DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 93. KEMBALI NYA BINTANG


__ADS_3

"Kau mencari ku hum?" tanya Bintang sedikit menggoda.


"Ha? a...aku...a...ku...hem..." Syalu nampak berfikir untuk mencari alasan namun kegugupan nya terlihat jelas di mata Bintang.


"Oh...berarti saya yang terlalu percaya diri, saya fikir kamu mencari saya." ucap Bintang sambil memutar tubuh nya hendak pergi.


"U...stadz...tunggu!!!"ucap Syalu menghentikan langkah Bintang.


"Ada apa Sya?saya mau ketemu Syfa, mau tanya apakah dia sudah siap apa belum." Ucap Bintang.


"Maafkan saya ustadz, sebenarnya saya memang ingin menemui ustadz, saya ingin menyampaikan sesuatu." Ucap Syalu memberanikan diri.


"Ada apa Sya? apa ada yang serius?" tanya Bintang penasaran.


"Tidak ada ustadz, hanya saja saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung ke ustadz, Terima kasih ustadz karena selama ini sudah menolong saya hingga saat ini, sampai kan ucapan Terima kasihku pada abah dan ummi." Ucap Syalu dengan perasaan penuh haru.


"Tidak perlu berterima kasih Sya, sudah kewajiban kita sesama manusia harus saling tolong menolong, walaupun itu bukan kamu siapapun yang ada di posisi kamu pasti saya tolong semampu saya." ucap Bintang.


"Hum, saya percaya ustadz dan keluarga orang yang sangat baik, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua." Doa Syalu dengan tulus.


"Aamin...Terima kasih ya untuk doa nya" Jawab Bintang sambil tersenyum.


"Soal ummi dan abah itu biar kamu sendiri yang menyampaikan langsung ucapan Terima kasih nya, memang nya kamu nggak mau kembali lagi ke pondok hum?" tanya Bintang penuh harap, ya dia sangat berharap kalau Syalu akan kembali ke pondok dan tetap belajar di sana.


"Tapi ustadz...saya belum tau bisa kembali atau tidak, yang jelas saya harus menyelesaikan terlebih dahulu urusan saya bersama Rico, dan jika memang orang tua saya mengizinkan saya akan kembali belajar ke pesantren." Jawab Syalu.


"Baiklah...kami tunggu kedatangan mu." Ucap Bintang tersenyum.


"Terimakasih ustadz." jawab Syalu.


Sedangkan di kamar nampak Rosa tengah gusar, dari tadi hanya mondar mandir sambil merutuk.


"Ini kemana sih si Syalu, udah jam segini belum juga manggil buat sarapan." Ucap Rosa sambil memegang perutnya yang terasa sangat lapar.


Melihat tingkah sang istri pak Delon jadi heran lalu bertanya pada Rosa.


"Mama ngapain? kok dari tadi kayak orang yang lagi uring-uringan?" tanya Delon heran.


"Mama lagi nungguin Syalu manggil kita buat sarapan pa." Ucap Rosa dengan nada kesal.

__ADS_1


"Ha? ngguin Syalu?lah...ngapain nunggu tinggal keluar saja sih ma."ucap Delon.


"Mama tu pengen tau pa, seberapa sayang Syalu sama kita, seberapa Syalu perhatian sama kita."Ketus Rosa.


"Ma...ma...seharus nya mama sadar, sebelum menuntut pada Syalu soal perhatian dan kasih sayang nya pada kita, kita harus sadar diri sudah berapa besar perhatian dan kasih sayang kita pada dia, sedangkan pada kenyataannya kita sudah membuat hidup nya menderita."ucap Delon pada Rosa.


"Mama enggak tuh bikin dia menderita, justru selama ini mama ingin dia bahagia dengan menikahi pria kaya dan terhormat." Jawab Rosa dengan sengit.


"Pria kaya dan terhormat seperti Rico maksud mama? pria yang sudah menjual putri mama pada laki-laki lain, jadi itu yang kata mama ingin anak nya bahagia, iya ma?" cercah Delon.


"Papa kok jadi ungkit-ungkit masalah itu lagi sih?"sungut Rosa tak suka.


"Papa bukan mengungkit ma, tapi papa lebih mengingatkan bagaimana cara mama yang sudah menjerumuskan anak sendiri kedalam penderitaan."balas Delon dengan sengit.


Delon dan Rosa masih terlibat cekcok di kamar tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang tengah mendengar kan pertikaian mereka, namun dirinya tidak ingin terlarut dengan pertikaian orang tua nya, Buru-buru Syalu menghapus air mata nya dan segera memanggil mama papa nya untuk sarapan.


