
"Eh...UB mereka kemana sih? kok lama banget?" ucap Julian yang mulai khawatir.
"UB apaan?" tanya Furqon penasaran.
"Ustadz Bintang ha... ha..." Jawab Julian dengan suara tawanya yang pecah.
"Is...kau ini, dasar konyol..." ucap Bintang kesal.
"He...he...tapi keren kan panggilan aku!!!"ledek Julian.
"Keren dari mana? ngeledek iya."sungut Bintang.
" Udah-udah jangan pada ribut, jadi ini gimana?mau di susulin apa enggak?"Ucap Furqon melerai.
"Oh iya, aku lupa tadi kan lagi bahas dua bidadari itu!" Ucap Julian semringah.
"Dasar...konyol lebay..." Ucap Bintang tak suka.
"Is...kau ini sirik aja sama yang ganteng!" ucap Julian cengengesan.
"Ya udah deh, aku aja yang susulin mereka, kalian lanjut aja debat nya." Ucap Furqon yang kemudian melenggang pergi meninggalkan dua sahabat itu.
Melihat Furqon yang pergi meninggalkan nya, Julian sedikit bengong dan mulai menyadari kalau diri nya di tinggal oleh Furqon.
"Hey...tunggu!!!aku kok di tinggal sih?"teriak Julian sambil berlari mengejar Furqon.
Melihat tingkah Julian yang seperti kekanak-kanakan Bintang hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.
Sedangkan Syalu dan Syfa yang masih di dalam pun masih setia mendengar kan percakapan antara pak Delon dan Abah Sudin.
"Kak, kita keluar yuk!! nggak enak nanti ada yang lihat, nanti kita ketahuan kak." Ucap Syfa yang mulai tidak tenang.
"Iya." Ucap Syalu sambil menyeka air mata nya.
Ketika Syalu dan Syfa hendak melangkah keluar tiba-tiba suara Furqon mengagetkan mereka.
"Mbak Syalu, Syfa." Panggil Furqon sambil mendekati mereka.
Seketika langkah kedua nya terhenti dan melihat sumber suara yang memanggil mereka.
"Mas Furqon!" Ucap kedua nya serempak.
Tak lama kemudian Julian datang dengan nafas yang tidak teratur, dia nampak terengah-engah karena mengejar Furqon.
"Assalamu'alaikum?" Ucap Julian mengucap salam ketika telah sampai pada Syalu, Syfa dan Furqon.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak.
"Kakak kenapa? kok Ngos-ngosan?" tanya Syfa.
"Kakak habis olah raga, tuh...habis ngejar si Furqon." Ucap Julian sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Furqo.
"Ha...ha...rasain...makannya jangan debat mulu..." jawab Furqon cekikikan.
"Emang ustadz Julian debat apa? sama siapa?" Ucap Syalu membuka suara nya.
"Sama UB."Jawab Furqon singkat.
" Hey...itu panggilan aku buat dia, kok kamu ngikut-ngikut sih...nggak kreatif banget."Sungut Julian.
"UB?" tanya Syalu bingung.
"Iya...siapa UB?" Syfa pun turut penasaran.
"Ustadz Bintang mbak he...he." Ucap Furqon cekikikan.
"Ha...ha...kak Julian ada-ada saja, tapi keren juga ya kalau nama abang di singkat gitu." Ucap Syfa yang turut tertawa mendengar panggilan abang nya di singkat.
"Oh ya mbak Syalu dan Syfa kenapa lama ke toilet nya? apa ada kendala? " tanya Furqon.
"Iya...kenapa lama? kita khawatir tau...apa lagi aku." ucap Julian jujur.
"Hey...kakak tulus ya...nggak ada tuh modus-modusan dalam hidup kakak, kecuali si itu...tu...!!!" Ucap Julian memicing-micingkan matanya kearah Furqon.
"Hey...kok aku?" ucap Furqon yang jadi salah tingkah akibat kata-kata Julian.
"Maaf ustadz, mas Furqon apakah kita bisa ke pulang sekarang?" Ucap Syalu yang tiba-tiba meyela pembicaraan.
Sejenak mereka terdiam karena tiba-tiba Syalu berbicara dengan nada sedikit dingin, walaupun Syalu masih menggunakan cadar namun dari ekspresi matanya dapat di tebak wajahnya pun terlihat murung, sisa-sisa air matanya pun masih terlihat jelas oleh Syfa, furqon dan Julian.
"Baiklah, ayo kita ke parkiran sekarang." Ucap Julian tanpa bertanya lagi pada Syalu.
Syalu pun langsung berjalan melewati mereka bertiga dengan langkah gontai, entah apa yang ada di fikiran nya saat ini, yang jelas dia ingin cepat sampai di kamar dan menangis Sekuat-kuatnya.
"Syfa, ada apa? apa yang terjadi?" Ucap Julian.
