
"Pa...tolong lakuin sesuatu, aku nggak mau bercerai dengan Syalu." Ucap Rico memohon.
"Cukup Rico, papa benar-benar pusing saat ini, keluarga pak Delon sudah mengambil keputusan."Ucap Darto gusar.
"Papa kok ngomong gitu? emang nya papa nggak bisa ngelakuin sesuatu untuk Rico."Bantah Mar.
"Ma...yang di lakukan Rico itu sudah melewati batas, masih untung mereka cuma minta cerai, kalau mereka sampai jeblosin Rico ke penjara bagaimana?"ucap Darto.
"Enggak pa...Rico nggak mau masuk penjara, dan juga Rico nggak mau kehilangan Syalu, jadi papa harus bantuin Rico."sungut Rico.
"Enak banget kamu ya...bisa ngomong kayak gitu, setelah kamu lakuin itu ke anak mereka, kamu coreng harga diri papa, dan sekarang kamu dengan tak tahu malu nya minta agar tetap bersama dengan gadis malang itu?" ucap Darto dengan penuh amarah.
"Tapi pa...Rico masih cinta banget sama Syalu...dan Rico nggak mau kehilangan dia." Ucap Rico memelas.
"Apa kamu bilang? cinta? di mana akal sehat mu ketika kamu menjual istri mu pada laki-laki lain ha? maka nya melakukan segala sesuatu itu pakai ot*k jangan pakai dengkul mu." Lagi-lagi Darto berucap dengan penuh amarah.
"Pa...???" Mar seketika melotot pada suaminya karena merasa tak suka pada kata-kata suami nya pada sang anak.
"Ibu dan anak sama saja!!!" ucap Darto kesal kemudian berlalu pergi dari hadapan Mar dan Rico.
Sedangkan Rico menangis tertutup karena sang papa tak mau membantu nya.
"Ma...bagaimana ini? Rico nggak mau cerai dari Syalu, Rico udah hancur karena kelumpuhan ini, Rico nggak mau hancur lagi karena kehilangan Syalu ma..." ucap Rico dengan rengekan seperti anak kecil.
"Kamu yang sabar ya nak, kamu harus tenang nanti mama akan coba bicara lagi sama papa, bila perlu mama akan datang ke rumah orang tua Syalu untuk meminta mereka membatalkan permohonan gugatan cerai ini." Ucap Mar sambil memeluk putra nya.
"Mama serius? mama mau bantuin Rico ma?" ucap Rico dengan mata berbinar.
"Iya sayang, jadi kamu yang tenang ya, mending sekarang kamu istirahat dulu di kamar, mama mau bujukin papa dulu." ucap Mar.
"Iya ma." lalu Rico berlalu ke kamar nya dengan menggunakan kursi roda nya.
Di lain tempat nampak Doni tengah menunggu kabar dari orang kepercayaan nya. Laki-laki yang berperawakan tinggi dan gagah tersebut nampak tengah gusar karena dari tadi orang kepercayaan nya belum sama sekali menelpon.
__ADS_1
"Brengsek...pada kemana sih???sampai sekarang nggak ada kabar berita...udah tau kabar nya di tungguin." Gumam Doni dengan kesal.
Tak lama handphone Doni pun berdering, tertera nama orang yang sedang di tunggu-tunggu nya.
"Akhirnya...nelpon juga..." Ucap Doni lirih kemudian mengangkat telpon dengan cepat.
"Parman....kenapa baru telpon sekarang??? apa kamu nggak tau dari tadi saya nunggu telpon dari kamu? tunggu kabar dari kamu ha?" ucap Doni panjang dengan penuh makian.
Sedangkan Parman nampak menjauhkan telpon genggam tersebut dari telinganya, suara Doni yang melengkin penuh dengan makin terasa ingin memecahkan gendang telinga nya.
"Mampus dah...si bos pakai acara marah-marah pula, nggak tau apa informasi yang di dapat nggak hanya satu tapi banyak, belum juga dengar kabar nya udah main semprot-semprot aja."Gumam Parman dalam hati.
"Eh...Parman, kamu dengar nggak sih saya ngomong?"Hardik Doni.
"Eh...i...iya tuan, saya dengar." ucap Parman tergagap.
"Jadi apa informasi yang kamu dapat? cepat katakan!!!" ucap Doni tak sabar.
"Tuan nona Syalu akan bercerai." Ucap Parman dengan lantang.
"Ya tuan, nona Syalu akan mengajukan surat gugatan cerai terhadap Rico." Jelas Parman lagi.
