
"Aduh...gimana ini...abang pasti udah curiga ini, Syfa...Syfa...tamat dah riwayat mu."Ucap Syfa dalam hati, kali ini tubuh nya merasa panas dingin karena tatapan kakak nya seolah-olah mengintimidasi dirinya dan Furqon
Sedangkan Furqon nampak kaku dan tak bisa berbuat apa-apa lagi, kini Furqon hanya bisa pasrah jika memang Bintang ingin memarahinya.
"Furqon...ikut aku, aku ingin berbicara dengan mu!" Ucap Bintang.
"Baik ustadz." Jawab Furqon pasrah.
Mendengar Furqon akan di ajak bicara oleh kakaknya mendadak Syfa menjadi gemetar dan takut, takut jika kakak nya akan melakukan sesuatu pada Furqon. Kemudian Bintang dan Furqon pergi menjauh dari Syalu dan Syfa.
"Kak Syalu...gimana ini? Syfa takut kak..." rengek Syfa seperti anak kecil.
"Kenapa kamu harus takut Syfa, toh kalian tidak melakukan apa-apa." Jawab Syalu santai, memang dirinya belum mengerti apa-apa masalah Syfa dan Furqon.
Mendapat respon santai dari Syalu tentu membuat hati syfa tambah yak tenang, dia memang tak bisa menyalahkan Syalu seutuh nya karenaemang Syalu tak mengerti permasalahan dirimua dan Furqon.
"Kak...sebenarnya..." Nampak Syfa ragu ingin berbicara.
"Ada apa? apa yang kau ingin bicarakan." Tanya Syalu.
"Kak sebenarnya tadi mas Furqon ingin men taaruf Syfa." Ucap Syfa nampak ragu-ragu mengatakan pada Syalu.
"Apa? ta'aruf?" ucap Syalu terkejut.
"Is...kakak ini...suaranya jangan keras-keras, nanti di dengar orang." Ucap Syfa sedikit berbisik.
"Maaf...lalu gimana kelanjutan nya? kamu Terima nggak?" Tanya Syalu penasaran.
"Syfa belum sempat jawab apa-apa kak, keburu kalian datang, tapi gimana ini? abang pasti marahkan?" Kecemasan hati Syfa mulai terlihat.
Seketika Syalu tersenyum mendengar kekhawatiran Syfa terhadap kakaknya, entah kenapa kali ini Syalu merasa yakin pada Bintang, laki-laki yang lembut dan penuh wibawa itu tidak mungkin mengambil tindakan yang akan merugikan siapa pun, apa lagi jika memang orang tersebut ada niat baik pada keluarga nya.
"Kakak kok senyum?" tanya Syfa ketika melihat Sy
alu tersenyum.
"Syfa...kakak percaya sama aa, dia tidak mungkin mengambil tindakan yang akan merugikan orang lain ataupun dirinya sendiri." Jawab Syalu tenang.
__ADS_1
Mendengar Kata-kata aa tentu membuat kedua alis Syfa berkerut tanda keheranan.
"Eh...tunggu...tunggu, kayaknya ada panggilan yang berubah ni." Goda Syfa.
Menyadari hal yang di maksud Syfa tentu membuat Syalu jadi tersipu, wajahnya merona seperti tomat.
"Aduh...kenapa pakai keceplosan segala sih? jadi keki kan." Rutuk Syalu dalam hati.
"Ih...si kakak malah bengong, malu ya...ketahuan sama Syfa." Lagi-lagi Syfa menggoda Syalu.
"Ih...apaan sih, enggak...kamu tu pasti salah dengar." Elak Syalu.
"Cieee...yang ketahuan...malu-malu kucing." Goda Syfa yang tak henti membuat Syalu jadi tersipu.
"Udah ah...kakak ngambek nih..."Ucap Syalu yang pura-pura merajuk.
"Idih...udah gede mau merajuk, tak bilangin aa nya nanti." Kemudian Syfa tertawa terbahak-bahak sehingga Syalu jadi salah tingkah di buat nya.
Sedangkan di tempat yang sama hanya saja berbeda posisi, Bintang masih setia memandangi Furqon yang nampak tertunduk bingung, tatapan Bintang masih sama seolah-olah mengintimidasi seorang tersangka.
"Sejak kapan?"Pertanyaan singkat yang di lontarkan Bintang sukses membuat Furqon bergetar hebat.
