DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 62. TOBAT


__ADS_3

"Papa mana sih? kata nya cuma sebentar, tapi kok sampai sekarang belum muncul?" Ucap Rosa dengan kesal.


Rupanya dari tadi Rosa tengah menunggu suami nya pulang, karena Delon meminta nya bersiap-siap untuk mengikuti Tausyiah di masjid Ar-Rahman.


"Tau gini kan aku nggak perlu repot-repot memakai baju ribet kayak gini!" Lagi-lagi Rosa merutuk sambil menimang-nimang baju gamis yang dia pakai.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum?" Ucap Delon dari luar.


"Waalaikumsalam, nah itu papa!" Kemudian Rosa bergegas membukakan pintu untuk suami nya.


Ketika pintu di buka Rosa langsung menanyai suami nya tanpa jedah.


"Papa dari mana sih? kok lama banget? lihat nih mama udah sampai keringetan gini! kenapa sih mama harus ikut acara yang nggak penting itu." Ucap Rosa tanpa memberikan kesempatan Delon untuk menjawab.


"Cukup ma!!! sekali lagi mama bilang ini acara yang nggak penting, maka papa akan lupakan mama sebagai istri papa!" hardik Delon.


Mendengar kata-kata suami nya tentu membuat hati Rosa menjadi ciut, semenjak kejadian yang menimpa Syalu entah kenapa suami nya menjadi orang yang cepat marah dan mudah mengucapkan hal yang tak terduga, sedangkan selama ini yang dia tau suami nya sangat penyabar dan penyayang, selama menikah sekalipun tidak pernah berkata kasar pada nya.


"Papa kok ngomong nya kayak gitu ke mama? mama kan cuma ungkapin perasaan dan pendapat mama." Ucap Rosa membela diri.


"Perasaan mama itu nggak penting, dan pendapat mama juga nggak bermutu, jadi buat apa mama repot-repot ungkapin perasaan dan pendapat mama." Ucap Delon ketus.


"Sikap papa kok gini sih sama mama? papa udah nggak cinta lagi sama mama?" Ucap Rosa dengan iba.


"Sikap ku tergantung dengan sikap mu ma, papa hanya ingin mama ikuti Tausyiah ini, supaya mama dapat hidayah." Ucap Delon lagi.

__ADS_1


Sejenak Rosa terdiam mendengar kata-kata suami nya, namun diam nya bukan untuk merasa bersalah dan ingin mendengar kan kata-kata suami nya namun justru di dalam hati nya mengumpat sikap suami nya yang selalu menceramahi diri nya.


"Yang perlu di dapat itu uang dan harta pa, bukan hidayah." Rutuk Rosa dalam hati.


"Dan satu lagi ma, papa ingin mama memakai hijab selama nya." Ucap Delon kemudian.


Tentu nya pernyataan Delon membuat Rosa sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau suaminya akan menyuruh diri nya memakai hijab selamanya.


"Apa? hijab? selama nya?" Tenggorokan Rosa terasa tercekat mendengar ucapan suaminya.


"Ya, kenapa? ada yang salah?" Ucap Delon dengan heran melihat sikap istrinya.


"Tapi pa..., ini kan panas, terus nanti mama nggak bisa dong pamer perhiasan sama teman-teman mama."Ucap Rosa lagi.


"Cukup ma, kali ini tidak ada kesempatan buat mama untuk membantah kata-kata papa, tobat ma, umur kita tidak ada yang tau, mau sampai kapan mama seperti ini terus? kalau mama masih ingin dengan pendirian mama, maka jangan salah kan papa jika semua perhiasan mama papa bakar!!!"Ucap Delon penuh emosi.


Mendengar kemarahan suaminya tentu Rosa langsung tak berkutik, apa lagi sampai mendengar suaminya akan membakar semua perhiasan nya.


"Iya...iya mama akan pakai hijab selama nya."Sungut Rosa.


