
Kini Syalu dan Gendis sudah berada di ruangan ustadz Bintang, Syalu hanya menundukan kepala nya karena merasa tidak enak dengan ustadz Bintang walaupun itu bukan kesalahan dirinya.
Sedangkan Gendis tak sedikitpun matanya berkedip memandang Bintang yang tengah sibuk menyiapkan buku catatan bagi santrinya yang bermasalah. Melihat hal itu tentu Julian tak tinggal diam, dengan cepat dia menegur Gendis.
"Jaga pandangan mu Gendis!!!"Ucap ustadz Julian.
"Iya Ustadz."Ucap Gendis kemudian menundukkan kepalanya.
Kemudian Bintang membuka suara nya dan menanyai satu persatu apa permasalahannya sehingga Gendis menyiramkan air di kepala Syalu.
"Jadi apa Gendis alasan mu melakukan itu ke Syalu."tanya Bintang tenang.
"Nggak ada ustadz, saya hanya nggak suka aja sama dia." Jawab Gendis sambil menunjuk kearah Syalu.
Sedangkan Syalu nampak kebingungan kenapa Gendis begitu tidak menyukai nya, sedu mereka baru bertemu hari ini.
"Astaghfirullah."Ucap Bintang dan Julian bersamaan.
"Alsan nggak suka itu apa Gendis?kamu nggak bisa asal nggak suka sama orang tanpa sebab." Ucap Julian.
"Bisa saja ustadz, buktinya ustadz Bintang juga gitu." Jawab Gendis acuh.
"Maksud kamu?" tanya Bintang tak mengerti.
"Ustadz tau kan saya dari dulu suka sama ustadz, tapi kenapa ustadz tidak suka sama saya?apa alasan ustadz tidak menyukai saya?" Ucap Gendis jujur.
Deg
Deg
Kali ini kata-kata Gendis membuat kedua ustadz tersebut terdiam, nampak Bintang bingung menjelaskan alasan mengapa dia tidak menyukai Gendis. Melihat kedua ustadz itu kebingungan tanpa di duga Syalu membuka suara nya.
"Kalau menurut aku sih mudah saja jawaban nya, itu berarti ustadz Bintang tidak ada rasa alias tidak mencintai kamu, bukan kah cinta itu tidak di paksakan." Jawab Syalu asal ceplos.
"Diam kamu!!!gua nggak butuh pendapat loe!!!" Hardik Gendis.
"Saya rasa apa yang di ucapkan Syalu memang benar, Gendis...kamu itu murid saya, kamu disini untuk belajar, bukan untuk mengurusi hal-hal yang dapat merugikan diri kamu sendiri." Nasehat Bintang.
"Loh apa yang saya rugikan ustadz, kalau memang takdir saya berjodoh dengan ustadz berarti alhamdulillah kan?"Jawab Gendis asal.
"Itu kakak percaya takdir, kenapa kakak harus memaksakan diri."Ucap Syalu nyeplos.
Seketika tatapan Gendis langsung melotot kearah Syalu seakan-akan matanya ingin melompat keluar.
"Kamu itu cuma orang baru disini, jadi nggak usah sok tau ya." Ucap Gendis kesal
"Maaf kak, bukan nya Syalu mau ikut campur atau sok menceramahi, tapi disini kita untuk belajar dan memperbaiki akhlak kita, bukan malah sebaliknya." Lagi-lagi ucapan Syalu membuat Gendis naik darah.
__ADS_1
"Hey..." Baru saja Gendis ingin buka suara Bintang sudah menghentikan nya.
"Cukup Gendis!!! sekarang kembali ke pokok permasalahan, pada intinya ini tidak ada sangkut pautnya dengan perasaan kamu, dan tolong jaga sikap kamu di pesantren ini." Ucap Bintang tegas.
"Ya ampun...si Gendis ini ya...benar-benar cewek bar-bar, kelakuan nya nggak pernah di rem, gimana laki-laki mau suka sama dia." Rutuk Julian dalam hati.
"Iya ustadz, maafkan saya." Ucap Gendis mengalah.
Kini pandangan Julian mulai fokus ke arah Syalu, dia baru menyadari ternyata dengan jarak dekat ternyata dia jauh lebih cantik.
"Masya Allah, sungguh indah sekali ciptaan mu ini ya rabb."Ucap Julian dalam hati.
Menyadari akan hal yang di lakukan oleh sahabat nya Bintang pun segera memberikan isyarat pada Julian agar tidak terlarut dalam pandangan nya, karena akan menimbulkan dosa baginya.
" Ehem..."Bintang berdehem, seketika membuyarkan pandangan Julian pada Syalu.
"Baiklah Gendis untuk masalah ini kamu akan Ustadz hukum."Ucap Bintang kemudian.
"Apa? hukuman ustadz?" Ucap Gendis terkejut.
"Iya hukuman nya adalah kamu harus menghafal kan surat-surat ini."kemudian Bintang menyodorkan selembar kertas yang berisi beberapa ayat yang harus di hafal oleh Gendis.
"Astaghfirullah...ustadz ini banyak sekali."Protes Gendis.