"Kamu yakin?" Seketika wajah Doni semringah mendapat kabar baik dari Parman, ini benar-benar angin segar bagi diri nya.
"Ya tuan...sangat yakin, bahkan Rico sudah menerima surat gugatan itu." ucap Parman lagi.
"Bagus...aku suka informasi ini, kamu dan teman-teman mu akan dapat bonus setelah ini." Jawab Doni senang.
"Terimakasih tuan, tapi..." nampak Parman ragu untuk berbicara, karena kemungkinan informasi berikutnya akan membuat bos nya akan marah sampai ke ujung langit.
"Tapi apa? cepat katakan."Ucap Doni dengan tak sabar.
"Tuan sesuai informasi yang saya dapat, ternyata selama ini nona Syalu tidak pernah mengalami penyakit yang berbahaya termasuk penyakit yang waktu itu dia katakan pada tuan." Ucap Parman sedikit ragu.
__ADS_1
Deg
Deg
Bagai hantaman batu besar di dada Doni ketika Parman mengatakan informasi tersebut, dia tidak menyangka jika gadis yang dia puja-puja bahkan yang dia impikan ternyata seorang pembohongan besar, namun secepatnya perasaan kesal dan amarah nya dia tepiskan terlebih dahulu untuk mendengar kabar selanjutnya.
"Tuan apa kau mendengar ku?" ucap Parman, karena mendadak suara telpon tersebut hening tanpa ada suara sedikit pun.
"Ya...aku mendengar mu." Ucap Doni dingin, kali ini dia seperti kehilangan semangat untuk berbicara.
"Tuan...untuk masalah ustadz itu, dia masih di rumah nona Syalu, bahkan dialah yang menyiapkan pengacara untuk membantu proses perceraian nona Syalu." Ucap Parman lagi.
Tanpa di sadari tangan Doni sudah mengepal, entah kenapa informasi yang kedua dan ketiga membuat dunia nyaenjadi jungkir balik, ingin rasa nya dia masuk kedalam sumur untuk menghilangkan semua penat yang ada di dada dan otak nya.
"Tuan...apa kau baik-baik saja?" tanya Parman sedikit khawatir.
"Ya...aku baik, Parman bisakah kita lanjut lagi telpon nya, entah kenapa kepala ku sedikit pusing." Ucap Doni lemah.
"Tuan... apa aku boleh mengatakan sesuatu?" ucap Parman lagi.
"Ada apa? cepat katakan!!!"Ucap Doni.
"Tuan...menurut saya nona Syalu tidak salah, dia melakukan kebohongan itu demi menjaga kehormatan nya, bukankah jarang sekali kita menemukan ada perempuan seperti itu di dunia ini yang mau ambil resiko demi mempertahankan kehormatan dan harga dirinya."Ucap Parman panjang lebar, sedikit rasa takut untuk dirinya bicara seperti itu pada bos nya, namun tidak ada salahnya bagi Parman untuk mengingat kan pada sang bos untuk melihat mana yang baik dan yang buruk.
Sejenak Doni terdiam mendengar penuturan sang bodyguard kepercayaan nya, memang sejak awal dia bertemu Syalu ada yang berbeda dari gadis itu, itu sebab nya dia langsung jatuh cinta, penjelasan Parman sedikit membuat mata hati nya terbuka dan berusaha menerima alasan Syalu berbohong.
"Tuan maafkan saya jika memang saya sudah lancang berbicara seperti ini, saya hanya tidak ingin tuan menjadi salah paham dengan berfikir kalau nona Syalu bersalah karena sudah membohongi tuan." Ucap Parman dengan tenang.
"Ya...kau memang lancang karena sudah berani menasehati ku, tapi katakan apa alasan mu sehingga yakin untuk membela gadis itu,apa kau menyukai Syalu?." Ucap Doni penuh selidik.
"Ti...tidak...tuan, mana saya berani untuk berfikir kesana, tuan saya hanya tidak ingin tuan salah paham pada nona Syalu, karena sejauh ini pemantauan saya terhadap nona Syalu tidak ada yang salah tuan." jelas Parman.
"Baiklah Parman alasan mu aku Terima, nanti kita lanjutkan lagi...aku masih ada urusan." Ucap Doni berbohong.
__ADS_1
"Baik tuan." Ucap Parman.
Kemudian sambungan telpon pun terputus, Dengan wajah gusar Doni mengacak rambutnya frustasi, entah kenapa walaupun sedikit menerima alasan Syalu berbohong tapi tak dapat di pungkiri dia masih merasa sangat bodoh karena langsung percaya begitu saja di saat Syalu mengatakan tentang penyakit nya.