
"Baiklah aku percaya kepadamu, tolong jangan khianati kepercayaan ini Syalu." Ucap Doni kemudian.
"Tidak mas...percayalah, apa yang aku katakan semua nya benar.
Kemudian Doni diam sejenak lalu berkata pada Syalu.
" Kapan kau akan pergi?"tanya Doni.
"Malam ini mas." Jawab Syalu penuh semangat.
"Apa? tidak mungkin Syalu, ini sudah pukul sebelas malam." Ucap Doni.
Sejenak Syalu terdiam, dia memikirkan kata-kata Doni, memang ada benar nya apa yang di katakan Doni, jam sudah menunjukan pukul sebelas, tapi Syalu tidak mau ambil resiko jika terus berada di rumah Doni, takut kalau laki-laki itu berubah fikiran dan mengetahui kalau dirinya telah membohongi Doni.
"Tidak apa mas, lebih cepat lebih baik." Ucap Syalu.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkan mu sampai pada tujuan." Ucap Doni.
Deg
Deg
Syalu terkejut dengan kata-kata Doni yang ingin mengantarkan nya pulang.
"Waduhhh...bisa kacau ini, kalau sampai mas Doni mengantar ku,bisa ketauan semua kebohongan dan ide-ide gila ku." Ucap Syalu dalam hati.
"Kenapa kamu diam?" tanya Doni.
"Oh...ti..dak mas, aku hanya mikir kalau sampai mas yang mengantarkan aku, aku akan merasa tambah bersalah sama mas." Ucap Syalu berbohong.
"Tapi aku tidak mungkin membiarkan mu pergi sendiri." Jawab Doni.
"Percaya sama aku mas, aku bisa sendiri." Ucap Syalu meyakinkan.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksa mu lagi, tapi aku tetap akan mengantarkan mu sampai terminal." Ucap Doni memaksa.
Kali ini Syalu sedikit berfikir dengan tawaran Doni, sepertinya dia harus menerima nya karena kalau sampai di tolak Doni akan mencurigai dirinya.
"Baiklah mas, aku akan bersedia kamu antar ke terminal, terima kasih atas kebaikan mu mas." kali ini ucapan Syalu benar-benar tulus untuk laki-laki itu.
__ADS_1
"Hm." Jawab Doni singkat.
"Apa aku boleh mengganti pakaian ku sekarang mas, jujur aku merasa risih dengan gaun ini." Tanya Syalu.
"Tentu." Lagi-lagi Doni menjawab singkat.
Hati Doni berkecamuk antara iklas dan tidak melepaskan Syalu, jauh dari lubuk hati nya dia merasa ada yang janggal dari semua kejadian ini, namun di tepis nya jauh-jauh agar tidak menimbulkan keraguan lagi, penjelasan Syalu sebelumnya sudah membuat nya yakin walaupun belum seratus persen kalau Rico memang biang masalah nya.
Sedangkan Syalu hendak beranjak dari kamar utama menuju kamar nya untuk mengganti pakaian nya, namun tiba-tiba langkah nya terhenti ketika suara Doni menghentikan nya.
"Tunggu Syalu!!!" suara lantang Doni menghentikan Syalu.
Seketika langkah Syalu terhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Dari arah lain Doni dengan cepat melangkah ke Syalu dan berkata.
"Apa aku boleh memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" Tanya Doni penuh harap.
"Ha?" Syalu terdiam beku ketika mendengar permintaan Doni.
Melihat reaksi Syalu tentu Doni mengerti dengan ketakutan gadis itu.
"Aku nggak akan macam-macam Syalu, jadi kamu nggak usah takut." Jelas Doni kemudian.
"Ini tidak akan lama, hanya sebentar anggap ini pelukan terakhir tanda perpisahan."Ucap Doni meyakinkan.
"Baiklah, kau boleh memeluk ku."Ucap Syalu pasrah.
"anggap saja ini pelukan rasa Terima kasih ku karena kau sudah membebaskan ku dari sini, melihat sikap mu yang berubah seperti ini sebenarnya aku tak tega telah berbohong kepadamu, tapi aku tidak akan mengambil resiko yang akan membahayakan kehormatan ku."Ucap Syalu dalam hati.
tanpa aba-aba Doni langsung memeluk Syalu.
