
Spontan Syalu berdiri karena kepalanya terasa basah akibat guyuran air.
"Astaghfirullah...ada apa ini?" Ucap Syalu masih bingung.
"Eh...lampir...ngapain kamu siram-siram Syalu." Ucap Kharimah kesal.
Ternyata selama ini Kharimah menyimpan kebencian dan kekesalan terhadap sikap Gendis yang arogan dan Semena-mena terhadap orang lain.
"Diem loe!!! ini urusan gua sama cewek kampung ini." tunjuk Gendis.
"Maaf kak, salah Syalu sama kakak apa?" tanya Syalu dengan nada sopan.
"Alah...jangan sok manis ya sama aku, itu semua nggak mempan, dan kamu harus tau disini nggak boleh ada yang genit-genit sama ustadz." Ucap Gendis blak-blakan.
Syalu semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Gendis, untuk menghindari keributan Syalu lebih memilih untuk mengajak Bella pergi ketimbang berada di kantin saat ini.
"Ya udah Kharimah mending sekarang kita pergi aja, aku mau ganti kerudung dulu." Ajak Syalu.
"Iya." Jawab Kharimah patuh.
Merasa diri nya di acuhkan Gendis semakin murka dan tidak terima dengan sikap Syalu, dengan cepat dia meraih pergelangan tangan Syalu dan memutar tubuh Syalu dengan cepat.
"Kurang ajar...Berani kamu ya...mengabaikan aku!!!" Hardik Gendis sambil mengangkat tangan ingin memukul wajah Syalu.
Namun secepat kilat tangan Gendis di tangkap oleh Bintang dan menghempaskan tangan Gendis dengan kasar.
"Cukup!!!ada apa ini? kenapa kamu bersikap nrutal seperti ini Gendis?" Ucap Bintang kesal.
"U...ustadz." Jawab Gendis tergagap.
"Ada apa ini Syalu? kenapa sampai Gendis ingin memukul mu?" tanya Bintang.
Syalu hanya diam tertunduk, dia bingung harus bicara apa, sedangkan Kharimah terlihat kesal karena Syalu tak kunjung membuka suara untuk mengadukan perbuatan Gendis. Akhirnya Kharimah tak bisa menahan diri untuk bicara, kemudian Kharimah menceritakan semua nya dari awal sampai pada kejadian Gendis yang ingin memukul Syalu.
__ADS_1
"Astaghfirullah..." Ucap Bintang dan Julian serempak.
"Kamu ini Gendis nggak pernah berubah, jadi perempuan kok hobi nya cari masalah." Rutuk Julian.
"Tapi ustadz..." Jawab Gendis yang berusaha ingin membela diri.
"Sudah cukup, sekarang kalian masuk keruangan saya, tunggu saya disana." Ucap Bintang.
Syalu hanya mengangguk patuh, sedangkan Gendis dia merasa senang kali ini bisa menatap wajah Bintang secara dekat dan lama, dia tidak perduli dengan hukuman yang nanti bakal dia terima.
Kemudian Syalu dan Gendis di bawa ke ruangan yang telah di intruksikan, sedangkan Julian dan Bintang sudah lebih dulu berjalan di depan mereka.
"Ini belum seberapa gadis kampung, awas saja kalau aku lihat kamu masih dekati ustadz Bintang, maka akan aku lakukan lebih dari ini." Ucap Gendis dalam hati.
"Ini sebenarnya ada apa ya? kenapa perempuan ini terlihat sangat membenci aku?"Ucap Syalu dalam hati.
Di kediaman pak Darto, nampak pak Delon sangat gusar menunggu kabar dari orang-orang kepercayaan Darto, ddia sudah tidak sabar ingin menanyakan keberadaan Syalu dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu.
"Dimana orang-orang kepercayaan mu itu Darto? kenapa sampai saat ini belum juga ada kabar?" Ucap Delon dengan penuh amarah.
"Sabar besan, akan aku coba hubungi lagi orang-orang kepercayaan ku."Ucap Darto menenangkan.
"Sabar-sabar, hidup anak ku sedang di pertaruhkan di luar sana, aku sudah tidak bisa menunggu lagi."Icap Delon kesal.
