
Setelah kepergian Darto, Mar dan Rico kini keluarga Delon fokus kembali dengan kepulangan Bintang dan sang adik, entah kenapa Syalu merasa sedih dan tak rela untuk melepaskan Bintang pergi kembali ke pondok, namun dirinya tak bisa egois karena dia bukan siapa-siapa bagi Bintang, sedangkan Bintang sangat di butuhkan di keluarga nya dan juga pesantren nya.
"Syalu apa keperluan nak Bintang dan Syfa sudah di siapkan untuk mereka selama di perjalanan?" tanya Delon memecah keheningan di ruang tamu tersebut setelah kepergian keluarga Darto.
Namun Syalu masih fokus dengan pemikiran nya sehingga tak menyadari apa yang telah di bicarakan sang papa. Melihat sang putri yang tengah melamun Delon pun mendekati sang putri dan merangkul pundak Syalu.
"Apa yang tengah kau fikirkan nak hum?" tanya Delon dengan halus. ?
Syalu pun tergagap menanggapi pertanyaan sang papa dengan tiba-tiba.
"Ti...tidak pa, Syalu hanya sedang melamun saja." ucap Syalu berbohong.
"Eh...Syalu...kamu yakin dengan kata-kata kamu yang tadi?" ucap Rosa Tiba-tiba.
"Yang mana ma?" tanya Syalu bingung.
Semua orang pun tampak bingung dengan pertanyaan Rosa dan saling pandang satu sama lain.
"Jangan sok-sok bingung deh, itu yang masalah kamu mau nikah sama si ustadz." ucap Rosa ketus.
Dug
Dug
Jantung Syalu kembali berdegup, Syalu tidak menyangka kalau sang mama akan membahas kembali soal dirinya dan Bintang padahal wacana tersebut hanya untuk membuat Rico bungkam, perasaan Bintang pun tak kalah gugup nya ketika ibu dari wanita yang dia kagumi membahas masalah tersebut.
"Mama kok ngomong nya kayak gitu? jangan bikin anak kamu malu ma." ucap Delon tak suka dengan cara sang istri.
"Loh...kok papa malah nyalahin mama sih, mama kan cuma nanya, lagian Syalu itu anak kita satu-satu nya jadi kalau mau cari suami itu harus jelas bibit bebet bobot nya, dan yang tak kalah penting itu dia bisa kasih apa buat anak kita." ucap Rosa dengan sombong.
"Astaghfirullah...istighfar ma...jangan bikin malu anak sendiri dengan tingkah serakah mu ini, apa mama tidak mau belajar dari kesalahan sebelum nya?" ucap Delon pada Rosa.
__ADS_1
"Bener-bener ya si ular keket, ini orang makan apa ya? kok tu mulut kayak parutan... tajam banget,kalau nggak mikir dia lebih tua udah aku bikin peyek kali ya." Rutuk Syfa dalam hati, kali ini dia benar-benar kesal dengan sikap Rosa.
"Cukup ma...tolong jangan bikin Syalu malu di depan ustadz dan juga Syfa." Ucap Syalu memelas.
"Eh...Syalu mama tu bukan mau bikin kamu malu, mama tu bicara apa ada nya, realita nya kita hidup butuh uang mana ada hidup hanya bisa dengan modal cinta doang, bukan begitu ustadz Bintang?" ucap Rosa penuh penekanan.
Bintang pun tersenyum mendengar penuturan dari Rosa, sedikitpun dia tidak mengambil hati semua perkataan dari Rosa, Bintang mengerti Rosa hanyalah seorang ibu yang menginginkan hidup anaknya lebih baik dan terjamin.
"Ibu benar...doakan saja bu semoga saya bisa menjadi calon menantu seperti yang ibu inginkan, semoga kelak saya tidak mengecewakan ibu."Jawab Bintang dengan penuh keyakinan.
Dug
Dug
Lagi-lagi perasaan Syalu di buat tak karuan.
" Apa-apaan ini, apa maksud ustadz Bintang bicara seperti itu? dia kan tahu kalau ucapan ku tadi hanya sekedar pura-pura untuk membuat Rico pergi."ucap Syalu dalam hati.
