
Setelah telpon tersambung Darto pun segera memberi perintah pada orang kepercayaan nya.
"Cari tau keberadaan Doni, dan aku ingin info selengkap-lengkapnya tanpa ada yang kurang satupun." Ucap Darto dengan penuh penekanan.
"Baik tuan." Patuh orang kepercayaan Darto.
"Aku akan kirim alamat salah satu tempat usaha Doni, dan kau bisa mulai penyelidikan dari sana." Ucap Darto lagi.
"Siap tuan." Ucap orang kepercayaan Darto.
Kemudian Darto segera mengakhiri telpon nya dan meletakan nya di atas nakas tepat disebelah Rico berbaring. Ada sedikit rasa lega dalam hati nya, setidaknya ada harapan untuk pencarian Syalu dengan menggerakan orang kepercayaan nya dan semoga dengan cara ini Syalu dengan cepat di temukan setidak nya dengan cara ini dapat mengurangi rasa bersalah nya pada besan nya terutama pada Syalu.
"Jadi gimana dengan urusan Rico pa?" tanya Mar yangi ingin memastikan.
"Gimana apa nya ma?" tanya Darto bingung.
"Ya gimana nasib Rico pa? dia anak kita satu-satu nya, nggak mungkin kan kita biarkan dia seumur hidup cacat seperti ini?" Ucap Mar dengan nada kesal.
"Itu sudah papa pikirkan ma, tapi tidak untuk saat ini, tunggu sampai keadaan nya memang memungkinkan."Ucap Darto yang kembali duduk di sebelah istrinya.
Sedangkan Rico hanya terdiam lesu karena jawaban papa nya, tidak ada harapan baginya untuk sembuh dengan cepat, namun nyatanya Rico harus benar-benar pasrah menuruti kehendak papa nya.
"Apa papa yakin untuk menunda kesembuhan Rico pa?" Jawab Mar tak mengerti.
"Papa tidak bermaksud menunda kesembuhan Rico ma, biarkan Rico tetap menjalani pengobatan disini sampai benar-benar kita bisa membawanya keluar negeri untuk berobat, karena dengan situasi seperti ini tidak mungkin kita akan pergi membawa Rico untuk berobat jauh sedangkan Syalu menantu kita tidak tahu keberadaan nya dimana."Jelas Darto pada istrinya.
Setelah menimbang-nimbang ucapan suaminya akhirnya Mar pun setuju untuk menunda membawa Rico pergi keluar negeri, biarlah untuk sementara waktu Rico berobat di dalam negeri saja, mungkin itulah yang terbaik.
Keesokan harinya, kini Bintang, Syalu dan Syfa tengah bersiap untuk pergi ke Masjid Ar-Rahman, jadwal tausyiah hari ini agak lebih sedikit pagi di bandingkan sebelum nya, berhubung hari ini adalah hari terakhir Bintang tausyiah makanya masyarakat meminta untuk di adakan acaranya sedikit pagi.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Bintang pada Syalu dan Syfa.
"Hum." Ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Sya...apa hari ini kamu yakin untuk bertemu dengan orang tua mu?" Tanya Bintang lagi.
"Ya ustadz, lebih cepat lebih baik." Ucap Syalu mantap.
"Alhamdulillah...ya sudah kita berangkat sekarang ya, ayo mas kita berangkat menuju masjid Ar-Rahman." Ucap Bintang pada supir taxi di sebelah nya.
Kemudian mobil yang di tumpangi oleh mereka bertiga segera meluncur secara perlahan menuju masjid Ar-Rahman. Suasana nampak hening di dalam mobil, semua sibuk dengan pemikiran masing-masing sampai pada akhir nya Syfa membuka suaranya.
"Abang...kenapa tadi waktu Abah Sudin menawarkan mobil jemputan untuk kita malah abang tolak?" tanya Syfa penasaran.
Alih-alih menanggapi ucapan sangat adik, Bintang hanya tersenyum merespon pertanyaan dari Syfa.
"Ih...abang nyebelin...Syfa nanya kok malah senyum-senyum gitu." Cebik Syfa.
"Kok nyebelin sih? emang salah kalau abang senyum?"Ucap Bintang.
