DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 38. ULAH GENDIS


__ADS_3

Satu minggu kemudian,setelah mengetahui asal usul dan kejadian yang menimpa Syalu, akhirnya Kiyai Somad mengizinkan Syalu untuk tetap tinggal di rumah nya, dan kapan pun Syalu minta di antarkan pulang keluarga Kiyai Somad siap mendampinginya. Kini Syalu sudah siap untuk belajar pesantren, tekad nya sudah bulat untuk belajar kembali terutama belajar ilmu agama, semenjak tinggal dengan keluarga Ummi Salmah Syalu nampak banyak perubahan, mulai dari cara berpakaian, memakai hijab dan cara nya yang mulai dewasa.


Pagi itu ketika Bintang hendak berangkat ke pesantren untuk mengajar, Tiba-tiba Ummi Salmah menghentikan langkah nya.


"Bintang...tunggu nak!!!" panggil Ummi Salmah.


"Iya Ummi." Jawab Bintang lalu menghentikan langkah nya.


"Nak, kamu berangkat nya bareng Syalu dan Syfa ya!"pinta Ummi Salmah.


"Tapi Ummi..., hari ini Bintang ada kelas, Biar dia berangkat berdua aja ya dengan Syfa." Tolak Bintang halus.


"Hey...kau ini,kamu kan laki-laki di rumah ini masa iya membiarkan perempuan di rumah ini jalan sendiri keluar rumah." Cegah Ummi.


"Tapi kan Abah juga laki-laki Ummi." Sungut Bintang.


"Abah kamu ada Tausiyah malam ini di luar kota, jadi pagi ini harus berangkat sama pak jujun biar nggak kena macet." Jelas Ummi.


Mendengar Ustadz Bintang menolak mengajak diri nya, ada perasaan tidak enak hati dalam diri Syalu.


Buru-buru dia menghampiri Ummi Salmah dan Bintang.


"Assalamu'alaikum Ummi, Ustadz Bintang?" sapa Syalu ke Ummi dan Ustadz Bintang, tak lupa dia mencium tangan Ummi Salmah.


"Waalaikumsalam, hey...udah siap?"jawab Ummi.


"Wa..alaikumsalam."Jawab Bintang sedikit terlambat, Bintang diam membeku ketika Syalu di antara diri nya dan Ummi Salmah.


"Syfa mana?"tanya Ummi Salmah.


"Ada Ummi, udah siap juga tapi lagi ambil tas di kamar."Jawab Syalu.


Diam-diam Bintang curi pandang ke Syalu, entah kenapa lagi-lagi getaran di di hati nya kembali muncul setiap di dekat Syalu.


"Masya Allah gadis ini cantik nya luar biasa, kenapa jantung ku berdegup sangat kencang."Batin Bintang.


Melihat Bintang menatap Syalu tak berkedip sedetikpun, Ummi Salmah buru-buru mengingatkan nya.


" Bintang."Panggil Ummi.


"Astaghfirullah."Seketika Bintang membuang pandangan nya ke arah lain.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Ummi, abang, kak Syalu."Syfa datang Sambil mencium tangan Ummi dan Ustadz Bintang.


" Waalaikumsalam."Jawab mereka serempak.


"Berangkat yok...Bang."Ajak Syfa sambil menggandeng tangan Syalu.


"Iya."Jawab Bintang dingin.


"Syfa kita berangkat nya berdua aja ya!"Tolak Syalu secara halus.


"Loh kenapa kak? Syfa juga biasa nya berangkat bareng bang Bintang."Ucap Syfa bingung.


"Iya nak, kalian berangkat bareng Bintang aja ya."Ucap Ummi.


"Nggak apa-apa Ummi, biar Ustadz berangkat duluan, takutnya beliau ada kelas pagi ini." Lagi-lagi Syalu menolak secara halus.


"Dia kenapa? kenapa menolak pergi sama aku?" Batin Bintang.


Mendengar jawaban Syalu Ummi Salmah pun tersenyum.


"Ummi kenapa tersenyum." tanya Syalu bingung.


"Habis nya kamu aneh, Ummi suruh kamu berangkat bareng Bintang karena mulai hari ini kamu masuk kelas yang Ustadz Bintang pegang." Jawab Ummi Salmah dengan senyuman.


Seketika Ummi Salmah dan Syfa menoleh kearah mereka berdua.


"Loh...emang ada yang salah kalau kak Syalu belajar di kelas bang Bintang?" tanya Syfa bingung.


