DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 47. PESEK


__ADS_3

Di dalam kelas nampak Syalu dengan fokus memperhatikan setia pelajaran yang di berikan oleh Bintang, sedangkan Gendis dia sibuk berhalusinasi tentang diri nya dan Bintang, seperti biasa dengan menopang dagu menggunakan kedua tangan nya Gendis senyum-senyum sendiri sambil memandang Ustadz Bintang, melihat akan hal tersebut Bella dengan cepat mengingatkan Gendis.


"Ndis...Ndis...loe ngapain sih senyum-senyum sendiri?" Tanya Bella.


"Hemz...udah jangan ganggu, gua lagi nikmatin pemandangan yang indah di hadapan gua." Ucap Gendis tanpa sadar.


"Sssst...jangan keras-keras Ndis suara loe, biasa berabe kalau ustadz dengar." Ucap Bella setengah berbisik.


"Nggak apa-apa dong kalau my love gua dengar, kan biar sekalian dia tahu betapa cintanya gua ke dia." Lagi-lagi Gendis tanpa sadar mengucapkan itu dan masih sibuk dengan tatapan nya ke Bintang.


"Astaghfirullah...loe tu ya, di bilangin ngeyel, udah fokus aja dulu belajar nya, nanti di marahin ustadz." Ucap Bella kesal.


Namun kata-kata Bella sedikitpun tidak di gubris oleh Gendis, bahkan dia sesekali tertawa seperti orang kesurupan, itulah yang membuat yang lain tidak fokus dan memperhatikan diri nya. Menyadari akan hal kelas nya yang mulai tidak kondusif, Bintang pun mengambil tindakan dan menegur Gendis.


"Gendis...tolong jaga sikap kamu! perhatikan materi yang saya berikan!" Ucap Bintang dengan tegas.


Namun teguran tersebut di respon Gendis di luar dugaan semua orang.


"Masya Allah...indah sekali ciptaan mu ini Tuhan, andai dia mau menikahi ku saat i ni, tentu aku akan bahagia." Begitulah kurang lebih kata-kata yang di ucapkan Gendis.


Spontan kata-kata nya itu sukses membuat kelas menjadi gaduh semua santri bersorak ke arah Gendis, hal itu tentu membuat lamunan Gendis menjadi buyar, dia pun tersentak karena mendengar keributan di dalam kelas nya.


"Astaghfirullah...ada apa ini? kenapa kalian tertawa seperti itu? apa yang membuat kalian tertawa?" Tanya Gendis tak mengerti.


Melihat sahabat nya seperti tak menyadari akan kesalahan nya Bella hanya menepuk jidat nya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Loe kenapa Bell?" Tanya Gendis tak mengerti.


"Jadi loe nggak sadar apa yang loe ucapin tadi?" Tanya Bella.


"Emang gua bicara apa?" tanya Gendis tak mengerti.


"Gendis, kemarilah!!!"Ucap Bintang.


" Nah kan...mampus dah loe, marah tu pasti ustadz."Ucap Bella.


"Ada apa sih?" Tanya Gendis dengan raut wajah yang bingung.


"Maka nya...di fikir dulu sebelum bicara, ini tempat belajar bukan tempat cari jodoh." Celetuk Kharimah dengan nada kesal.


"Eh...pesek...diem loe, gua capit juga tu hidung loe."Hardik Gendis.


Spontan yang lain kembali pecah tawa nya mendengar Gendis berbicara soal hidung Kharimah, sedangkan Kharimah spontan memegang hidung nya karena ulah Gendis.

__ADS_1


"Sialan lu, bawa-bawa hidung gua, pesek-pesek gini banyak tau yang suka." Sungut Kharimah.


"Udah-udah nggak usah di ladenin ya, anggap aja angin lalu." Ucap Syalu menenangkan Kharimah.


"Cukup Gendis!!!apa, kamu tidak mendengar kata-kata saya?" Ucap Bintang tegas.


"Iya ustadz...maaf." Ucap Gendis kemudian maju kedepan untuk menghadap Bintang.


Ketika sudah sampai di depan meja Bintang Gendis pun langt bertanya pada Bintang.


"Maaf ustadz ada apa memanggil saya." Tanya Gendis sedikit takut.


"Mana hafalan yang sudah saya berikan?" tanya Bintang dengan serius.


"Ha? hafalan?" tanya Gendis bingung.


"Ya, hafalan yang saya berikan kemarin." Jelas Bintang.


"Ma...af ustadz saya belum hafal."Ucap Gendis gugup.


"Lalu apa yang kamu lakukan dari kemarin kalau sampai detik ini belum ada yang kamu hafal." Tegas Bintang.


Gendis hanya menunduk malu, dia merasa tidak berani mengatakan alasannya kenapa sampai detik ini tidak menghafal ayat yang di berikan oleh ustadz Bintang, ini semua karena dia tidak fokus dan selalu memikirkan ustadz Bintang.