Sedangkan Delon mendengar penuturan Bintang pun dibuat tak kalah terkejutnya, dia tidak menyangka kalau ustadz yang dia kagumi mau menjadi menantunya.
"Apa saya tidak salah dengar ustadz? eh...maksud saya nak." ucap Delon gugup.
Bintang pun tersenyum mendengar pertanyaan Delon.
"Doakan saja yang terbaik pak, kalau memang jodoh tidak kemana." jawab Bintang dengan santai.
"Mak...sud ustadz apa ya? kok dia ngomong seperti itu?" ucap Syalu dalam hati, Lagi-lagi Syalu di buat bingung dengan sikap Bintang.
"Saya tahu kamu bingung Sya...tapi setelah kejadian hari ini, saya yakin dan benar-benar ingin memperjuangkan hati kamu, dan saya benar-benar ingin membuat kamu bahagia." ucap Bintang dalam hati.
Suasana ruang tamu berubah jadi hening, semua sibuk dengan pemikiran Masing-masing termasuk Rosa, mulut nya terasa tercekat karena jawaban Bintang, namun bukan Rosa nama nya kalau tidak merutuk walaupun hanya sekedar dalam hati.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, seberapa banyak uang kamu buat menikahi putriku satu-satunya, aku jadi penasaran seberapa banyak harta yang dia miliki, kalau cuma sekedar punya pondok pesantren sih kayak nya biasa saja." celetuk Rosa dalam hati.
"Assalamu'alaikum?" seseorang telah mengucap salam sehingga membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
"Waalaikumsalam."jawab mereka serempak.
Tak lama yang memiliki sumber suara pun muncul di hadapan mereka.
"Oalah...abah Sudin toh...saya kirain siapa?" Ucap Delon seraya tersenyum.
"Iya Pak mau mastiin ustadz Bintang udah berangkat belum? soalnya tadi kiyai Somad telpon nanyain mereka." ucap Abah Sudin seraya tersenyum.
"Loh kok Abah nggak langsung telpon ke Bintang?" tanya Bintang bingung.
"Sudah katanya, tapi nggak di angkat." Jawab Abah Sudin.
"Oh...iya...astaghfirullah...lupa saya handphone nya ketinggalan di kamar." jawab Bintang sambil nyengir.
"Ya udah bang kita berangkat sekarang ya, kayaknya jemputan kita udah datang tuh." ucap Syfa seraya menunjuk arah ke luar pintu.
Syfa tidak mengetahui kalau yang menjemput mereka adalah Furqon, Furqon memang sengaja tidak memberi tahu Syfa bahwa dia lah yang akan datang menjemput, sedang kan Bintang sendiri sudah mengetahui hal itu, dia sepakat dengan Furqon untuk memberi kejutan pada Syfa, pakaian yang di gunakan nampak lebih santai tidak serapi seperti biasanya. Jaket kulit dan topi dengan warna senada dengan jaketnya pun menambah keyakinan bahwa dia bukan lah Furqon melainkan orang lain, dan tak lupa masker yang selalu dia kenakan kemanapun dia pergi.
"Baiklah kalau begitu semua nya kami mohon pamit, terima kasih telah menerima kami dengan baik di sini." Ucap Bintang dengan tulus.
"Justru kami yang berterima kasih ustadz, karena telah mengantarkan anak kami dengan selamat dan aman bahkan selama ini keluarga ustadz lah yang menampung Syalu selama dia jauh dari kami." ucap Delon penuh haru.
"Ya iyalah pa di antar dengan selamat dan aman orang ustadz nya punya maksud ke anak kita." Ketus Rosa.
"Mama!!!" Hardik Delon.
Yang lain hanya beristighfar dengan kelakuan dan kata-kata Rosa yang pedas, sedangkan Syalu hanya memandang Bintang dengan perasaan malu dan tidak enak hati, merasa di perhatikan oleh Syalu Bintang pun hanya tersenyum dengan mengedipkan mata seakan mengisyaratkan pada Syalu bahwa diri nya baik-baik saja dan tidak terpengaruh sedikitpun dengan semua sikap ibunya.
__ADS_1