DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 69. INGIN BEBAS


__ADS_3

Di tempat lain nampak Bintang tengah gusar mencari Syalu di sekitar taman belakang penginapan, jauh dari lubuk hati nya Bintang sangatlah takut kalau terjadi sesuatu pada Syalu, hembusan angin yang begitu kencang membuat Bintang sedikit menggigil, beruntung ketika Bintang ingin keluar mencari Syalu dia sempat menggunakan jaket kulit miliknya.


Malam ini lumayan ramai pengunjung,karena yang beristirahat di penginapan seperti nya lebih memilih waktu bersantai mereka di taman belakang karena memang tempat nya sangat indah dan nyaman. Bintang nampak celangak celinguk mencari-cari Syalu, dia berharap dapat menemukan Syalu di taman tersebut.


"Masya Allah Sya, kamu dimana sih? apa kamu nggak tahu kalau aku begitu mengkhawatirkan mu." Gumam Bintang.


Seketika mata Bintang tertuju pada sosok gadis sedang duduk di pojokan yang tengah melamun dengan tatapan kosong, namun masih bisa di lihat dengan jelas kalau air mata tersebut masih mengalir di pipi.


"Subhanallah...itu Syalu" Ucap Bintang sedikit memekik lalu berlari menghampiri nya.


"Tuhan ini sangat tak adil untuk ku, kenapa aku harus menghadapi situasi seperti ini." Lirih Syalu namun kata-kata nya masih bisa di dengar oleh Bintang.


"Assalamu'alaikum Sya...?" Bintang mengucapkan salam namun di tanggapi oleh Syalu dengan reaksi sedikit terkejut.


"Astaghfirullah...waalaikumsalam...u...ustadz." Jawab Syalu dengan sedikit tergagap.


"Istighfar Sya...jangan menyalahkan segala sesuatu yang telah di takdirkan untuk kita, Tuhan tidak akan menguji umatnya melebihi batas kemampuan nya." Ucap Bintang menenangkan Syalu.


"Tapi Syalu harus gimana ustadz? gimana Syalu bisa lepas dari laki-laki itu selama nya?kedua orang tua Syalu memang sudah mengetahui segala nya, tapi Syalu nggak tau apa mereka mendukung keputusan Syalu atau menyuruh Syalu bertahan dengan laki-laki bejat itu." Isak Syalu.


"Sya...kalau menurut ku kau harus menghadapi masalah ini, karena sampai kapan kau menghindari nya, perjalanan mu masih panjang Sya...kau berhak bahagia."Ucap Bintang.


"Jadi apa yang harus Syalu lakukan Ustadz?" Ucap Syalu.


"Temui orang tua mu Sya...ceritakan semua nya dan utarakan isi hatimu tentang pernikahan mu." Ucap Bintang.


Sejenak Syalu terdiam memikirkan kata-kata Bintang, hati nya masih dilanda dilema jika menyangkut kedua orang tua nya.


"Tapi u..."baru saja Syalu ingin bicara namun sudah di potong oleh Bintang.


"Sya bisa tidak kalau lagi tidak di depan orang banyak atau tidak lagi di pesantren kamu nggak usah panggil aku ustadz." ucap Bintang meminta pada Syalu.

__ADS_1


Mendengar pernyataan Bintang tentu membuat Syalu tercengang dan merasa bingung.


"Jadi maksudnya Syalu harus panggil apa ustadz?" tanya Syalu.


"Ya...terserah, yang penting jangan ustadz kalau lagi nggak ada orang." Jawab Bintang.


"Emang kenapa kalau Syalu panggil ustadz?"tanya Syalu penasaran.


"Hemz...kenapa ya? aku juga nggak tau, cuma rasa risih aja gitu."ucap Bintang sambil tersenyum.


"Oh...gitu...ya udah Syalu panggil aa aja ya? gimana?" Tiba-tiba saja Syalu memiliki ide dadakan untuk panggilan ke Bintang.


"Ha? aa?" Ucap Bintang sambil memikirkan panggilan Syalu, kepala nya sedikit manggut-manggut karena sedang menimang-nimang panggilan untuk nya.


"Iya...aa, kenapa memang nya? nggak suka dengan panggilan itu?" tanya Syalu.