"UB... anu...itu...saya..." Furqon tak dapat menyembunyikan kegugupan dan rasa takut nya.
"Jawab yang jelas, sejak kapan?" Ucap Bintang tegas.
"Sejak tiga tahun lalu ustadz." Ucap Furqon tanpa ragu, kali ini dia tak dapat berkelit lagi, mengelak pun percuma, sudah kepalang tanggung mungkin memang waktunya semua mengetahui semuanya.
"Astaghfirullah...jadi selama tiga tahun kalian memiliki hubungan?" cercah Bintang.
"Ti...ti... dak ustadz, maksud saya sejak tiga tahun lalu saya memiliki perasaan terhadap Syfa, hanya saja baru hari ini saya berani mengutarakan nya." Jelas Furqon.
"Apa yang kau utarakan?" tanya Bintang sedikit ingin tahu.
"Saya mengajak Dinda Syfa untuk segera ber taaruf ustadz." jawab Furqon dengan jujur, tentu masih dengan posisi Kepala tertunduk.
"Apa? ta'aruf? Dinda yang mana kau maksud? siapa yang kau panggil Dinda?" tanya Bintang penuh selidik.
__ADS_1
"He...he...Dinda itu panggilan akrabnya saya ke Syfa ustadz, soal nya rasa canggung gitu kalau cuma panggil nama aja." Jawab Furqon cengengesan.
Sejenak Bintang terdiam mendengar pengakuan Furqon, disisi lain dia merasa bangga dengan pengakuan Furqon yang memiliki nyali untuk men taaruf adik nya, namun di sisi lain hati nya merasa resah jika membiarkan adiknya menikah di usia muda.
"Lalu apakah Syfa menerima nya? apakah Syfa memiliki perasaan yang sama?" tanya Bintang lagi.
Furqon hanya mengulas senyum di bibir nya, dia sendiri pun tidak tahu apa yang ada di hati Syfa dan apa yang akan di jawab Syfa.
"Hey...aku menyuruh mu menjawab bukan tersenyum." Ucap Bintang.
"He...he...maaf UB..., hemz...untuk maslah perasaan Syfa aku juga tidak tahu, dan juga masalah jawaban ta'aruf pun aku juga tidak tahu." jawab Furqon jujur.
"Kok bisa?"Ucap Bintang penasaran.
" Ya bisalah...orang baru aja mengutarakan, lah situ keburu dateng."Ceplos Furqon tanpa menatap manik mata Bintang yang siap melompat keluar.
"Situ nyalahin saya?" Ucap Bintang Sewot.
"Eh...tadz...jangan salah paham, bukan gitu,tadi itu maksudnya ketika saya berniat ingin men taaruf Syfa belum sempat mendengar jawaban Syfa ustadz nya udah keburu dateng."Jawab Furqon gugup.
"Ya sudah mending kita pulang sekarang, kita bicarakan ini lagi di penginapan."Ucap Bintang.
"Iya Ustadz."Jawab Furqon lega, akhirnya Bintang bisa berhenti bertanya padanya walaupun itu hanya sementara.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke penginapan dan tak lupa mereka menghampiri Syalu dan Syfa.
"Duh...kak Syalu kok mereka lama ya, apa jangan-jangan mas Furqon di apa-apain abang ya." Ucap Syfa cemas.
Tak lama Bintang dan Furqon pun dari arah kejauhan sudah terlihat oleh Syalu dan Syfa, namun karena cemas Syfa tak menyadari itu hanya Syalu yang dapat melihat mereka dari kejauhan.
"Nah itu mereka." Tunjuk Syalu pada Furqon dan Bintang.
Syfa pun mengikuti arah telunjuk Syalu, ketika melihat Furqon dalam keadaan baik-baik saja hatinya pun sedikit lega, namun di sisi lain hatinya pun menaruh rasa takut kalau kakak nya akan memarahi dirinya perihal perasaan Furqon padanya.
"Mari kita pulang! kita bicarakan ini di kamar." Ucap Bintang tegas dan dingin.
Melihat reaksi kakaknya Syfa hanya dapat menelan salivanya, keringat dingin mulai muncul di kening dan tangan nya. Sedikit melirik ke Furqon Syfa menandakan kalau dirinya sedang khawatir, namun hal tersebut mendapatkan respon anggukan kepala dari Furqon yang seolah-olah mengatakan semua nya akan baik-baik saja.
__ADS_1