
Dua pasang mata itu adalah Syfa dan Furqon, mereka nampak tersenyum melihat Syalu dan Bintang kelihatan akrab.
"Entah kenapa aku lebih suka kalau mbak Syalu berjodoh sama UB." Celetuk Furqon.
"Aamin..." Jawab Syfa mengaminkan kata-kata Furqon.
Seketika Furqon langsung menoleh ke Syfa, dia tidak menyangka kalau Kata-kata nya akan di dukung oleh Syfa.
"Jadi kamu setuju kalau mereka berjodoh?" tanya Furqon.
"Hum, kak Syalu wanita yang baik dan cantik, sedangkan abang ku...mas Furqon pasti tau kan." Syfa memang sengaja tak mengatakan bagaimana abang nya karena dia yakin Furqon sudah mengerti bagaimana Bintang.
"Kau benar Syfa, aku merasa mbak Syalu membawa aurah positif, semenjak kehadiran mbak Syalu UB lebih sering tersenyum, banyak bicara dan juga bercanda."ucap Furqon sambil tersenyum.
Membayangkan sikap dingin Bintang dan acuh pada setiap wanita membuat dirinya sebagai sahabt menjadi khawatir.
"Ya sudah mas...kita kesana yuk...!!! ajak Syfa.
"Tunggu Syfa!!!ucap Furqon menghentikan langkah Syfa yang ingin beranjak mendekati Bintang dan Syalu.
"Ada apa mas?"ucap Syfa sambil menghentikan langkah nya.
Entah kenapa untuk kesekian kali nya degup jantung Syfa mulai tidak beraturan, kali ini dia merasa Furqon akan mengatakan sesuatu, entah itu membuat nya bahagia ataupun kecewa.
"Dinda..." Panggil Furqon tiba-tiba yang kemudian membuat keduanya jadi canggung.
Deg
Deg
Detak jantung Syfa mulai tak karuan.
"Kenapa dia memanggil ku Dinda?" ucap Syfa dalam hati.
"Bo... bo...leh kan mas memanggil mu dengan sebutan Dinda." Ucap Firqon gugup.
"Ma...ma..k..sudnya apa mas?" Syfa pun ikut tergagap mendengar Kata-kata Furqon.
"Tidak apa-apa, mas cuma ingin biar lebih kelihatan dekat dan akrab." Ucap Furqon.
"Tapi..." nampak Syfa ragu mendengar penjelasan Furqon.
__ADS_1
"Tenang saja, panggilan itu hanya untuk kita berdua, kalau di depan orang lain ya seperti biasa saja." Ucap Furqon dengan tersenyum, dia mengerti dengan kekuatan Syfa.
Seketika senyum Syfa semeringah, ternyata Furqon megerti dengan apa yang dia khawatir kan.
"Atau kamu keberatan dengan panggilan itu? baiklah berarti tidak jadi saja." Ucap Furqon yang kemudianendapat respon dari Syfa di luar dugaan.
"Mau...mau...orang belum jawab aja main putus-putusin aja." Ucap Syfa dengan senyum semangat.
Melihat Syfa yang antusias Furqon pun terkekeh, dia senang bisa melihat Syfa tersenyum dengan cantik.
"Jadi kita sepakat nih untuk panggilan nya?" Goda Furqon.
"Hum." Syfa mengangguk sambil tersipu.
"Oke baiklah..." Balas Furaon tersenyum.
"Jadi apa yang ingin mas bicarakan dengan ku?" Tiba-tiba Syfa teringat dengan cara Furqon memanggilnya tadi, seperti nya memang ada yang ingin di bicarakan.
"Em...apa ya..." nampak Furqon sedikit ragu mengatakan nya.
"Kok mas Furqom jadi ragu gitu? ya udah deh kalau nggak mau ngomong mending kita langsung susul abang aja." Rajuk Syfa.
" Ih...abisnya nyebelin, mau ngomong aja kok lama banget."Sewot Syfa.
"Iya...iya maaf, jadi gini seandainya dalam waktu dekat ada seorang pria yang ingin mengajak Dinda ber taaruf, apakah Dinda bersedia?" tanya Furqon serius.
Deg
Deg
Seketika jantung Syfa mau copot ketika mendengar pertanyaan Furqon, dia tidak menyangka kalau Furqon akan menanyakan hal itu pada diri nya.
"Ha?ta..ta..aruf?" tanya Syfa gugup.