"Kalau kamu tidak mau ustadz ada hukuman lain." Ucap Bintang memberi pilihan.
"Hukuman nya adalah membersihkan seluruh toilet dan kamar mandi yang ada di pondok pesantren ini." Ucap Bintang kemudian.
"Apa? Ya ampun ustadz masa saya di suruh bersihin toilet, apa kata dunia seorang Gendis membersihkan seluruh toilet disini." Ucap Gendis dengan sombong.
"Dasar lebay." Rutuk Syalu dalam hati.
Sedangkan Bintang dan Julian hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Gendis.
Akhirnya Gendis memilih menghafal seluruh ayat yang di berikan oleh Bintang, sedang kan Syalu tidak mendapatkan hukuman karena sesungguhnya dia tidak bersalah.
Sudah pukul empat sore, waktu nya untuk seluruh santri pulang ke kamar dan beristirahat sebelum melakukan sholat magrib, tetapi tidak untuk Syalu dia pulang bersama Syfa, sedangkan Bintang masih di pondok karena masih ada urusan.
"Ustadz Bintang, tadi aku melihat cewek cantik itu pulang bersama Syfa kearah rumah mu, apa kau mengenal nya?" tanya Julian penasaran.
"Hem."Jawab Bintang singkat.
"Apa? jadi kau mengenal nya?"tanya Julian dengan nada memekik.
"Astaghfirullah ustadz Julian, kecilkan suara mu!!!"Ucap Bintang sambil memberikan isyarat pada Julian.
" Oh iya...maaf, aku lupa."Ucap Julian Cengar-cengir.
__ADS_1
"Iya aku mengenal nya, emangnya kenapa?"tanya Bintang.
" Apa dia saudara jauhmu? atau sepupu mu?"tanya Julian lagi.
"Ustadz Julian, kita ini tumbuh dari kecil sampai sekarang secara bersamaan kan?" tanya Bintang.
"Hem...lalu? apa hubungan nya dengan pertanyaan ku?" tanya Julian tak mengerti.
"Tentu ada, otomatis kau sudah tau siapa keluarga, sanak kerabat kiyai Somad alias Abah ku." ucap Bintang.
"Kau benar, aku mengetahui semua nya, lalu siapa Syalu itu? nggak mungkin kan Bidadari kesasar dari surga?"ucap Julian sedikit bercanda.
Tentunya hal itu membuat Bintang jadi terkikik geli.
"Is kau ini lebay, mana ada Bidadari kesasar dari surga." Ucap Bintang sambil tertawa.
Seketika tawa Julian pecah, dia sendiri merasa lucu karena bisa mengatakan hal-hal lebay seperti itu
"Kau benar Bintang, kenapa aku jadi aneh setelah bertemu dengan Syalu, apa mungkin aku jatuh cinta pada nya?" Ucap Julian spontan.
Deg
Deg
Deg
Tiba-tiba hati Bintang merasa tidak enak ketika Julian mengatakan hal tersebut, entah kenapa Bintang seolah-olah tidak rela ada orang lain yang menyukai Syalu.
"Jangan lebay, masa baru ketemu satu kali langsung jatuh cinta." Ucap Bintang dengan nada, dingin.
"Hey...jangan salah, cinta bisa terjadi pada pandangan pertama loh, kamu ingatkan beberapa waktu lalu kamu pernah cerita tentan gadis yang kamu tolong, terus sekarang berada di rumah, nah kamu pernah merasakan sesuatu kan?" Ucap Julian panjang lebar.
"Hem." Jawab Bintang singkat.
"Dan waktu itu aku bilang ke kamu, kalau kamu bisa jadi sedang jatuh cinta, karena salah satu tanda nya ada di setiap kamu dekat dengan gadis itu, tapi sayang nya gadis itu sudah menikah kan? dan aku meminta pada mu untuk jaga jarak pada nya dan..." Seketika kata-kata Julian terhenti dan seperti mengingat sesuatu.
"Ada apa? kenapa tidak di lanjutkan kata-kata mu."ucap Bintang.
"Astaghfirullah...Bintang, apa Syalu itu gadis yang kamu maksud waktu itu?" tanya Julian dengan ekspresi terkejut.
"Ya...kamu betul, dialah orang nya, seperti nya kamu mengalami hal yang sama seperti diriku, jatuh cinta pada istri orang."Ledek Bintang.
"Is kau ini, menyebalkan."Rutuk Julian.
Kini wajah Julian berubah menjadi wajah kecewa, tidak seperti sebelum nya dia kelihatan antusias ketika membahas soal Syalu, kini harapan nya pupus, tidak mungkin dia melanjutkan cinta nya pada istri orang.
Beda hal dengan Bintang, dia nampak belum bisa melupakan Syalu, entah kenapa setiap berdekatan dengan Syalu jantung nya selalu berdebar kencang walaupun perasaan nya tidak menginginkan tapi tidak untuk dengan hati nya, entah kenapa walaupun hanya sekilas melihat wajah polos Syalu hati nya pun sudah bahagia.
__ADS_1