
"Tentu saja boleh." Jawab Ummi Salmah.
"Benar kah itu Ummi?"tanya Syalu tak percaya.
"Apakah Ummi terlihat sedang berbohong?" Ucap Ummi Salmah.
Syalu menggelengkan kepala nya tanda dia mengerti bahwa Ummi sedang jujur dan tidak berbohong.
"Tapi Ummi..." Syalu nampak ragu untuk berbicara.
"Ada apa? apa kamu masih ragu untuk belajar di pesantren An-Nur?" tanya Ummi Salmah.
"Bukan begitu Ummi, tapi Syalu bingung dengan pakaian yang akan Syalu pakai jika memang nantinya belajar di pesantren." Ucap Syalu.
"Oh...iya...ya." Ucap Ummi Salmah tampak sambil berfikir.
"Kenapa tidak memakai baju syfa saja Ummi, sepertinya ukuran baju nya sama dengan Syfa."Ucap Bintang tiba-tiba.
Ummi Salmah tersenyum mendengar ide dari Bintang.
"Ya...kamu benar, seperti nya mereka satu ukuran."Ucap Ummi Salmah penuh semangat seolah-olah diri nya baru menemukan ide yang brilian.
Sedang kan Syalu nampak kebingungan dengan nama yang mereka sebut.
"Maaf Ummi, siapa Syfa." tanya Syalu penasaran.
"Oh itu adik perempuan nya Bintang, dan sekarang lagi belajar di pesantren."Jawab Ummi Salmah.
"Oh...adik nya,aku fikir istri nya." Ucap Syalu lega, dan tentunya itu hanya di dalam hati.
"Ya sudah...Ummi ambil kan dulu baju Syfa ya, biar kita lihat pas apa nggak kamu pakai."Ucap Ummi Salmah.
Kemudian Ummi Salmah melenggang keluar dan melupakan kalau sedang meninggal kan Syalu dan Bintang hanya berdua saja di kamar.
Mendadak suasana hening tanpa ada suara, kedua nya nampak canggung, Bintang membuang pandangan nya ke arah lain, sedangkan Syalu hanya menundukkan kepalanya.
"Aduh...si Ummi main nyelonong aja, aku harus apa ini? Syalu kalau di tinggal sendiri kasian juga, tapi kalau nggak di tinggal nanti jadi fitnah."Batin Bintang.
"Kenapa dia tidak mengajak ku bicara? apa dia tidak suka aku disini?aku harus apa?"Batin Syalu.
Kedua nya sibuk dengan pemikiran masing-masing, merasa tidak nyaman karena hanya berdua saja Bintang lebih memilih keluar menyusul Ummi nya, sedangkan Syalu nampak bingung dengan sikap Bintang yang dingin kepada nya.
"Saya menyusul Ummi dulu, siapa tau beliau butuh bantuan."Ucap Bintang tiba-tiba tanpa melihat tatapan Syalu.
"Ha? I... ya." Jawab Syalu gugup.
__ADS_1
Bintang langsung membalikkan tubuh nya menuju kearah luar kamar, namun belum sampai di dekat pintu langkah nya pun terhenti karena mendengar suara Syalu memanggilnya.
"Tunggu...Mm...mas!!!"ucap Syalu tergagap.
Deg
Deg
Deg
Langkah Bintang pun terhenti ketika mendengar panggilan itu.
"Masya Allah, ada apa ini? kenapa dengan jantung ku?" Batin Bintang.
Kemudian Bintang membalikkan tubuh nya, namun tetap mengalihkan pandangan nya ke arah lain, Bintang berusaha menjaga pandangan nya dari Syalu.
"Iya ada? apa Nona Syalu butuh sesuatu?" tanya Bintang sopan.
Deg
Deg
Sekarang giliran jantung Syalu yang berdetak tak karuan, spontan Syalu memegang dada nya.
Melihat Syalu memegang dada nya, Bintang sedikit panik karena dia fikir gadis itu sedang menahan sesak nafas atau semacam lainya.
"Astaghfirullah...Nona Syalu kenapa? apa yang sakit?" Spontan Bintang berlari berhamburan ke arah Syalu, kini jarak kedua nya begitu dekat, sehingga satu sama lain bisa saling memandang secara langsung.
Deg
Deg
Deg
Kini jantung keduanya sama-sama berdegup kencang karena jarak mereka yang semakin dekat.
"Subhanallah...ternyata dia memang benar-benar cantik jika di lihat dari dekat seperti ini." Batin Bintang.