"Hum, ta'aruf." ucap Furqon mengulangi Kata-kata nya.
"Tapi kenapa mas tanyakan hal itu pada ku? aku masih sekolah mas, belum bisa apa-apa, lagian mana ada laki-laki yang mau sama aku yang masih sekolah, terus nggak bisa masak pula." Jawab Syfa polos.
"Ada."Ucap Furqon singkat.
" Ha? siapa?"Syfa nampak terkesiap mendengar jawaban Furqon.
__ADS_1
"Aku."Ucap Furqon mantap.
" Apa???"Syfa terkesiap mendengar jawaban Furqon.
Deg
Deg
Lagi-lagi Syfa terkejut dengan pernyataan Furqon, dia tidak menyangka kalau Furqon akan mengajak nya ber taaruf, selama ini dia hanya mengenal Furqon sebagai ustadz yang pendiam dan juga santun bahkan dia tak jauh beda dengan abang nya yang cuek akan perempuan dan kali ini dia benar-benar di buat Syok akan pernyataan Furqon yang ingin memperistri dirinya. Ada rasa haru dan bahagia dalam diri Syfa namun ada pula rasa bimbang dalam hatinya, rasa bahagia setelah tau Furqon memiliki perasaan yang sama dengan diri nya, namun rasa bimbang dalam hati nya pun tak kalah kuat, dia merasa belum pantas untuk menikah di usia muda, mengingat diri nya yang belum mengerti apa-apa soal kehidupan rumah tangga.
Suara Pekikan Syfa yang Syok tentu menarik perhatian para pengunjung taman di belakang penginapan, termasuk Syalu dan Bintang. Mereka terkejut melihat ada Syfa dan Furqon yang tengah berdiri di dekat taman mini yang ada kolam ikan nya.
"Dinda...turunkan suara mu, jangan keras-keras, nggak enak di dengar orang." Ucap Furqon mengingat kan Syfa dengan memberi kode telunjuk di bibir.
"Ups...maaf...Dinda kelepasan mas."ucap Syfa malu.
Kemudian mereka berdua terkirim karena merasa lucu dengan tingkah masing-masing. tanpa mereka sadari Syalu dan Bintang telah berdiri di dekat mereka.
" Hemz...Assalamu'alaikum?"Ucap Bintang dan Syalu bersamaan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam...UB?mbak Sya?" Ucap Furqon terkejut.
"Waalaikumsalam, Abang? kak Syalu?" Ucap Syfa yang terlambat menjawab salam, namun tak bisa di pungkiri dirinya pun terkejut karena tiba-tiba ada kakak nya dan juga Syalu.
"Kenapa? ada apa?" Ucap Bintanf berteka teki.
"Apa nya bang?" tanya Syfa tak mengerti.
"Kenapa kalian terlihat bahagia? apa yang sedang kalian tertawa kan? dan itu...kenapa wajah kalian tiba-tiba pucat setelah kami datang?" ucap Bintang penuh selidik.
"Ah...masa sih bang, perasaan biasa-biasa saja." Ucap Syfa mengelak.
Sedangkan Furqon hanya diam tertunduk, kali ini dia tidak bisa berbohong lagi dengan Bintang soal perasaan nya pada Syfa, sedangkan Bintang menatap diri nya dengan tajam, tatapan tajam Bintang menelisik setiap inci tubuh kekar Furqon yang seakan-akan siap di terkam olehnya. Melihat hal itu tentu Syfa menjadi takut kalau abang nya akan melakukan hal buruk pada Furqon.
"Abang kenapa ngeliatin mas Furqon seperti itu?" Ucap Syfa.
"Ada apa? memang ada masalah kalau abang lihatin Furqon?" Ucap Bintang yang sengaja ingin menjebak kalimat adik nya.
"Ha?ah...bu... bu... kan gitu maksud Syfa, tapi..." Lagi-lagi Syfa tak dapat melanjutkan kalimat nya karena dia bingung ingin memberikan alasan apa.
Sekarang Bintang mengerti dengan perkataan Julian tempo hari, ternyata benar kalau adiknya dan juga sahabat nya memiliki perasaan yang sama, namun Bintang tak ingin gegabah, sebelum melangkah lebih jauh dia harus mencari tahu dan menyelidiki sendiri bagaimana perasaan sahabat nya dan juga adik nya.
__ADS_1