DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 53. MASJID YANG INDAH


__ADS_3

Di lain tempat nampak mobil yang kendarai rombongan Bintang telah memasuki kawasan kampung halaman Syalu, tanpa Syalu sadari air mata nya mengalir, mengingat semua kejadian yang telah menimpa nya, suasana sejuk menjadi ciri khas kampung halaman Syalu membuat semua orang yang datang akan menjadi betah dan nyaman.


"Wah...disini adem ya kak, nanti ajak Syfa kesana ya kak!" Tunjuk Syfa ke arah perkebunan teh.


"Insya Allah ya, jika memang memungkinkan kota akan kesana." Ucap Syalu.


"Kamu gimana sih Syfa, kamu pingin Syalu ketahuan ha?" Sela Julian.


"Oh iya...ya aku sampai lupa akan hal itu." Ucap Syfa.


"Jadi sekarang tujuan utama kita mau kemana dulu nih?" Tanya Furqon.


"Kita cek lokasi tempat Tausiyah nya aja dulu, habis itu kita ke penginapan." Jawab Bintang.


"Ha? penginapan? Astaghfirullah...aku lupa tadz booking penginapan buat kita." Ucap Julian panik.


"Udah...tenang, semua udah di beresin sama kiyai Somad, beliau sudah atur semuanya." Jawab Furqon santai.


"Is...kau ini, gaya nya sok-sok" an mau jadi pendamping Tausiyah ku, tapi nyatanya kerja nya lambat."sungut Bintang.


"Hey...aku ini bukan lambat, tapi lupa." Elak Julian.


"Udah-udah jangan pada ribut, oh ya kak Syalu rumah kakak yang mana?" Tanya Syfa.


"Nanti ketemu perempatan di depan belok kanan ustadz Furqon, kita akan melewati masjid nya terlebih dahulu setelah itu baru rumah orang tua ku." Ucap Syalu.


"Jadi ini sudah dekat ya kak?" tanya Syfa lagi.


"Iya." Ucap Syalu dengan wajah datar.


Setelah melewati perempatan dan belok kanan, benar saja tak jauh dari situ sudah kelihatan masjid Ar-Rahman, seketika jantung Syalu berdegup kencang ketika melihat seseorang yang baru saja keluar dari masjid tersebut, dari bentuk tubuhnya Syalu sangat mengenali orang tersebut.


"Papa." Ucap Syalu tercekat.


"Ha? papa? mana papa mu Sya?" tanya Julian.


"Apa laki-laki yang barusan keluar dari masjid itu?" Tanya Bintang.


"Hum."Syalu hanya mampu mengangguk untuk merespon kata-kata Bintang sedangkan air mata nya sudah mengalir deras.


"Apa mbak Syalu mau bertemu dengan papa nya mba?" tanya Furqon.


"Nggak usah mas, Syalu belum siap." Ucap Syalu.


"Jadi kita lewat aja nih, nggak mampir gitu?" Ucap Julian.

__ADS_1


"Kita berhenti di masjid ini saja dulu, kita mampir buat sholat dzuhur, kan ini udah waktu nya." Ucap Bintang.


"Nah mbak Syalu nya gimana ustadz?" tanya Furqon.


"Kan ada ini!" Ucap Syfa sambil memperlihatkan cadar yang di bawa nya.


"Oh gitu, ya udah mbak dipakai cadar nya habis itu kita semua turun buat sholat." Ucap Furqon.


"Iya." Jawab Syalu singkat.


Kemudian mereka berlima turun dari mobil dan masuk ke area masjid.


"Subhanallah...kak...masjid nya sungguh besar dan indah ya." Ucap Syfa penuh kagum.


"Iya, ternyata di kampung ini ada masjid yang begitu indah dan megah." Timpal Julian.


"Udah jangan ngobrol terus, kita kesini mau sholat bukan gosip." Ketus Bintang.


"Is... kau ini nggak bisa lihat orang senang sedikit." Sungut Julian.


Ketika Bintang dan yang lain ingin melangkah mengambil wudhu tiba-tiba dia di hentikan oleh seseorang yang memanggil nama Bintang.


"Assalamu'alaikum? ustadz Bintang kan?" Ucap orang tersebut.