" Habis nya Syfa nanya respon abang malah senyum-senyum gitu."Sungut Syfa.
"Iya... iya maaf, kamu kayak nggak tau abang aja si dek, abang cuma nggak mau ngerepotin orang aja, apa lagi abah Sudin." Ucap Bintang dengan senyum manis nya.
Sedang asik bercanda di dalam mobil tiba-tiba suara notifikasi handphone Syfa pun berbunyi.
Ting
Dengan cepat Syfa membuka notifikasi tersebut.
"Dinda maaf semalam mas ketiduran, jadi nya lupa mau telpon Dinda,maafin mas ya!" begitulah kurang lebih isi pesan yang di kirim oleh Furqon untuk Syfa.
ada raut bahagia di wajahnya namun itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja dia cemberut tanpa tahu penyebab nya.
"Nyebelin." celetuk Syfa.
Syalu yang melihat kekesalan di wajah Syfa pun hanya tersenyum dan bertanya pada gadis imut yang ada di sebelah nya.
__ADS_1
"Ada apa Syfa? apa yang membuatmu kesal seperti ini?" tanya Syalu lemah lembut.
"Pasti gara-gara...." ucap Bintang menggantung kalimat nya.
"Apaan sih bang...enggak ya!!!" ucap Syfa tersipu.
Bintang memang mengetahui permasalahan yang terjadi antara Syfa dan Furqon, karena sebelum mereka pergi ke tempat tausyiah Furqon sudah menelpon Bintang untuk meminta maaf karena sudah membuat Syfa marah, awalnya Bintang bingung karena tiba-tiba Furqon meminta maaf pada nya, setelah Furqon menjelaskan duduk permasalahan nya barulah dia paham kalau adiknya tengah merajuk akibat menunggu telpon dari Furqon semalaman.
Flasback on
"Ya sudah gini aja, nanti kamu telpon lagi aja Syfa nya, siapa tahu udah nggak ngambek lagi."Ucap Bintang di telpon
" Udah saya coba berkali-kali UB, tapi Dinda nggak angkat-angkat telpon nya."jawab Furqon di telpon.
"Berarti kamu harus kirim pesan ke Syfa, nggak mungkin kan dia nggak baca, lagian inikan urusan pribadi kalian,masa harus aku yang selesai kan." Rutuk Bintang.
"Hehehe...iya-iya... maaf ya UB, tapi makasih loh saran nya."
Kurang lebih seperti itulah percakapan antara Bintang dan Furqon di telpon pagi tadi, Syfa memang sedang merajuk karena merasa telah di bohongi oleh Furqon, dia yang semalaman menunggu telpon dari Furqon hanya bisa uring-uringan di kamar namun handphone nya pun tak kunjung berdering. Alih-alih terlalu lama menunggu telpon akhirnya Syfa pun terlelap tidur dan bangun ketika akan melaksanakan shalat subuh, ketika telah selesai shalat handphone nya pun berdering dan tertera nama di layar handphone nya "Mamas Dinda" Sedikit lebay namun bagi Syfa ini sangat manis. Berkali-kali handphone nya berdering namun tetap di abaikan oleh Syfa hingga Syalu pun terpaksa angkat bicara karena tidak biasanya Syfa mengabaikan telpon.
"Syfa...kenapa nggak di angkat, mungkin ada hal penting." Ucap Syalu.
"Biarin kak, Syfa males angkat telpon mas Furqon." Jawab Syfa sedikit kesal.
"Ada apa? lagi marahan ya???" goda Syalu.
"Habis nya...mas Furqon nyebelin, janji mau telpon di tungguin sampai ketiduran nggak juga nelpon, lah ini baru nelpon." Sungut Syfa.
Syalu pun tersenyum mendengar penuturan Syfa.
"Menurut kakak, kamu angkat dulu telpon nya biar tahu apa alasan dia nggak nelpon tadi malam." ucap Syalu bijak.
"Nggak kak...Syfa lagi sebel sama mas Furqon, biar aja dia nelpon terus, biar ngerasain apa yang Syfa rasain tadi malam." Sungut Syfa.
__ADS_1
Syalu pun hanya menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Syfa, kalau sudah begini Syalu pun tak dapat berbuat apa-apa.
Flashback of