"Ya sudah nanti kita bahas lagi selepas pulang dari masjid, sekarang kita berangkat dulu takut nya terlambat." Ucap Delon.


"Iya." Jawab Rosa singkat.


Kemudahan Rosa dan Delon pergi ke masjid dengan berjalan kaki, karena memang jarak nya dekat dan tak perlu memakai kendaraan.


"Apa kau tau ma, ustadz yang akan ber tausiyah ini orang nya masih muda, tampan dan berbakat, dan dia juga sering tampil di televisi loh." Ucap Delon memberi tahu istrinya.


"Apa hebat nya seorang ustadz, toh belum tentu dia kaya dan mapan dari hasil menceramahi orang." Ucap Rosa sengit.


"Cukup ma! kenapa sih mama tuh selalu memandang orang dari harta dan kekayaan nya? lagian siapa bilang ustadz Bintang itu orangnya sederhana? justru dia adalah anak dari pemilik pesantren An-Nur yang terkenal itu, dan kiyai Somad adalah pendonatur terbesar untuk pembangunan masjid Ar-Rahman."Ucap Delon menegur istrinya.


"Ih...papa kok jadi emosi ke mama sih, lagian mana mama tau kalau itu ustadz anak dari seorang kiyai yang ternama seperti kiyai Somad dan juga pemilik pesantren." Sungut Rosa.

__ADS_1


"Makanya jangan selalu mengukur hidup orang dari harta dan kekayaan nya ma, kalau mau mengukur harta kita dengan harta ustadz itu mungkin harta kita tidak ada apa-apa nya." Jawab Delon.


"Ah...masa sih pa?" Tanya Rosa sedikit tak percaya.


Ketika mereka asik berdebat dalam perjalan menuju masjid, Tiba-tiba sebuah mobil mewah lewat mendahului mereka secara perlahan, dan tentu saja itu mobil Bintang dan yang lain nya.


"Kak...bukan nya itu mama dan papa nya kakak?" Ucap Syfa pada Syalu.


Kemudian Syalu memperhatikan fostur tubuh laki-laki dan wanita paruh baya yang ada di depan mobil mereka, tampak mereka tengah membicarakan sesuatu yang begitu serius.


"Mama...papa..."Ucap Syalu lirih.


"Sya...apa kau ingin menemui mereka?kita bisa berhenti disini." Ucap Bintang


"Tidak Ustadz, aku belum siap." Ucap Syalu sambil menyeka air mata nya.


"Kakak yang sabar ya, kakak pasti bisa!"Ucap Syfa menyemangati Syalu.


"Iya makasih ya dek." Ucap Syalu sambil memeluk Syfa.


Setelah mobil mereka melewati kedua orang tua Syalu tak lama kemudian mobil mereka telah berhenti di dalam parkiran Masjid Ar-Rahman, sudah banyak masyarakat yang berkumpul disana untuk menyambut kedatangan mereka, sangat terlihat ketika semuanya antusias untuk mendengar kan tausyiah nya.


Ketika mereka semua turun dari mobil para panitia yang turut menyukses kan acara tersebut segera menyambut mereka dengan ramah dan mempersilahkan mereka masuk dan mengarahkan untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.


"Assalamu'alaikum?" Ucap abah Sudin menyapa mereka sambil menjabat tangan Bintang dan kedua teman nya, kecuali Syfa dan Syalu.


"Waalaikumsalam Abah." Ucap mereka serempak.


"Apa kabar kalian? apakah istirahat kalian nyaman selama di penginapan?" Ucap Abah Sudin.


"Alhamdulillah Abah, kabar kami semua baik dan alhamdulillah istirahat nya pun sangat nyaman, sehingga rasanya susah untuk bangun dari tempat tidur." Ucap Bintang tersenyum.


Dan yang lain pun ikut terkekeh mendengar pernyataan Bintang, apa yang di katakan oleh Bintang memang benar, suasana kampung yang indah dan sejuk membuat mereka begitu enggan beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2