"Waalaikumsalam,iya benar saya Bintang." Jawab mereka serempak kemudian Bintang menjawab pertanyaan bapak-bapak yang menyapa nya.


Kemudian Bintang dan yang lain mengingat-ingat sesuatu, dan akhirnya Bintang teringat akan Kata-kata abahnya.


"Masya Allah, ini abah Sudin kan?" Ucap Bintang.


"Iya nak,kau benar, akulah abah sudin marbot masjid ini sekaligus sahabat abah mu."Jawab pak Sudin.


Kemudian mereka semua bersalaman dengan abah Sudin dengan mencium punggung tangan laki-laki yang usia nya kurang lebih seumuran dengan kiyai Somad.


"Oh ya, mereka ini siapa?" tanya abah Sudin.


"Ini ustadz Furqon dan Ustadz Julian para staf pengajar pondok pesantren An-Nur."Jawab Bintang.


"Lalu kedua gadis itu?" tanya abah Sudin lagi.


"Oh...itu yang tidak memakai cadar nama nya Syfa bah, adik perempuan ku, lalu yang memakai cadar itu..." Sejenak Bintang terdiam, dia bingung ingin memperkenalkan Syalu sebagai apa.


"Oh...ini ustadzah Sya, dia juga pengajar di pondok pesantren abah." Jawab Syfa tiba-tiba.


"Oh begitu, ya sudah kalian Sholatlah terlebih dahulu, nanti kita sambung lagi ngobrol nya." Ucap abah Sudin.

__ADS_1


"Baik bah."ucap mereka serempak.


Kemudian mereka segera mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim.


Di lain tempat dengan seringai kejam Doni mulai menginterogasi Rico.


" Parman...ikat kedua tangan nya ke atas dan buat dia berdiri di atas kursi itu!!!"Perintah Doni.


"Baik Tuan." Patuh Parman.


"Apa-apaan ini bos, apa salah ku? kenapa kau ingin mengikat ku?" Rico mulai cemas dengan keadaan.


Kemudian dengan kasar Parman menyeret Rico dan dengan di bantu yang lain akhirnya Rico telah di ikat kedua tangan nya keatas dengan posisi berdiri.


"Bos...aku mohon lepaskan aku, biarkan aku pergi." Ucap Rico penuh iba.


"Ha...ha...jangan harap kau bisa pergi dari tempat ini bodoh!!!" hardik Doni.


Kemudian Doni beranjak dari tempat duduk nya dan mendekati Rico dengan sorot mata yang tajam seolah-olah siap menerkam mangsanya. Kemudian dengan brutal Doni menampar bolak balik wajah Rico.


Plak


Plak


"Akh..., bos ampuni aku,maafkanlah aku jika memang melakukan kesalahan, tolong lepaskan aku." Ucap Rico sambil meringis menanhan sakit akibat tamparan Doni.


"Tidak akan semudah itu untuk memaafkan semua dosa-dosa dan kesalahan mu Rico Waluyo."Ucap Doni dengan lantang.


"Apa maksud mu bos? apa kesalahan ku dan dosa ku pada mu?" tanya Rico dengan penuh kebingungan.


Bukkk


Bukkk


Dengan geram Doni memukul bagian perut Rico.


"Brengsek, berani-berani nya kau tanyakan itu padaku, seharusnya kau fikirkan sebelum menipuku bangsat!!!" Hardik Doni.


"Ti...tidak bos, mana berani aku menipumu, tolong ampuni aku." ucap Rico sambil terbata karena menahan sakit.


"Jangan berani-berani kau mengelak dari kesalahan mu Rico, karena aku tidak suka itu!" Ucap Doni.


"Tapi apa kesalahan ku? kenapa bos menghukum ku?"tanya Rico.


"Baik, akan ku katakan semua kesalahan dan kebohongan mu selama ini pada ku."Ucap Doni.

__ADS_1


" Ya katakanlah!"ucap Rico.


Kemudian Doni mendekati Rico sambil menyulut rokok yang ada di tangan nya, tentu saja Rico merasa sangat takut ketika tubuh kekar Doni menghampiri nya, dengan seringai mengerikan Doni mencengkram pipi Rico dan memulai interogasi nya, kali ini Doni tidak akan membuang waktu lagi karena baginya memberi pelajaran pada Rico adalah tujuan utamanya.


__ADS_2