfa sambil mengangguk.
"Kalian sering-sering kesini ya! tengokin Syalu." Ucap Delon sambil menatap wajah Syalu yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Insya Allah pak, jika memang ada kesempatan kami akan kesini lagi, bapak juga dan keluarga kapan-kapan main ke pesantren ya." ucap Bintang sambil melirik Syalu yang masih terlihat murung.
Saat mereka masih asik mengobrol tiba-tiba pintu rumah di ketuk seseorang dari luar sambil mengucapkan salam.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum?" ucap Mar dari luar rumah.
Nampak semua orang yang ada di dalam rumah keheranan,pasalnya ini masih sangat pagi jika memang ada orang yang ingin bertamu.
"Bener-bener ya...manusia nggak ada akhlak, pagi-pagi gini udah bertamu ke rumah orang, atau jangan-jangan itu pengemis lagi yang datang kesini mau minta sumbangan." Rutuk Rosa dengan ekspresi tidak suka.
Mendengar celetukan Rosa sontak semua orang beristighfar, terlebih Delon yang merasakan sangat malu karena sikap sang istri.
"Astaghfirullah."ucap semua orang.
"Cukup ma...kenapa sih pagi-pagi udah bikin naik darah orang?"Bentak Delon.
"Ih...sih papa kok mama di bentak? salah mama apa coba? benar kan apa yang mama bilang?" jawab Rosa santai.
"Udah dong ma...jangan berantem terus, nggak enak sama Syfa dan ustadz Bintang." ucap Syalu pada Rosa.
"Yang kamu tegur itu papa kamu Syalu, jangan cuma mama saja yang selalu kamu salahkan." Sungut Rosa.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Lagi-lagi suara pintu di ketuk sehingga membuat orang jadi fokus memperhatikan pintu utama, ada rasa penasaran yang menyelimuti hati Delon, siapa sebenarnya orang yang telah bertamu pagi-pagi seperti ini di rumahnya, sedangkan selama ini tidak pernah ada yang datang sepagi ini kerumah mereka.