DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 72. BUJANG LAPUK


__ADS_3

Kini empat orang tersebut telah sampai di penginapan, semua nya sudah berkumpul di kamar Bintang untuk melakukan sidang, Syfa yang dari tadi hanya diam menahan kegugupan hanya mampu berkali-kali menelan salivanya.


"Mana Julian? kenapa dia tidak ada disini?"Ucap Bintang yang baru menyadari Julian tidak ada bersama mereka.


"Mu... mungkin ma...masih mencari kak Syalu?"ucap Syfa tergugup.


Bintang hanya melirik sekilas kearah Syfa kemudian langsung berkata pada Furqon.


"Coba telpon Julian, suruh pulang sekarang!"Ucap Bintang.


Furqon hanya mengangguk patuh dan segera melakukan telpon pada Julian, tiga puluh menit kemudian Julian telah sampai di kamar, pandangan nya mengedar kenyari keberadaan Syalu, ketika netra nya menemukan sosok yang dia cari akhirnya Julian pun bisa bernafas lega.


" Alhamdulillah."Ucap Julian lega sambil mengambil posisi duduk di dekat Furqon.


"Masuk itu ucap kan salam, bukan alhamdulillah." Ucap Bintang mengingat kan.


"He...he...iya maaf, keburu cemas mikiran dek Sya, ya udah aku salam ya, Assalamu'alaikum?" Ucap Julian cengengesan.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak.


"Dasar modus." celetuk Bintang dalam hati.


"Dek Sya...bagaimana kondisi mu? apa kau baik-baik saja?" Ucap Julian.


"Em...iya ustadz saya baik-baik saja." Ucap Syalu.


"Sejak kapan kau memanggilnya Dek?jangan sok akrab."ucap Bintang sengit.


"Sejak hari ini lah, rasa nya gimana gitu kalau cuma manggil nama doang." Ucap Julian.


Bintang hanya mencebik mendengar jawaban Julian, entah kenapa hari ini banyak hal yang membuat nya terkejut, terutama soal adik nya dan juga sahabatnya, akhirnya Bintang baru mengingat apa yang harus dia selesaikan saat ini.


"Oh...ya ada apa kalian berkumpul disini? apa ada rapat dadakan?" ucap Julian penasaran.


"Ada yang harus kita bahas saat ini." Ucap Bintang dingin.


"Apa? sepertinya serius sekali? apa ada masalah?" tanya Julian lagi.

__ADS_1


Sejenak Bintang terdiam dan menarik nafas dalam-dalam dan memulai pembicaraan nya.


"Ini soal Furqon dan Syfa."Ucap Bintang dengan ekspresi tenang.


Deg


Deg


Jantung Syfa berdegup kecang, apa yang dia takut kan akhirnya kejadian, tak kalah dengan Syfa, Furqon pun merasakan hal yang sama, saat ini dia merasa telah siap di eksekusi secara mentah-mentah


"Ada apa dengan mereka?" Ucap Julian biasa saja.


"Kenapa kau tidak terkejut?" tanya Bintang bingung.


"Kenapa aku harus terkejut, aku kan tidak tahu masalah nya, lagian kalau mereka sama-sama mau kenapa nggak di restuin aja sih." Celetuk Julian tanpa dosa.


Seketika mata Syfa dan Furqon membulat sempurna, Seolah-olah ingin melompat keluar, mereka tidak menyangka kalau Julian akan mengatakan hal seperti itu di hadapan Bintang, sedangkan Bintang sendiri nampak masih tak mengerti arah pembicaraan Julian, karena dirinya pun baru tahu perihal perasaan Furqon terhadap adik nya.


"Kenapa kau bicara begitu? apa kau sudah tau masalah ini dari lama?" Ucap Bintang penuh selidik.


"Hum...tepat nya satu tahun yang lalu, walaupun Furqon dan Syfa sama-sama mengelak saat aku tanya, tapi aku paham kalau sebenarnya mereka sama-sama punya perasaan."Ucap Julian.


" Hey...UB...maka nya jadi orang itu harus peka dong, jangan cuek bebek aja...pantes aja dari dulu jomblo."Ledek Julian.


Mendengar Julian yang menggoda Bintang dengan sebutan jomblo tentu membuat semua orang yang berada di kamar tersebut menjadi cekikikan, sedangkan Bintang wajahnya berubah menjadi merah padam.


