DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 86. MASAKAN TERENAK


__ADS_3

"Wah...kayak nya enak nih, boleh di cobain nggak?" ucap Bintang memecah kecanggungan.


"Hehehe...tentu dong, itu kan aku sama kak Syalu yang masak." Ucap Syfa percaya diri.


"Wah...anak papa makin pinter masak ya sekarang!!!" goda Delon.


"Ih...papa...malu tau!!!"Ucap Syalu tersipu.


Kemudian mereka duduk bersama di meja makan, dan menikmati masakan yang sudah di siapkan Syalu dan Syfa.


"Um... ini benar-benar enak, abah nanti boleh nambah ya!!!"ucap Abah sudin sambil menyiapkan lauk kemulut nya.


"Beneran enak bah? alhamdulillah...semoga kalian suka ya dengan masakan kami."Ucap Syalu senang.


"Alhamdulillah...Syalu sudah mulai tersenyum kembali, dia gadis yang cantik dan juga manis...ah...entah kenapa aku begitu menyukai senyuman itu."Ucap Bintang dalam hati, tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri.


Melihat kakak nya yang senyum-senyum sendiri melihat Syalu tentu kesempatan baik tersebut tidak di lewatkan Syfa untuk menggoda kakak lelakinya.


"Hem..., Abang gimana rasa nya? benar-benar enak?"Syfa berdehem kemudian menggoda kakak nya.


" Ah...tentu, ini makanan terenak yang pernah abang makan."Ucap Bintang tergagap.


"Oh...makanan terenak, jadi kalau masakan Ummi selama ini itu biasa aja ya bang." Lagi-lagi Syfa menggoda dengan terkikik.


"Ha? i...ya...oh...tidak...tidak..." Ucap Bintang seperti orang linglung.


Seketika tawa Syfa dan yang lain nya pecah, Bintang nampak tersipu malu karena godaan sang adik, belum lagi melihat wajah Syalu tentu rasa nya seperti kehilangan muka.


"Is...kau ini ya, awas aja nanti abang bales!" sungut Bintang.


"Ustadz tambah lagi nasi nya." Ucap Syalu sambil meletakkan satu centong nasi kepiring Bintang.


"Udah...Sya...ini aja masih banyak." tolak Bintang sedikit canggung.


"Nggak apa-apa ustadz, ustadz makan yang banyak ya, seharian ini pasti lelah kan karena banyak kegiatan." Ucap Syalu, tangan nya begitu telaten meletakkan lauk pauk ke piring Bintang.


"Andai ustadz Bintang ini mau menjadi mantu ku, tentu aku sangat senang karena aku yakin dia bisa membimbing putri ku ke hal-hal yang baik dan positif." Ucap Delon dalam hati.

__ADS_1


"Pak Delon...mari makan, kenapa melamun saja nanti lauk nya habis loh saya makan." ucap Abah Sudin bercanda.


Mendengar candaan Abah Sudin sontak membuat yang lain terkekeh, ruang makan yang biasa nya sepi kini menjadi hangat karena penuh dengan candaan, Rosa yang berada di kamar pun bisa mendengar jelas ketika mendengar suara suaminya tertawa.


"Ih...si papa...bener-bener ya, di meja makan dia bisa tertawa bahagia tanpa ingat istrinya di sini yang lagi merajuk." Sungur Rosa dari dalam kamar.


"Oh...ya Sya...dimana mama mu? apa dia tidak mau keluar untuk makan bersama?" tanya Delon, dia hampir tak menyadari ketika sangat istri tak bersama mereka.


"Mama tadi sempat keluar pa, tapi mama Minta di antar makanan nya ke kamar." Ucap Syalu, kini hati nya kembali bersedih karena teringat sikap mama nya yang kasar.


"Oh...begitu, ya sudah kita lanjut lagi makan nya, habis ini kita ngobrol di ruang depan...masih banyak hal yang ingin papa bicarakan." Ucap Delon.


Kemudian mereka makan dengan tenang tak terasa makanan yang ada di meja makan semua nya habis tanpa sisa. setelah semuanya selesai makan mereka pun duduk di ruang depan, hanya Syalu dan Syfa yang masih di dapur, tak lama mereka pun menyusuk dengan membawa nampan di tangan yang berisi puding sebagai makanan penutup.


