DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 66. CERAIKAN SYALU


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Abah Sudin pak Delon Pamit undur diri karena ingin langsung pergi kerumah sakit.


"Abah...maaf, seperti nya saya harus segera pergi kerumah sakit." Ucap Delon.


"Tunggu pak, kalau memang bapak mau pergi sekarang saya ikut."Ucap Abah Sudin.


"Baiklah bah...mari ikut aku kerumah terlebih dahulu karena kita akan mengambil kendaraan."Ucap Delon.


"Baik pak."Kemudian mereka berdua pergi menuju rumah Delon untuk mengambil mobil dan segera pergi kerumah sakit.


Sedangkan di penginapan Bintang nampak tengah kebingungan dengan sikap dingin Syalu secara tiba-tiba.


"Julian...apa yang terjadi? kenapa Syalu begitu sedih?" tanya Bintang ketika sudah di kamar.


"Ini ada kaitannya dengan orang tua Syalu." Jawab Julian.


"Ada apa? apa yang terjadi dengan orang tua Syalu? apa mereka mengetahui Syalu bersama kita?" Ucap Bintang dengan berbagai pertanyaan.


"Bukan itu, hanya saja orang tua Syalu sudah mengetahui apa yang tengah menimpa putri mereka." Ucap Julian kemudian menceritakan asal mula Syalu mengetahui semua nya.


"Apa? jadi papa nya Syalu udah tau semua perbuatan menantu nya ke Syalu?" tanya Bintang terkejut.


"Hum." Julian mengangguk.


"Terus? bagaimana reaksi orang tua Syalu?" Tanya Bintang lagi.


"Ya yang aku dengar dari Syfa, papa nya Syalu ingin anak nya kembali karena mereka ingin menebus semua dosa-dosa nya pada Syalu.


"Masya Allah...mungkin itulah yang membuat Syalu sedih dan dilema."Ucap Bintang.


"Oh ya ada satu lagi yang aku dengar, kata nya suami Syalu masuk rumah sakit dan habis di operasi."Ucap Julian lagi.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un...apa yang terjadi?"Ucap Bintang sedikit terkejut mendengar kabar dari Julian.


"Entahlah...yang aku dengar seperti itu dari Syfa, penyebab dia masuk rumah sakit aku juga tidak tahu." Jawab Julian.

__ADS_1


"Baiklah...nanti kita akan cari tahu hal itu nanti, sekarang kita temui Syalu dan ajak dia berbicara, kita tidak mungkin membiarkan hal ini berlarut-larut, kasihan dia." Ucap Bintang.


"Kau benar kawan, itulah yang aku fikirkan dari tadi." Ucap Julian.


"Ini sudah pukul lima lewat tiga puluh menit, sedangkan kita mendapatkan undangan makan malam di tempat Abah Sudin pukul delapan malam, kita tidak mungkin kan pergi kesana dalam keadaan mbak Syalu seperti ini?" Ucap Furqon tiba-tiba yang kemudian mendapat dukungan dari Julian.


"Ya kau benar! kita tidak mungkin kesana UB, kau lihat sendiri kan bagaimana sedihnya Syalu tadi?" Ucap Julian pada Bintang.


"Baiklah aku akan coba menelpon abah Sudin untuk membatalkan undangan malam ini." Ucap Bintang yang kemudian mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celana nya.


Sedangkan Abah Sudin, Delon dan Rosa telah tiba di rumah sakit dimana Rico di rawat.


"Pa...kita keruangan apa? sudah di tanya belum sama besan kita?" Ucap Rosa yang tiba-tiba mendapat tatapan tajam dari sang suami.


"Ada apa? kenapa papa melihat mama seperti itu? apa ada yang salah dengan pertnyaan mama?" Ucap Rosa yang masih tidak mengerti dengan tatapan tajam sang suami.


"Pertanyaan mama memang tidak salah, tapi papa tidak suka dengan kata-kata mama yang mengatakan besan pada mereka." Ucap Delon sengit.


