
Sementara itu di rumah sakit nampak Rico tengah mengerang kesakitan karena luka-luka di seluruh tubuh nya di tambah lagi dengan posisi salah satu kakinya mengalami kelumpuhan akibat tulang pahanya remuk akibat hantaman suatu benda dan seluruh Syaraf nya tak berfungsi dengan baik oleh karena itu lah dokter menyatakan Rico mengalami kelumpuhan.
"Ma...mama...tolongin Rico ma...tubuh Rico terasa panas dan perih."rengek Rico seperti anak kecil.
"Iya nak...sabar...mama pasti tolongin kamu." Ucap Mar terisak, hati nya benar-benar hancur melihat kondisi Rico yang mengenaskan.
"Ini juga kenapa dengan kaki Rico, kenapa harus lumpuh sih ma, Rico nggak mau lumpuh pa!!!"Lagi-lagi Rico merengek dan menangis histeris.
Walaupun Rico merengek dan menangis memanggilnya papa namun Darto masih tak bergeming, hati nya benar-benar marah dan hancur melihat kelakuan putranya yang memalukan, namun tak dapat di pungkiri dari sisi lain sebagai seorang ayah dirinya pun merasa tak Terima melihat kondisi putranya yang mengenaskan.
"Pa...kenapa papa hanya diam saja, lihat anak kota pa!!! dia kesakitan." Ucap Mar terisak.
"Lalu papa harus apa ma? seharusnya anak bodoh ini berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan hal gila seperti ini!" ucap Darto dengan kesal.
"Maafin Rico pa, Rico hilaf, Rico nggak mau di penjara Rico mau sembuh seperti sedia kala." Ucap Rico sambil menangis.
"Dasar egois, seharusnya kamu berani berbuat berani pula bertanggung jawab." Sentak Darto.
"Pa...udah dong pa Rico nya jangan di marahin terus, mending sekarang papa hubungi sahabat papa yang di Singapura, siapa tahu dia bisa bantu untuk kesembuhan Rico." Ucap Mar pada Darto.
"Kita nggak akan bisa bawa Rico ke sana kalau kita belum menemukan Syalu ma, Orang-orang pasti mengira kita akan kabur, apa lagi keluarga besan kita." Jawab Darto.
"Perduli se**an dengan mereka pa, aku mau anak kita sembuh seperti dulu lagi pa." ucap Mar penuh dengan kemarahan.
"Istighfar ma, semua ini terjadi karena anak bodoh ini, kita tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja." Ucap Darto.
__ADS_1
"Kenapa sih papa lebih mementingkan orang lain dari pada anak sendiri?" Ucap Mar penuh emosi.
"Papa bukan nya tidak mau memikirkan anak kita ma, tapi anak tidak tahu diri ini sudah banyak membuat masalah." Jawab Darto kesal.
"Pa...tolongin Rico pa, Rico nggak mau cacat, Rico nggak mau masuk penjara...hu..." Tangis Rico makin pecah karena meratapi kondisi nya.
Melihat Rico yang menangis dengan histeris Darto pun merasa iba, walau bagaimana pun Rico adalah putra satu-satunya yang dia miliki, hatinya begitu perih kala mengingat apa yang di alami Rico, dan saat ini masa depan putranya terancam akibat kelumpuhan. Dengan langkah gontai Dan berat Darto mendekati putranya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Rico...tenang lah nak...jangan menangis, papa akan membawa Rico berobat keluar Negeri sampai Rico sembuh." Ucap Darto penuh kasih sayang.
"papa serius?" ucap Rico dengan mata berbinar.
"Tapi dengan satu syarat." Ucap Darto dingin.
Wajah Rico yang semula berseri tiba-tiba menjadi sedih dan di tekuk ketika Darto mengajukan sebuah syarat pada nya.
"Justru karena dia anak semata wayang kita ma, papa nggak mau dia terjerumus lebih jauh lagi, papa ingin dia jadi anak yang baik dan bertanggung jawab." Ucap Darto.