Pak Darto hanya diam saja, dia tidak mau lagi berdebat dengan besan nya, bagi nya kekhawatiran sang besan memang beralasan, dia sibuk mengotak atik handphone nya dan menelpon seseorang.
"Hallo? Bagaimana? apa sudah di temukan?"tanya Darto tak sabar.
"Belum bos, tapi menurut informasi yang kami dapat barusan dari sahabat Rico, ternyata dia sedang berlibur ke negara K." Ucap salah satu orang kepercayaan Darto.
"Apaaaaa???pergi berlibur?"Ucap Darto dengan nada tinggi sehingga menarik perhatian Delon dan lain nya.
"Kurang ajar Rico, berani-berani nya dia melakukan hal yang memalukan ini, apa dia sengaja ingin menghancurkan hidup keluarga nya, dia pergi berlibur dari uang hasil menjual istrinya." Geram Darto dalam hati.
__ADS_1
Seketika Delon menjadi emosi dan berteriak pada Darto.
"Apa kamu bilang? Rico pergi berlibur? memang dasar laki-laki kurang ajar, tidak bertanggung jawab!!!" pekik Delon sambil mengambil guci yang ada di sebelahnya.
Dan
Prang
Secepat kilat semua nya telah berserakan di lantai, melihat hal itu tentu saja Mar dan Rosa terkejut dan memekik secara bersamaan
"Akh...papa...apa yang papa lakukan?" Ucap Rosa ketakutan.
"Diam kamu perempuan laknat!!! ini semua gara-gara kamu, gara-gara keserakahan kamu, sehingga putri kita menjadi korban laki-laki biadab seperti Rico."Hardik Delon pada istrinya.
"Pak Delon, anda tidak bisa semena-mena seperti ini, ini rumah kami, anda tidak berhak menyentuh Barang-barang di rumah ini." Ucap Mar dengan kesal.
Pak Delon hanya tersenyum kecut mendengar ucapan sang besan.
"Kalian hanya sibuk memikirkan kan barang anda yang saya pecah kan, tapi anda pernah berfikir tidak apa yang terjadi dengan putri saya di luar sana, di luar sana dia bersama laki-laki yang tidak dia kenal, apa anda tidak berfikir sampai sana ha?" Lagi-lagi pak Delon meluapkan amarahnys.
Akhirnya Mar pun terdiam, apa yang di katakan Delon memang benar, disaat putri mereka berjuang sendirian di luar sana, dia malah sibuk memperhatikan Barang-barang yang pecah akibat ulah besan nya.
"Pak Delon aku mohon tenanglah, ali berjanji akan membantu mencari Syalu dan membawa nya pulang, bahkan hari ini juga aku akan menyuruh anak buah ku pergi ke negara K untuk menyusul Rico." Ucap Darto menenangkan.
"Itu memang perlu kau lakukan Darto, kalau sampai putriku tidak di temukan dan terjadi sesuatu pada nya, maka ingat ini baik-baik, aku bersumpah akan menghancurkan keluarga kalian sampai ke akar-akar nya, dan rumah ini akan aku ratakan jadi tanah beserta usaha-usaha mu itu." Ucap Delon dengan penuh ancaman.
"I...iya besan, tenanglah aku akan menemukan menantu ku itu dalam keadaan baik-baik saja." Jawab Darto gugup, tentu saja dia sedikit bergetar akibat ancaman besan nya, seorang ayah yang kehilangan putrinya tentu dapat melakukan hal apa saja termasuk berbuat nekat.
Selesai mengancam Darto, Delon segerak beranjak pergi dari rumah itu, dia ingin melakukan sesuatu agar bisa menemukan putri nya, dia tidak mungkin hanya mengandalkan besan nya saja.
"Pa tunggu mama, jangan buru-buru jalan nya." Ucap Rosa setengah berlari mengejar suaminya.
Pak Delon hanya diam saja, dia sedikit pun tidak mengubris permintaan istrinya, hati nya sangat kesal pada Rosa, karena ulah istrinya kini dia tidak tahu keberadaan putri semata wayang nya.
__ADS_1