"Loh...papa ini gimana sih, mereka kan memang besan kita." Ucap Rosa merasa benar.


Abah Sudin hanya diam mendengar kan perdebatan antara suami dan istri itu, dia bingung harus bicara apa, antara satu sama lain tidak ada yang mau mengalah.


"Papa jangan lupa, Syalu sekarang ini masih menantu mereka dan itu artinya kita masih besanan sama mereka." Ucap Rosa lagi.


"Itu sekarang ma dan setelah ini papa akan minta Rico menceraikan Syalu dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatan nya di kantor polisi."Ucap Delon dengan murka.


"Apa? cerai? papa udah gila ya, Rico itu menantu kita, kenapa papa tega menyuruh dia menceraikan Syalu, apa lagi itu yang papa bilang ingin melaporkan nya ke kantor polisi,papa tega ya."Jawab Rosa yang terang-terangan masih membela Rico.


"Oh...jadi mama masih menginginkan laki-laki keparat itu jadi menantu mama,jadi mama sedikit pun tidak ada prihatin dengan kondisi Syalu? mama lebih mengkhawatirkan laki-laki bajingan itu ha?" Hardik Delon.


Melihat situasi yang memulai memanas akhirnya Abah Sudin angkat bicara, karena dia tidak ingin suami istri tersebut terus-terusan berdebat.


"Maaf Pak Delon dan bu Rosa, kita kesini mau melihat Rico, kenapa kita malah membuat keributan disini." Ucap Abah Sudin tenang.


"Hey...situ Siapa?berani-berani nya atur-atur kita, situ cuma orang luar yang sok-sok" an perduli dengan masalah kita."Ucap Rosa tidak sopan.

__ADS_1


"Mama...jaga bicara mu!!!jangan bertindak kurang ajar dengan beliau." Hardik Delon.


"Maaf Bu kalau saya sudah ikut campur, saya tidak ada maksud ingin mengatur siapa pun, saya cuma ingin mengingat kan saja." Ucap Abah Sudin dengan sabar.


"Tidak bah, justru saya berterima kasih karena sudah di ingatkan, saya jadi lupa dengan tujuan saya kesini karena berdebat dengan istri saya."Ucap Delon.


"Iya baiklah pak tidak apa-apa, mending sekarang bapak hubungi pak Darto dan tanya kan ada di ruangan mana mereka." Ucap Abah Sudin.


"Baik bah." Jawab Delon.


Kemudian Delon mengeluarkan ponsel dari saku celana nya dan mencari nomor Darto untuk di telpon, sedangkan Rosa masih sibuk dengan kekesalannya, dia merasa tidak Terima di bentak oleh suaminya gara-gara orang lain. Setelah menelpon Darto dan mengetahui diruangan apa Rico di rawat mereka segera bergegas menuju ruangan tersebut.


"Bah di ruangan melati nomor 10." Ucap Delon.


"Baiklah kita kesana sekarang." Jawab Abah Sudin.


Tak sampai lima menit mereka akhirnya menemukan ruangan Rico. Akhirnya Delon mengetuk pintu ruangan tersebut dan mengucapkan salam.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum?" Ucap Delon dan Abah Sudin serempak.


"Waalaikumsalam salam." terdengar suara Darto dan istrinya serempak menjawab salam.


"Silahkan masuk besan." Ucap Darto ramah.


"Terimakasih." Ucap Delon dingin.


"Bagaimana keadaan menantuku? apakah sudah siuman?"Tiba-tiba Rosa menyela dan mendekati Mar istri Darto.


Tentu saja kata-kata Rosa mendapatkan tatapan tajam dari sang suami, Delon begitu tidak suka mendengar istrinya masih menyebut Rico sebagai menantu nya, namun Rosa seolah-olah tak perduli dengan tatapan suami nya, dia lebih mementingkan mengambil hati sang besan yang kaya raya di bandingkan kemarahan sang suami, Rosa seolah-olah lupa akan penderitaan sang putri karena ketamakan nya akan harta.

__ADS_1


__ADS_2