"Apa maksud papa?" Ucap Mar tak mengerti.
"Rico harus menjawab semua pertanyaan papa mengenai Syalu, setidak nya ada sedikit harapan untuk menemukan anak malang itu."Ucap Darto.
Mata Mar membeliak tak percaya ketika suaminya mengatakan hal itu, bagaimana mungkin di saat putra mereka mengalami hal yang buruk justru suaminya malah memikirkan anak orang lain. Dengan penuh amarah Mar berteriak pada suaminya.
"Cukup pa, bisa-bisa nya papa memikirkan hal lain di saat anak mu sendiri dalam keadaan hancur seperti ini, di sini Syalu hanya menantu pa!!!" hardik Mar.
__ADS_1
"Mama benar-benar berhati batu, jangan karena mama menyayangi putra mu, mama jadi menutup mata hati mama, ingat ma...disini Syalu yang menjadi korban!!!" Teriak Darto, suara bariton itu memenuhi ruangan rumah sakit dimana Rico di rawat.
Merasa tak Terima dengan sikap suaminya Mar pun dengan berapi-api masih mengelak dan membela Rico.
"Tapi korban yang sebenarnya adalah Rico pa, lihat kondisi anak mu!!!" isak Mar.
"Rico seperti ini karena perbuatan nya sendiri ma, tidak ada asap kalau tidak ada api, coba mama fikir, seandainya Syalu putri kandung kita, apa mama akan Terima jika suaminya melakukan hal ini pada putri kita? dan apa perasaan mama ketika sampai detik ini mama tidak kunjung mengetahui keberadaan putri mama yang sudah di jual ke lelaki lain oleh suaminya?"Ucap Darto lantang.
Seketika tubuh Mar luruh ke lantai, isak tangis nya semakin terasa pilu, dia menyadari apa yang di katakan oleh suaminya memang benar, sedangkan Rico nampak tengah gusar karena melihat mama nya yang mulai luluh dengan kata-kata papanya.
"Pa...sebenarnya apa yang ingin papa cari tau dari Rico? sehingga papa bisa mengabaikan kesehatan anak papa sendiri."Ucap Rico pasrah.
"Papa tidak pernah mengabaikan mu Rico, papa hanya ingin berusaha memperbaiki kesalahan yang telah kamu perbuat dengan Syalu."Ucap Darto.
" Lalu apa yang ingin papa inginkan?"tanya Rico.
"Katakan sebenarnya kau jual dengan siapa istrimu itu? dan di mana alamat laki-laki itu?" tanya Darto serius.
Dengan berat hati Rico mulai menceritakan semuanya dari awal sampai penyekapan yang terjadi pada dirinya. Darto sangat geram dengan kebodohan yang putranya lakukan, andai pada saat itu dirinya dan sang istri tidak pergi ke kota karena suatu urusan pekerjaan mungkin saat ini musibah itu tidak akan pernah terjadi.
"Pa... Rico benar-benar nggak tau alamat Doni itu dimana, kalau di wilayah kita Rico tau, tapi pada saat kemarin aku di sekap itu tempat nya berbeda lagi." ucap Rico nampak bingung.
"Maksud kamu gimana Rico?" Darto pun sekarang ikut bingung dengan jawaban putranya.
"Pa...Rico cuma tau alamat Doni yang di tempat pertama kali kita ketemu, tapi kemarn waktu Rico di sekap itu tempatnya berbeda lagi, dan Rico juga yakin dia punya tempat lain mungkin semacam Rumah utama, karena di daerah kita dia cuma sekedar tempat usaha saja."Jelas Rico.
__ADS_1
"Berarti kemungkinan besar Syalu tidak ada di sekitar wilayah kita." Gumam Darto.
Kemudian Darto segera merogoh ponsel nya yang dia letakan dalam saku celana nya dan segera melakukan panggilan pada seseorang kepercayaan nya.