"Ha? tambah?"Tapi ustadz..."Ucap Gendis terhenti karena Bintang lebih dulu menyela nya.


"Tidak ada tapi-tapian." Kemudian Bintang memberikan selembar kertas yang berisi ayat-ayat yang harus di hafal lagi oleh Gendis.


"Apa ini ustadz?" tanya Gendis bingung.


"Tambahan ayat yang harus kamu hafal juga."Ucap Bintang.


"Apa???" Gendis benar-benar terkejut dengan hukuman yang di berikan oleh ustadz Bintang, yang kemarin saja belum di hafal dan sekarang sudah bertambah lagi.


"Jangan berteriak, atau hukuman mu akan ustadz tambah lagi,sekarang kembalilah ketempat duduk mu." Ucap Bintang sedikit mengancam.


Kemudian Gendis membalikan badan nya dengan wajah di tekuk, dia tidak habis fikir kenapa ustadz Bintang lebih senang menghukum diri nya dengan menyuruh menghafalkan ayat-ayat.


Setelah selesai dengan drama di kelas nya, berhubung waktu belajar telah usai kini waktunya mereka untuk istirahat, seperti biasa semua santri dengan senang keluar kelas ada yang menuju kantin dan ada pula yang hanya duduk-duduk di bawah pohon hanya sekedar untuk bercengkrama sambil membaca Al-Quran dan sebagainya.


Kali ini Syalu dan Kharimah tidak pergi ke kantin, mereka lebih memilih duduk di bawah pohon sambil bertukar cerita satu sama lain, dari kejauhan nampak Julian tengah memperhatikan Syalu yang tengah asik bercerita.


"Masya Allah, cantik nya itu bikin adem hati." Lirih Julian.

__ADS_1


"Istighfar wey...jaga tu mata..."Ucap Bintang tiba-tiba muncul di dekat Julian.


"Astaghfirullah...is kau ini mengagetkan ku saja."Rutuk Julian.


"Habis nya dari tadi aku perhatikan dalem banget ngeliatin Syalu."Ucap Bintang.


"Siapa juga yang liatin dia, aku tuh liatin santri yang di sebelah nya, manis juga ya dia."Elak Julian.


"Ha...ha..." seketika tawa Bintang pecah kemudian menggoda Julian.


"Apa kau ingin ber ta'aruf dengan nya? kalau iya aku siap mendampingi mu." Goda Bintang.


"Hey...kau ini, sudahlah aku malas bicara dengan mu." sungut Julian.


"Hey...kenapa kau marah, aku kan hanya ingin kau cepat menikah." ledek Bintang.


"Is...kau ini, aku tidak setua itu ya, lagian aku akan menikah jika kau sudah menikah!!!" Lagi-lagi Julian di buat merajuk oleh Bintang.


Ketika mereka sedang tengah asik bercanda tiba-tiba, ada ustadz lain yang menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum Ustadz Bintang dan ustadz Julian."


"Waalaikumsalam."Jawab mereka serempak.


" Ada apa ustadz Alvi?"tanya Bintang.


"Barusan Kiyai menelpon saya dan meminta ustadz Bintang dan ustadz Julian pulang sekarang karena ada hal penting." Ucap Ustadz Alvi.


"Ada apa ya? kok tumben kiyai minta kita berdua pulang kerumah di jam sekarang."Ucap Julian bingung.


"Entahlah, mungkin memang ada yang penting, baiklah ustadz Alvi terimakasih untuk info nya."Ucap Bintang .


"Oh ya...tidak hanya kalian, tadi kiyai bilang ajak mba Syfa dan...dan...siapa ya? aku jadi lupa nama satunya." Ucap ustadz Alvi sambil mengingat-ingat satu nama lagi.


"Syalu maksu kamu?"tanya Bintang menebak.


" Nah iya! Syalu nama yang satu lagi."Ucap Alvi yang baru mengingat satu nama lagi.


"Ya sudah kalau begitu terimakasih ya ustadz Alvi, oh ya tolong sampaikan dengan ustadzah lena dan ustadzah mira untuk mengisi kelas kami sementara, bilang saja kami ada urusan mendadak, sementara itu kami akan pulang menemui kiyai Somad di rumah." Ucap Bintang.


"Baik ustadz, kalau begitu saya permisi dulu ustadz, assalamu'alaikum?" Kemudian ustadz Alvi meninggalkan mereka berdua dan segera menemui ustadzah lena dan Mira untuk menyampaikan pesan Ustadz Bintang.


Sedangkan Bintang dan Julian berbagi tugas Julian menemui Syfa sedangkan Bintang menemui Syalu dan mereka menyampaikan pesan kiyai Somad sesuai dengan pesan yang di sampaikan Alvi. Tentu saja Bintang tidak bicara di depan umum karena takut akan menimbulkan kecurigaan dan fitnah bagi mereka, jadi Bintang memanggil Syalu ke ruangan nya dan menyampaikan pesan, Abahnya.

__ADS_1


__ADS_2