"Papa...kita punya puding nih buat cuci mulut." Ucap Syalu sambil menyodorkan nampan yang berisi piring puding ke setiap orang yang ada di ruangan dpn.


"Wah...asik nih...habis makan di kasih yang manis-manis buat cuci mulut." Sahut abah Sudin girang.


"Wah...kayaknya enak nih...!!!" timpal Bintang.


"Kalau masalah puding nggak di ragukan lagi, memang Syalu anak papa jago nya." Goda Delon pada putrinya.


"Ih...kalian berlebihan tauuuu!!!!aku kan jadi malu." Ucap Syalu tersipu.


Ditempat lain, nampak Mar tengah bersiap-siap, semua pakaian Rico telah di masukan ke dalam koper.


"Ma...serius nih Rico boleh pulang hari ini?" tanya Rico sedikit tak percaya.


"Iya sayang...itu papa lagi urus administrasi kamu, supaya bisa pulang habis ini." jawab Mar tersenyum.


"Syukur deh ma, Rico udah bosen disini....makanan nya juga nggak enak." Sungut Rico.


"Kamu yang sabar ya nak, ini semua demi kebaikan kamu." Ucap Mar menenangkan putranya.


Tak lama Darto datang dengan membawa selembar kertas berupa resep dokter.


"Kalian sudah siap ma?" Tanya Darto.

__ADS_1


"Udah pa, kita jalan sekarang?" tanya Mar pada Suaminya.


"Hum...tapi nanti kita mampir ke apotik buat tebus obat Rico, soalnya di rumah sakit ini kebetulan kosong." Jawab Darto.


"Oh ya udah berarti kita jalan sekarang aja pa." Ajak Mar.


"Oke...mama bawa kopernya ya, papa bawa Rico pakai kursi roda ini."Ucap Darto.


" Oke pa."Jawab Mar tersenyum.


Kemudian mereka beranjak keluar dari rumah sakit menuju apotik kemudian kerumah.


Dari kejauhan nampak seorang laki-laki bertubuh besar dan tegap di lengkapi dengan pakaian serba hitam tengah menerima telpon dari seseorang.


"Ya tuan...kami masih memantau, mereka baru keluar dari rumah sakit dan seperti nya akan menuju kerumah." Ucap Parman pada bos nya.


"Awasi terus gerak gerik mereka, terutama laki-laki pecundang itu, jangan biarkan dia hidup tenang." Ucap Doni, nampak suara itu tengah menahan amarah.


"Siap tuan, kami hanya menunggu perintah saja dari tuan." Ucap Parman.


"Untuk saat ini kalian pantau saja dulu, selagi dia tidak melakukan hal-hal aneh tetap jaga jarak dan pantau." jawab Doni.


"Siap tuan." Kemudian sambungan telpon pun terputus.


"Tetap jaga jarak, jangan sampai mereka curiga kalau kita mengikuti mereka."Ucap Parman pada rekan nya.


Kata-kata Parman hanya di respon anggukan oleh rekan nya.


Disudut sebuah pondok tepat nya di bawah pohon mangga yang besar nampak seorang laki-laki tampan tengah duduk melamun dengan posisi memegang buku terbalik, tanpa sadar ada sosok laki-laki yang sudah berumur mendekati nya.


"Assalamu'alaikum....ustadz???" ucap Kiyai Somad mengucap Salam pada Furqon.


Namun Furqon nampak tak bergeming dengan ucapan salam kiyai Somad, dia masih asik dengan lamunan nya, entah apa yang sedang di fikirkan oleh laki-laki muda yang tengah memegang buku terbalik tersebut, kiyai Somad hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya ketika dia mengulangi salam nya namun Furqonasih tak bergeming.


"Assalamu'alaikum ustadz???" Lagi-lagi Furqon tak bergeming, tatapan nya kosong, tubuhnya memang ada di hadapan kiyai Somad tapi fikiran nya entah sedang berkelana kemana.


"Masya Allah...jatuh cinta ini, wong di panggil-panggil nggak respon, kayak orang gila kamu senyum-senyum sendiri." Ucap Kiyai dalam hati, ya dia dari tadi memperhatikan Furqon karena tak merespon panggilan nya namun selalu tersenyum ketika masih dalam kondisi melamun.

__ADS_1


__ADS_2