"Hemz...tidak buruk, aku suka,setidak nya panggilan aa cukup membuat kita sedikit akrab." Jawab Bintang.


"Masya Allah...manis sekali senyuman itu, rasa nya tak rela ada air mata yang merusak senyuman itu."Batin Bintang.


"Kenapa aku begitu nyaman setelah menceritakan keluh kesah ku pada ustadz Bintang dan kenapa dia begitu perhatian pada ku?ah...tidak...tidak...tidak...ingat Syalu, dia adalah ustadz yang ternama, selain tampan dia juga banyak penggemarnya, jadi jangan berharap lebih, ingat statusmu yang masih jadi istri laki-laki bejat itu, lagian mana mau dia sama kamu yang statusnya sudah menikah sekalipun nanti kau sudah menjanda."Begitulah kurang lebih isi hati Syalu yang sedang berkecamuk.


Melihat Syalu terdiam dan melamun Bintang sedikit khawatir karena dia takut kalau Syalu masih memikirkan hal yang sama.


"Sya...bagaimana urusan mengenai orang tua mu? apa kau bersedia menemui mereka?" ucap Bintang yang kemudian membuat Syalu terkejut dari lamunan nya.


"Ha? apa ustadz? ups...maaf lupa, apa aa?" Syalu seperti orang bingung dia cepat-cepat menutup mulut nya karena salah panggil untuk Bintang.


Melihat tingkah Syalu yang seperti anak kecil tentu membuat Bintang sangat gemas, dia terkekeh ketika Syalu cepat-cepat menutup mulut karena salah memanggil Bintang.


"Apa kamu sudah siap ingin bertemu dengan orang tua mu?itu yang saya tanyakan tadi."ucap Bintang mengulang pertanyaan nya.

__ADS_1


"Tapi saya masih takut aa, bagaimana kalau mereka masih memaksa ku untuk tetap bertahan dengan laki-laki itu, sedangkan aku sudah tidak sudi untuk menjadi istri laki-laki itu." Ucap Syalu dengan suara bergetar menahan tangis.


"Sya...tidak baik berburuk sangka apa lagi itu pada orang tua mu sendiri, istighfar Sya...percayalah yang nama nya orang tua tidak akan menjerumuskan anak nya dalam jurang kehancuran." Ucap Bintang menasehati Syalu.


"Astaghfirullah...ampuni Syalu ya Allah."ucap Syalu lirih.


"Ingat Sya, kita masih punya Allah yang bisa menguat kan hati kita dan melindungi kita." Ucap Bintang.


"Syalu takut aa kalau menemui mama papa sendirian."Ucap Syalu kemudian.


"Apa kau ingin aku temani?tapi kita menemui mereka ketika acara tausyiah ku telah selesai disini, biar semuanya dapat di selesaikan dengan baik." Ucap Bintang.


"Kalau aa menemani ku, lalu bagaimana dengan pesantren aa? mereka butuh aa dan juga bagaimana dengan Abah?" tanya Syalu yang masih bingung.


"Kau tenang saja, nanti ini kita bicarakan bersama-sama dengan yang lain, soal Abah dan pesantren nanti aa yang urus, aa bisa telpon Abah nanti." Ucap Bintang.


"Terima kasih aa karena sudah baik sama Syal


u, terimakasih karena sudah mau membantu menemani Syalu untuk bicara dengan mama papa Syalu."Ucap Syalu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya sama-sama...ya sudah jangan sedih lagi ya, aa nggak suka lihat kamu sedih kayak gini." Ucap Bintang lagi.


Deg


Deg


Syalu jadi tersipu wajahnya merona seperti tomat, ada perasaan bahagia yang dia rasakan ketika Bintang begitu perhatian padanya, namun disisi lain dia tak bisa mengabaikan kalau dirinya tak bisa berharap lebih pada perasaan nya sekalipun dia sangat mengagumi sosok Bintang.


Sejenak kedua nya terdiam dan sama-sama merasa canggung.


"Aduh...kenapa aku jadi banyak omong gini sih? kenapa aku jadi sok-sok" an akrab gini sama Syalu, jadi keki kan kalau udah kayak gini, ini juga yang lain pada kemana."Batin Bintang, keduanya nampak salah tingkah.

__ADS_1


Cukup lama kedua nya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan mereka saat ini.


__ADS_2