Tok


Tok


Tok


"Ma...pa...kita sarapan yuk...ustadz Bintang dan syfa sudah nungguin di meja makan." ucap Syalu.


Di dalam nampak Delon dan Rosa terkejut ketika mendengar Syalu memanggil mereka, entah sejak kapan Syalu berada di depan kamar mereka, ada raut cemas di wajah Delon, cemas jika Syalu mendengar pertikaian mereka, entah kenapa Delon semakin hari semakin takut jika putrinya akan terluka lagi.


"Syalu ma, cepat buka pintunya!" Titah Delon pada istrinya.


"Iya...iya...mama tahu itu Syalu, ingat juga tuh anak sama mama papa nya." Rutuk Rosa sambil membukakan pintu.


Dengan raut wajah kesal Rosa membukak pintu.


"Masih ingat kamu sama kami ha?" hardik Rosa.


"Maksud mama?" tanya Syalu tak mengerti.


"Kamu lihat ini sudah jam berapa? kamu mau kami mati kelaparan ha?" Lagi-lagi Rosa berbicara dengan nada ketusnya.


Namun Syalu hanya menanggapi kata-kata sang mama dengan senyuman lalu meraih kedua tangan sang mama dan berkata dengan lembut.

__ADS_1


"Mama sudah lapar ya? kenapa mama nggak langsung ke meja makan saja hum?" dengan tulus Syalu berbicara dengan Rosa.


"Kamu ini gimana sih? sebagai anak dimana letak perhatian mu terhadap kami ha? giliran mereka saja di perhatikan, tapi orang tua mu sendiri di telantar kan." ucap Rosa sengit sambil menyindir Bintang dan Syfa.


"Cukup ma!!!hargai mereka, mereka itu tamu kita dan mereka juga sudah bantuin anak kita." Hardik Delon yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar.


"Belain aja terus, apa sih artinya mama di mata papa, salah aja terus." jawab Rosa sengit.


Sedangkan di ruang makan nampak Bintang dan syfa terkejut dengan suara rusuh dari arah kamar pak Delon.


"Hum...pasti si ular keket tu yang bikin rusuh." celetuk Syfa.


"Hust...Syfa nggak boleh ya ngomong gitu!!!" ucap Bintang mengingatkan sang adik.


"Ma...Syalu mohon...jangan seperti ini, berilah kesan baik pada mereka, hari ini ustadz Bintang dan adik nya akan pulang ke pesantren, tolong jaga sikap mama, jangan bikin Syalu malu ma." Ucap Syalu dengan sedih.


"Malu kat..." Kata-kata Rosa terhenti karena mendapat tatapan tajam dari sang suami.


"Ayo Syalu kita sarapan, terserah mama mu mau sarapan apa tidak." ucap Delon dengan ketus kemudian berlalu dari hadapan Rosa bersama Syalu.


"Bener-bener sih papa, selalu saja mama yang salah nggak pernah di belain." Cebik Rosa sambil menyusul sang suami.


Dilain tempat nampak Julian tengah menyusun beberapa buku di meja nya tanpa di sadari sudah ada seseorang yang sudah duduk di hadapannya dengan santai.


"Assalamu'alaikum...ustadz Julian." ucap Furqon mengucap salam pada Julian.


"Astaghfirullah...Furqon!!!kamu itu ya...ngagetin saja."Ucap Julian sambil memegang dada nya.


"Is...dasar bujang lapuk lebay...salam saya itu di jawab ustadz bukan nya ngomel-ngomel kayak emak-emak." ucap Furqon.


"Astaghfirullah...maaf lupa, waalaikumsalam." Ucap Julian kemudian.


"Nah gitu dong, oh ya...UB jadi kan pulang hari ini?" tanya Furqon.


"Hum...jadi kata nya, semoga aja dengan kembalinya Bintang itu para fans-fans nya jadi adem." ucap Julian.


"Emang kenapa dengan para fans nya?" tanya Furqon penasaran.


"Pusing saya dibikin nya, tiap hari di tanya UB mulu, sampai iri saya." Ucap Julian dengan ekspresi datar nya.

__ADS_1


Mendengar keluhan sang sahabat Furqon pun terkekeh di buat nya, hari ini Furqon terlihat sangat bahagia karena wanita yang dia inginkan selama ini akan kembali ke pondok pesantren, setelah hampir beberapa hari tak bertemu akhirnya dia akan bertatap muka kembali.


__ADS_2