DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 49. PERGILAH


__ADS_3

Melihat Syalu menangis sesegukan Bintang merasa tak tega dan menaruh iba, sama hal nya dengan Julian, dia pun turut sedih melihat Syalu menangis seperti itu, walaupun dia tidak banyak tahu cerita tentang diri Syalu namun hati nya pun turut sakit menyaksikan akan hal itu.


"Jadi tempat yang akan Abang kunjungi itu tempat nya kak Syalu bah?" tanya Syfa sedikit terkejut.


Sama hal nya dengan Bintang dan Julian, Bintang tidak menyangka kalau tempat yang akan dia kunjungi adalah tempat asal Syalu, pantas saja Abahnya meminta mereka pulang dengan mengajak Syalu, mungkin Abahnya ingin Syalu tahu.


"Iya tempat kampung halaman Syalu, bahkan masjid yang akan jadi tempat Tausiyah abang mu itu begitu dekat dengan rumah nak Syalu, benar begitu nak?" Tanya Kiyai Somad pada Syalu.


"Tunggu!!!kenapa Abah bisa tahu kalau tempat aku Tausiyah itu dekat dengan rumah Syalu? tanya Bintang bingung.


Pertanyaan Bintang hanya di respon oleh kiyai Somad dengan senyuman, dia tidak langsung menjawab sehingga Julian pun turut penasaran akan hal itu.


"Iya bah, kenapa Abah bisa tahu?"Ucap Julian penasaran.


"Sebenarnya kampung Syalu itu bisa di katakan tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar namun penduduk nya begitu padat dan juga ramai, nah di sana itu hanya satu memiliki masjid yang besar ya itu masjid Ar-Rahman." Jelas kiyai Somad sedikit.


"Tunggu!!! ya kalau tidak salah tadi pagi itu yang menelpon Lian bilang juga sih bah kalau acaranya itu di masjid Ar-Rahman." Jawab Julian Spontan.


"Apa benar begitu kak Syalu? apa di tempat kakak ada masjid yang bernama Ar-Rahman?" tanya Syfa penasaran.


Syalu hanya menjawab pertanyaan Syfa dengan sebuah anggukan sedangkan air mata nya terus mengalir.


"Di kampung itu hanya memiliki satu masjid yaitu Ar-Rahman, di tempat lain ada juga tempat beribadah yaitu musholah itu pun jaraknya lumayan jauh bisa di katakan tempat nya kampung sebelah."Ucap Kiyai Somad lagi.


Melihat Syalu yang tak kunjung berhenti menangis, Ummi Salmah pun mendekati nya dan menghapua air matanya. Sedangkan Bintang diam-diam melirik Syalu namun pandangan nya segera beralih ketika kiyai Somad berkata sesuatu.

__ADS_1


"Katakanlah sesuatu nak, mungkin ada satu hal yang kau ingin kan?" tanya Kiyai Somad.


"Katakanlah Syalu!selagi ada kesempatan hum!!" Ucap Ummi Salmah meyakinkan.


Syalu mengangguk paham dengan kata-kata yang di maksud Ummi Salmah, dia pun berusaha berbicara walaupun terbata-bata.


"A...bah...Sya...Sya...lu ingin sekali pu...lang, tapi Syalu takut." Ucap Syalu sesegukan.


Seketika Kiyai Somad tersenyum, benar dugaan nya kalau Syalu sangat merindukan orang tua nya, namun ada satu hal yang membuatnya bertahan untuk tidak kembali, bisa jadi rasa takut dan juga trauma nya.


"Abah paham maksud mu nak, untuk itulah abah meminta kalian berempat untuk pulang kerumah, abah ingin kita bahas ini."Jelas Kiyai Somad.


" Maksud Abah?"tanya Syfa tak mengerti.


"Sewaktu Abah tau dari ustadz Alvi tentang tawaran Tausiyah di kampung W, Abah jadi teringat dengan kampung Syalu karena waktu itu Syalu sempat cerita asal tempat tinggal nya, kemudian Abah cari tau tentang alamat tempat Tausiyah nya, ternyata masjid Ar-Rahman, nah di situ Abah baru ingat kalau di kampung W punya sahabat kecil nama nya Sudin, tapi kalau nggak salah orang-orang sana memanggil nya Abah Sudin, mungkin nak Syalu kenal dengan beliau?" tanya Kiyai Somad pada Syalu.