"Iya...emang ada yang salah?" timpal Ummi Salmah.


"Bu...bu...kan gitu Ummi, tapi...? "Jawab Bintang gugup.


"Ummi apa tidak ada kelas lain, kenapa harus kelas Ustadz Bintang?" Tanya Syalu bingung.


"Ummi emang sengaja pilih kelas Bintang, karena disini cuma dia, Syfa dan Abah yang kamu kenal di pesantren." Jelas, Ummi.


"Tapi...Ummi." Ucap Syalu yang masih ragu.


"Udah mending sekarang kalian berangkat, nanti terlambat." Ucap Ummi Salmah.


"Iya Ummi."Jawab mereka serempak.

__ADS_1


Kemudian mereka bertiga berpamitan untuk berangkat ke pesantren. Sedangkan Ummi Salmah kembali fokus untuk mengurus keperluan suaminya untuk berangkat ke luar kota.


Sedangkan selama perjalanan mereka tidak ada yang bicara sedikitpun, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Aduhh...ini kenapa sih pada diam-diam"an, ini juga Abang, biasa nya juga sering jailin Syfa."Tiba-tiba suara Syfa memecah kesunyian.


"Apaan sih..., bikin kaget aja." Ucap Bintang.


Sedangkan Syalu tetap menatap lurus jalan tanpa menghiraukan apa yang di perdebatkan kakak beradik itu. Ketika sampai di pesantren, Bintang lebih memilih jalan lebih dulu, sedangkan Syfa langsung belok ke kiri karena kelas nya berbeda dengan Syalu.


Syalu terpaku menatap kedua beradik tersebut dengan jalan yang berbeda, dia bingung jalan mana yang harus di ikuti, merasa tidak ada yang mengikuti jejak jalan nya Ustadz Bintang menoleh ke belakang dan melihat Syalu sedang berdiri bingung.


"Syalu...cepat kemari, ikuti saya!" Ucap Bintang yang kemudian memecah kebingungan Syalu.


Akhirnya Syalu bergegas mengikuti Bintang, dengan tergopoh-gopoh Syalu berusaha mensejajarkan langkah nya dan langkah kaki Bintang.


"Aduh...jalan nya cepat banget sih, aku kan jadi susah imbangin nya." Rutuk Syalu dalam hati.


"Nggak usah buru-buru, nanti kakimu tersandung." Ucap Bintang yang kemudian membuat langkah kaki Syalu menciut.


"I...ya Ustadz."Jawab Syalu gugup.


Ketika sampai di depan kelas, sebelum masuk Bintang mengisyaratkan Syalu untuk menunggu terlebih dahulu di luar kelas, dan setelah nya Syalu akan di persilahkan masuk dan memperkenalkan diri.


"Kamu tunggu dulu di sini, nanti saya akan panggil baru kamu masuk."Ucap Bintang.


"Iya Ustadz."Jawab Syalu.


Kemudian Bintang masuk kelas dan mengucapkan salam, seperti biasa para santriwati akan heboh dan histeris jika sang Ustadz memasuki kelas, karena Ustadz Bintang merupakan Ustadz yang di idolakan, selain tampan dan smart Ustadz Bintang memiliki kharismatik yang dapat membuat semua para wanita meleleh.


"Assalamu'alaikum." Ucap Bintang mengucap salam.


"Waalaikumsalam." Jawab semua santri dengan semangat.


"Ssssttt...Ndis...pujaan hati loh tuh!!!" Ucap Bella mengingat kan Gendis.


"Iya... gua tau."Jawab Gendis sambil menopang dagu nya dengan kedua tangan nya.


Seperti biasa, Gendis adalah orang yang pertama yang paling tergila-gila dengan Bintang, walaupun dia sering di tolak secara halus oleh Bintang namun Gendis tak pernah merasa putus asa, bagi nya sebelum janur kuning melengkung tidak ada kata mundur untuk mendapatkan sang Ustadz.


"Ya...ampunnnn... my love ganteng banget sih kalau udah gini meleleh dah hati gua." Ucap Gendis tanpa sadar, dan tentu semua santri mendengar nya.

__ADS_1


Spontan kelas menjadi riuh akibat ulah Gendis, dari luar Syalu nampak penasaran dengan kegaduhan di dalam kelas, namun dia tidak berani memastikan apa yang sedang terjadi karenan belum ada aba-aba atau perintah untuk nya masuk.


__ADS_2