"Dasar konyol, maling teriak maling, kalau aku jomblo terus situ apa? bujang lapuk?" Ucap Bintang membalas ledekan Julian.


Seketika didalam kamar tersebut menjadi riuh, suara tertawa lepas sangat jelas di dalam ruangan tersebut, apa lagi Furqon dia tidak dapat menyembunyikan rasa gelinya ketika mendengar Julian di sebut sebagai bujang lapuk.


Wajah Julian pun seketika berubah jadi masam, matanya hanya mampu mendelik tak suka melihat Furqon yang turut mengejeknya.


"Ya...terus...terus... terus saja tertawa, di pecat jadi calon adek ipar tau rasa loh!!!"Ancam Julian.


Mendengar Julian mengancam seperti itu spontan Furqon terdiam walaupun diri nya masih ingin tertawa namun dirinya tak ingin mengambil resiko. Melihat Furqom yang sudah terdiam Julian pun tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Bintang nampak heran melihat Furqon yang tiba-tiba terdiam karena ucapan Julian, Furqon seperti kerbau di cucuk hidung nya.


"Kenapa kau berhenti tertawa? ayo tertawa lagi, kita puas-puasin tertawa untuk bujang lapuk ini."Ucap Bintang pada Furqon.

__ADS_1


" Ha? tapi...?"Ucap Furqon ragu-ragu.


"Hey...apa-apaan lu...kok main-main paksa orang ketawa?" Ucap Julian tak suka.


"Kenapa? suka-suka saya, ayo Furqon tertawa sekarang." Ucap Bintang.


"Tapi...?" Furqon masih ragu.


"Eh...situ mau di pecat ha? mau nanti Syfa nya buat laki-laki lain?"Lagi-lagi Julian mengancam Furqon.


" Ha? ja... ja...ngan dong."Ucap Furqon tergagu.


Melihat perdebatan di hadapan mereka tentu Syalu dan Syfa jadi geli dan tertawa, tingkah mereka sungguh konyol dan seperti anak kecil.


"Eh...kutu buku, yang jadi calon kakak ipar mu itu siapa? aku apa bujang lapuk itu?" Ucap Bintang memberi pilihan.


"UB." Tunjuk Furqon seperti anak kecil.


"Nah...situ tau, jadi harus nurut sama siapa? ayo tertawa sekarang!!!" Perintah Bintang.


Melihat dapat respon baik dari Bintang tentu tak di sia-sia kan oleh Furqon, Seketika dia langsung tertawa terpingkal-pingkal dan langsung di ikuti oleh Bintang, sedangkan Julian nampak kesal dengan ledekan kedua sahabat nya, mukanya tiba-tiba di tekuk karena tidak suka di ledek dengan sebutan bujang lapuk. Sedangkan Syalu dan Syfa hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka karena merasa lucu melihat tingkah ketiga sahabat tersebut.


"Maaf Ustadz, apa ustadz sudah mengabari Abah Sudin perihal malam ini, karena ini sudah pukul delapan malam, bukankah kita ada janji kesana?" Ucap Syalu mengingat kan.


"Astaghfirullah...aku sampai lupa!!!"ucap Bintang.


Kemudian dia segera mengambil ponsel dari saku celana nya dan menghubungi Abah Sudin dengan cepat. Setelah memberi tahu bahwa mereka tidak jadi datang karena ada suatu hal Bintang segera mengakhiri telpon nya.


"Bagaimana? apa Abah Sudin marah?" tanya Julian.


"Tidak...alhamdulillah beliau mengerti dengan situasi kita, lagian beliau juga lagi ada urusan di luar. " Jawab Bintang.


"Alhamdulillah." Jawab mereka serempak.


"Lalu apa yang mau kita bicarakan sekarang?" tanya Julian serius.


Seketika Bintang ingat dengan tujuan awal nya, dia akan membahas perihal Syfa dan Furqon.

__ADS_1


"Jadi bagaimana Syfa, apa benar tadi Furqon mengajak mu ber taaruf?tanya Bintang penuh selidik.


Ditanya seperti itu tentu membuat Syfa menjadi gelabakan, dia tidak tahu harus menjawab apa, ada perasaan takut yang menjalar di tubuh nya jika dia berbicara terus terang pada kakak nya.


__ADS_2