Kiyai Somad tersenyum bahagia, dia ingat betul tentang sahabat nya, yang di katakan Syalu memang benar, dia bukan golongan orang tidak mampu, memang sejak dulu dia berniat jika sudah pensiun dari pekerjaan nya dia akan mengabdikan diri sebagai marbot rumah Allah sampai akhir hayat nya.


Syfa, Bintang dan Julian masih nampak bingung kecuali Ummi Salmah karena dia memang sudah mengetahui cerita nya dari sang suami,mungkin ini semua nampak hanya kebetulan atau memang sudah jadi takdir Allah.


"Kau benar nak, memang begitulah sahabat kecil ku itu, sudah lama Abah tidak bertemu dengan nya, terakhir kali waktu itu Bintang berusia sepuluh tahun, sedangkan sekarang usia nya sudah dua puluh delapan tahun, tapi walaupun sudah puluhan tahun tidak bertemu alhamdulillah kami tetap berkomunikasi lewat telpon." Jelas kiyai Somad.


"Abah...sebenarnya Syalu ingin sekali ikut pulang kekampung walau hanya sekedar melihat orang tua Syalu dari kejauhan, tapi rasa nya Syalu belum sanggup, takut kalau mereka menyadari keberadaan Syalu dan tetap memaksa Syalu untuk kembali pada Rico." Ucap Syalu dengan wajah sedih.


"Sebenarnya abah mengerti dengan yang kau takutkan, tapi ingat mereka tetaplah orang tua mu, Abah yakin mereka tidak sekejam itu sehingga harus memaksa mu kembali pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu."Ucap Kiyai Somad.

__ADS_1


"Apa yang harus Syalu lakukan bah? jujur Syalu merasa trauma, Syalu memang merindukan mereka tapi rasa takut ini mengalahkan semuanya bah."Ucap Syalu dengan isak.


Melihat hal itu tentu Ummi Salmah menjadi tidak tega dan segera memeluk Syalu untuk menenangkan gadis itu.


"Istighfar nak, jangan sampai amarah mengendalikan dirimu." Ucap Ummi Salmah.


"Gimana kalau kak Syalu pakai cadar aja sementara, jadi kak Syalu bisa pulang tanpa rasa khawatir, dan mereka tidak akan mengenali kakak, Syfa yakin kalau kalian ketemu mereka tidak akan tahu kalau itu kakak." Tiba-tiba muncul sebuah ide dari Syfa.


"Sepertinya itu solusi yang bagus, dengan begitu kamu nggak perlu khawatir jika bertemu dengan kedua orang tua mu, karena mereka tidak akan menyadari bahwa itu kamu Syalu."Ucap Julian membenarkan ide Syfa.


"Jadi maksudnya kami pergi berdua gitu?"tanya Bintang sedikit bingung.


" Uh...itu mah mau nya abang kalau pergi berdua sama kak Syalu."Ucap syfa cekikikan.


"Iya bukan mukhrim tau...!!!" sungut Julian.


"Is... kalian ini, su'udzon saja jadi orang." Jawab Bintang sewot.


"Mereka benar Bintang, tidak mungkin Abah membiarkan kalian pergi hanya berdua, abah tidak mau dikemudian hari akan timbul fitnah, untuk itu abah menyuruh kalian berempat pulang, karena abah tau Syalu pasti ingin pulang untuk melihat kedua orang tua nya." Ucap Kiyai Somad.


"Jadi maksudnya Syfa dan kak Julian juga ikut bah?" tanya Syfa pada abahnya.


"Iya, kalian berdua harus ikut, jadi Lian selama disana kamu bisa mendampingi Bintang, dan Syfa kamu bisa menemani Syalu selama disana." Jelas, kiyai Somad.


"Bah." Ucap Syalu dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Pergilah nak!!! obatilah rasa rindumu pada orang tua mu, dan pastikan kalau keadaan mereka baik-baik saja, jika memang kau ingin pulang dan tinggal disana itu juga tidak apa-apa, tapi jika memang kau masih ingin belajar dan tinggal disini, maka rumah dan pesantren ini pintu nya akan selalu terbuka untuk mu."Ucap Kiyai dengan penuh kasih sayang.


Seketika suasana menjadi haru, Syalu sangat berterima kasih karena telah di pertemukan dengan keluarga yang sangat baik dan penyayang seperti keluarga besar kiyai Somad.


__ADS_2