"Astaga...ganteng nya orang ini nggak ketulungan, aku harus apa ini? ternyata dia lebih tampan jika di lihat dengan jarak dekat seperti ini, ini juga jantung aku kenapa?" Batin Syalu polos.
Sejenak mereka terdiam, hanya mata mereka yang berbicara satu sama lain, dan tiba-tiba.
"Astaghfirullah...!!! Bintang!!!"apa yang kamu lakukan?" teriak Ummi.
Kedua nya tersentak ketika mendengar teriakan seseorang dari arah luar kamar, dan menoleh serempak kearah sumber suara.
__ADS_1
"Astaghfirullah Ummi!!!"Ucap Bintang sambil mundur beberapa langkah.
"Apa yang kamu lakukan nak, kalian bukan mukhrim, kenapa jarak kalian begitu dekat." Ucap Ummi Salmah sedikit syok.
"Maaf Ummi, tadi...tadi dia..." Bintang seperti bingung ingin menjelaskan apa dengan Ummi nya.
"Maaf Ummi...ini bukan salah mas Bintang, saya yang salah tadi Syalu memanggilnya." Tiba-tiba Syalu menyela pembicaraan Bintang dan Ummi nya.
"Ha? Mas? dia panggil aku mas?" batin Bintang tak percaya.
Kali ini Ummi terkekeh mendengar Syalu memanggil Bintang dengan sebutan Mas, karena selama ini yang Ummi Salmah tau, tidak ada yang berani memanggil nya mas, bahkan seluruh santri yang dia ajar, kecuali Syfa itu pun panggilan untuk kakak laki-laki nya itu Abang.
Bintang dan Syalu saling memandang, mereka sedikit heran karena melihat Ummi Salmah tertawa.
"Ummi kenapa tertawa? apa ada yang salah dari Syalu?" tanya Syalu tak mengerti.
"Iya Ummi, apa yang salah? bahkan yang di jelaskan oleh Nona Syalu itu benar, tadi Bintang mau keluar, tapi dia memanggil sambil memegang dada nya, jadi Bintang panik dan berfikir dia sedy kesakitan."Jelas Bintang panjang lebar.
"Jadi dia tadi itu panik?"Batin Syalu, kemudian dia menjadi tersipu mendengar pengakuan Bintang.
"Tidak ada yang salah nak, Ummi hanya ingin tertawa saja."Ucap Ummi berbohong, karena dia tidak ingin membuat Syalu atau Bintang malu karena panggilan itu, justru, Ummi Salmah senang karena Syalu menghargai Bintang.
" Apa Ummi marah kepada Syalu?"tanya Syalu lagi.
"Tidak nak, Ummi tidak marah, hanya saja lain kali jangan seperti ini, kalian bukan mukhrim dan tidak baik untuk kalian berdua dalam satu ruangan." Ucap Ummi Salmah menjelaskan.
"Maaf Ummi, Syalu belum paham akan hal itu, untuk itu mohon bimbing Syalu agar menjadi pribadi yang lebik baik lagi." Ucap Syalu menyesal.
"Em...sudah-sudah jangan sedih ya, iya nanti Ummi akan bimbing dan ajarin Syalu ya." Ucap Ummi menenangkan Syalu.
"Terima kasih Ummi." Ucap Syalu lega kemudian memeluk Ummi Salmah dengan hangat.
"Tapi tidak untuk kamu ya Bintang, kamu kan seorang ustadz kamu tau artinya jika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim berada dalam satu ruangan." Omel Ummi Salmah pada anak nya.
"Ha? jadi dia seorang ustadz?"Batin Syalu.
"Iya Ummi. Maaf kan Bintang, Bintang khilaf." Ucap Bintang menyesal.
"Untuk kali ini Ummi maafkan, tapi tidak lain kali, kamu itu seorang ustadz nak, kamu panutan dan contoh untuk para santri-santri mu, kamu selalu memberikan tausyiah yang bermanfaat bagi mereka, jika mereka tau ustadz yang selama ini mereka bangga-banggakan dan hormati seperti ini tidak menutup kemungkinan mereka akan kecewa."Jelas Ummi panjang lebar.
"Iya Ummi." Hanya itu yang keluar dari mulut Bintang.
Melihat Bintang di tegur oleh Ummi nya, ada perasaan bersalah di hati Syalu.
"Selain tampan dia juga sangat menghormati ibu nya, Ustadz yang manis, pantas saja kalau lihat wajah nya terasa sangat damai dan nyaman." Ucap Syalu dalam hati yang tak henti-hentinya memuji Bintang.
__ADS_1