"Nanti aja kak cerita nya, mending kita, pulang sekarang." Ucap Syfa.
"Ya udah, ayo kita susul Syalu."Ucap Julian.
" Hum."Angguk Syfa.
__ADS_1
Kemudian mereka melangkah keluar menyusul Syalu, dan ternyata Syalu tidak langsung menghampiri Bintang, dia lebih memilih menunggu di bawah pohon yang Rindang yang sengaja di tanam di sekitar masjid, dia sengaja menunggu di situ karena tidak ingin mengganggu Bintang yang sedang berfoto-foto dengan para jama'ah.
"Loh kak Syalu mana?"Tanya Syfa yang kemudian mengedarkan pandangan nya kearah lain untukencari Syalu.
" Itu mbak Syalu."Tunjuk Furqon.
"Ya udah kita ke Syalu aja dulu, itu kayak nya para jama'ah masih antri mau foto sama UB." Ucap Julian.
"Ya...bakal lama dong pulang nya, kasian kak Syalu tuh, dia lagi sedih banget." Ucap Syfa.
"Syfa...emang ada apa sih? kenapa Syalu tiba-tiba sedih kayak gitu?" tanya Julian.
"Cerita nya panjang kak, tadi kita nggak sengaja dengar pembicaraan Abah Sudin sama papa nya kak Syalu, dan pada intinya ternyata papa kak Syalu udah mengetahui semua kejadian yang menimpa kak Syalu." Ujar Syfa.
"Terus?" tanya Furqon dan Julian serempak.
"Ya terus kak Syalu sedih, papa kak Syalu berharap dia segera pulang, papa kak Syalu ingin menebus dosa-dosa nya pada kak Syalu.
"Apa Syalu ingin menemui orang tua nya?" Tanya Julian.
"Seperti nya kak Syalu belum ingin, dia masih belum siap bertemu dengan orang tua nya."Ucap Syfa.
Kemudian mereka melangkah mendekati Syalu tanpa banyak bicara, Syalu pun tak bergeming dia masih sibuk dengan pemikiran nya, hati nya masih dilema setelah tahu sang papa telah mengetahui apa yang terjadi pada diri nya.
Hampir tiga puluh menit akhirnya sesi foto-foto Bintang dan penggemar nya selesai, Bintang nampak celangak celinguk mencari keberadaan para sahabat nya sampai akhirnya Julian memanggil diri nya.
"Hey...UB...sini!!!" teriak Julian sambil melambai-lambai kan tangan.
mendengar ada yang menyebut kan UB spontan Bintang menoleh ke arah sumber suara.
"Hey...kalian ngapain disitu? cepat kemari! aku sudah lelah." Ucap Bintang.
"Ya...tunggu sebentar!" Sahut Julian.
Kemudian Julian mengajak yang lain menuju parkiran mobil, tak lama mobil mereka pun berlalu dari masjid Ar-Rahman. Sepanjang perjalanan Syalu hanya diam tanpa bersuara, mata nya masih berkaca-kaca kala mengingat ucapan sang papa yang menginginkan diri nya pulang. Ketika Bintang hendak melihat Syalu dari kaca mobil, tiba-tiba saja pandangan mereka beradu.
"Ustadz... andai aku bisa berkeluh kesah pada mu, aku pasti akan menceritakan semua nya pada mu, tapi...siapa aku? aku bukan siapa-siapa mu."Ucap Syalu dalam hati...entah kenapa kali ini dia merasa sendirian, tak punya siapapun untuk berkeluh kesah, tak ada yang mengerti isi hati nya.
Air mata Syalu mencelos begitu saja melewati kelopak mata nya yang indah, cadar yang belum dia bukak pun terlihat sudah lusih karena air mata.
"Ada apa? kenapa mata indah itu begitu sedih? kenapa dia menangis? apa yang ingin kau katakan Syalu?"Sederet pertanyaan muncul di benak Bintang, tatapan mata mereka seolah-olah mampu mewakili hati masing-masing untuk berbicara.
"Ya ampun aku nggak tega banget liat kak Syalu kayak gini, apa aku harus cerita sama abang ya?" Ucap Syfa dalam hati.
Akhirnya mobil yang membawa mereka telah sampai ke penginapan, ketika pintu mobil terbuka, Syalu langsung berlalu begitu saja melewati semua nya, tepat di hadapan Bintang Syalu hanya mengucapkan sesuatu sambil menunduk.
__ADS_1
"Maaf Ustadz saya duluan." Ucap Syalu dan kemudian bergegas masuk ke penginapan.
Semua nampak bengong melihat sikap Syalu yang tiba-tiba berubah dingin, sorot mata nya yang sedihpun tak dapat dia tutupi dari semua nya, dan dengan cepat Syfa menyusul Syalu yang kemudian di susul oleh yang lain nya.