Grep...
Syalu tersentak, Dia kaget ketika Doni langsung memeluk dirinya.
"Aku akan merindukan mu Syalu." Ucap Doni kemudian.
"Ha?" Syalu tercengang mendengar pengakuan Doni.
"Apa-apaan ini, kenapa dia jadi melow gini? Aduh...gawat ini kalau sampai dia berubah fikiran." Bisik Syalu dalam hati.
__ADS_1
Syalu berusaha menetralisir kan rasa tegang nya karena di peluk oleh seorang laki-laki, Syalu berusaha menenangkan Doni yang tengah terbawa perasaan. Syalu sedikit merenggangkan pelukan nya bersama Doni.
"Maaf mas, dada ku sedikit sesak." Ucap Syalu yang kemudian pelukan nya di lepas oleh Doni.
"Oh ya maaf, aku hanya merasa sesuatu akan hilang dari hatiku jika kau pergi." Ucap Doni jujur.
Syalu tersenyum mendengar pengakuan Doni, namun kali ini dia harus benar-benar keluar dari rumah Doni sebelum laki-laki itu menyadari bahwa diri nya telah membohongi dirinya. Untuk menyakinkan Doni, Syalu menggenggam erat tangan Doni dan berkata.
"Mas...percaya sama aku ya, mas pasti dapatin cewek yang jauh lebih baik dari aku, lebih mengerti segala nya dari aku." Ucap Syalu meyakinkan.
"Tapi aku tidak yakin akan mendapatkan perempuan seperti kamu Syalu, kamu wanita baik dan tulus." Ucap Doni sungguh-sunguh.
"Wanita seperti itu masih banyak mas di dunia ini, hanya satu pesan aku sama kamu, mencari perempuan jangan hanya melihat kecantikan fisiknya saja mas tetapi lihat lah juga hati nya, wanita yang cantik hatinya akan membawamu menuju perubahan yang jauh lebih baik lagi." Sedikit nasehat untuk Doni yang Syalu ucapkan.
Mendengar kata-kata Syalu Doni terdiam, dia memikirkan kata-kata wanita itu, apa yang di katakan Syalu memang benar.
"Mas..., maaf kalau Syalu udah lancang bicara ini sama mas, tapi Syalu harap mas bisa berubah, tinggalkan pekerjaan mas yang di benci oleh Allah." Kata-kata Syalu benar-benar sukses membuat hati Doni bergetar, tak jauh beda dengan Syalu diapun merasa bingung kenapa bisa mengatakan hal itu untuk Doni.
"Aduh...kok jadi ceramah sih, ntar Doni nya berubah fikiran gimana? ini mulut juga nggak bisa di rem, ingat Syalu...ingat...tujuan kamu pergi dari rumah ini, bukan ceramahin yang punya rumah." Rutuk Syalu dalam hati.
Syalu nampak khawatir karena sudah berani menasehati Doni, tangan nya sedikit *******-***** ujung gaun yang dia pakai, melihat hal itu Doni tersenyum dan mengerti akan kecememasan wanita yang ada di hadapan nya.
"Baiklah nanti akan aku fikirkan." Ucap Doni singkat.
"Ha?" Syalu tercengang mendengar jawaban Doni, kali ini dia pun tersenyum bahagia karena Doni tidak marah dengan ucapan nya.
"Ya sudah gantilah pakaian mu, aku tunggu di bawah." Ucap Doni kemudian.
"Baiklah." Ucap Syalu tersenyum.
Kemudian Syalu menuju kamar nya untuk mengganti pakaian nya dengan pakaian yang lebih sopan lagi dari sebelum nya, sedangkan Doni sudah berada di luar rumah tepat nya di dalam mobil menunggu kedatangan Syalu, sambil menunggu Syalu nampak Doni mengeluarkan handphone nya dan menelpon seseorang.
Kring
Kring
Kring
"Parman handphone kamu itu bunyi, angkat dulu siapa tau penting." Ucap bik Jum yang duduk di sebelah Parman.
__ADS_1
Dengan sigap Parman meminggirkan mobil yang di kendarai nya. Seketika matanya melotot saat melihat nama siapa yang muncul di handphone miliknya. Melihat reaksi Parman tentu membuat bik Jum bingung dan penasaran.