
"Siapa? Kok nggak di angkat?" Tanya bik Jum penasaran.
"Si bos yang telpon bik." Jawab Parman singkat.
"Ya udah, buruan di angkat siapa tau penting!" Lanjut bik Jum.
"Iya bik, saya angkat telpon dulu ya." Ucap Parman.
Kemudian Parman dengan cepat mengangkat telpon dari Doni.
"Hallo...tuan." Sapa Parman.
Baru saja Parman ingin menyapa tiba-tiba sudah dapat omelan dari sang bos.
"Kenapa lama angkat telpon nya ha?" Teriak Doni dari telpon.
"Maaf tuan, tadi saya lagi fokus bawa mobil." Elak Parman.
"Alasan..., Dimana posisi kamu sekarang?" tanya Doni kesal.
"Masih di jalan tuan, Kira-kira dua jam lagi kami akan sampai." Jelas Parman.
"Putar balik sekarang!!perintah Doni.
" Ha?"Parman sedikit terkejut dengan perintah Doni.
Melihat Reaksi Parman tentu saja membuat bik Jum penasaran.
"Ada apa? kenapa wajah mu seperti itu?" tanya bik Jum sedikit berbisik ke Parman.
Namun dengan cekatan Parman memberi kode ke bik Jum untuk diam sementara waktu. Karena dia lagi fokus dengan perintah Bos nya.
"Kau dengar apa tidak Parman kata-kata ku?" Hardik Doni.
"Iya tu...an dengar." Jawab Parman gugup.
"Lalu tunggu apa lagi, jalan sekarang!!! ucap Doni sedikit berteriak.
"Ta...pi tuan, pulang kampung bik Jum nggak jadi nih?"tanya Parman Gugup.
" Semua nya batal, tidak ada yang boleh pulang kampung atau pun libur, cepat kembali sekarang!!!"Perintah Doni.
"Siap tuan, kami putar balik sekarang." Patuh Parman.
Kemudian Doni memutus telpon nya, dan kembali fokus untuk mengantarkan Syalu ke terminal, sedangkan Parman segera memutar balik haluan mobil nya.
__ADS_1
"Loh...Man kok puter balik?" tanya bik Jum bingung.
"Nggak tau bik, saya cuma nurutin perintah tuan aja." Jawab Parman.
"Apa? den Doni nyuruh kita puter balik Man?" tanya bik Jum tak percaya.
"Iya. Emang kenapa bik? bibik nggak mau balik lagi kerumah tuan Doni." Tanya Parman.
"Oh...enggak, cuma bingung aja, tadi kita di suruh pergi, nah sekarang kita di suruh balik." Jawab bik Jum cekikikan.
"Kenapa Jum malah tertawa?" tanya Parman.
"Oh...tidak apa-apa, hanya saja ini sedikit aneh." Ucap bik Jum.
Di lain tempat Syalu telah mengganti pakaian nya dan segera turun kebawah menuju parkiran mobil. Sepanjang perjalanan Syalu dan Doni hanya diam, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tak sampai Satu jam kini mobil mewah Doni telah sampai di terminal.
"Terima kasih mas telah mengantar ku sampai terminal." Ucap Syalu memecah kesunyian.
"Sama-sama." Ucap Doni singkat.
Ketika Syalu hendak keluar dari mobil tiba-tiba saja Doni mencekal tangan Syalu untuk menghentikan nya.
"Tunggu Syalu!!!" Cegah Doni.
"Ada apa mas?" tanya Syalu sedikit heran.
"Ta...pi... mas?"Kata-kata Syalu terhenti karena Doni memotong nya.
"Jangan menolak, kamu di jalan pasti butuh ini." Ucap Doni.
Syalu nampak berfikir, apa yang di katakan Doni memang benar, tidak ada alasan Syalu untuk menolak lagi.
"Baiklah mas, Syalu akan Terima, terima kasih banyak untuk semuanya."Jawab Syalu.
" Syalu, apa kamu tidak mau mengobati penyakit kamu?"tanya Doni tiba-tiba.
Deg
Deg
Seketika Syalu terkejut dengan pertanyaan Doni, Syalu tidak berfikir kalau Doni akan bertanya tentang pengobatan diri nya.
"Apa yang kamu fikirkan? apa kamu tidak mau sembuh?" Lagi-lagi Doni bertanya.
"I...ya mas aku mau sembuh." Jawab Syalu gugup.
__ADS_1
"Oh...ya udah kalau gitu aku akan mengantarkan mu ke dokter untuk periksa sekarang." Ucap Doni.
Tentu saja pernyataan Doni barusan membuat Syalu merasa ketar ketir, semua kebohongan nya akan terbongkar kalau sampai Doni memeriksa kan diri nya ke dokter.
"Aduh...matilah aku, kenapa jadi gini sih!!! kenapa nggak ke fikiran ya kalau Doni akan bicara kayak gini, aduh...aku harus jawab apa ini?" Ucap Syalu dalam hati.
"Syalu...Syalu...apa kamu dengar aku?" tanya Doni mengejutkan kecemasan Syalu.
Syalu tersentak ketika Doni memanggilnya beberapa kali, karena cemas akan tawaran Doni dia sampai mengabaikan Doni yang ada di samping nya.
"Oh...i...iya mas, a... aku dengar." Jawab Syalu gugup.
"Lalu bagaimana? apa kamu mau berobat dan segera sembuh?" tanya Doni lagi.
"Aku mau mas, tapi tidak untuk sekarang karena aku akan menemui kedua orang tua ku dan menyurus perpisahan ku dengan Rico." Ucap Syalu sedikit ragu.
Kali ini Syalu berharap Doni tidak memaksa nya lagi untuk periksa ke Dokter.
"Jadi kamu mau segera pisah dengan Rico?" tanya Doni sedikit terkejut.
Pernyataan Syalu barusan ternyata dapat mengalihkan pertanyaan Doni sebelum nya, tentu hal tersebut di manfaatkan oleh Syalu.
"Iya mas, aku ingin segera pisah dari laki-laki itu, aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi, kemarin aku di jual sama kamu, entah besok-besok sama, siapa lagi." Ucap Syalu dengan nada sedih.
Melihat Syalu dengan wajah sedih tentu membuat Doni sedikit bersalah. Bagaimanapun dia lah orang yang telah membeli Syalu dari Rico untuk di jadikan teman ranjang nya.
"Aku akan membuat perhitungan dengan Rico, akan ku pastikan hidup nya akan hancur." Ucap Doni dengan geram.
"Selamat menikmati kehancuran mu Rico, neraka mu akan datang segera, kau akan merasakan rasa sakit lebih dari yang aku rasakan." Ucap Syalu dalam hati.
"Mas apa boleh aku minta sesuatu dari mu?" Ucap Syalu.
"Apa itu?" tanya Doni.
"Jika suatu saat kau bertemu dengan Rico, tolong jangan katakan kalau aku pulang menemui kedua orang tua ku, aku tidak ingin dia mengetahui keberadaan ku." Ucap Syalu.
"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun, kecuali akan membuat perhitungan dengan dirinya."Jawab Doni.
"Terima kasih mas, baiklah kalau gitu aku pergi ya."Setelah selesai berbicara dengan Doni Syalu dengan cepat undur diri.
"Hati-hati ya, seperti nya aku nggak bisa ngguin kamu disini, aku ada urusan dengan Parman Bodyguard ku." Ucap Doni.
"Nggak apa-apa mas, sampai sini saja sudah cukup." Jawab Syalu.
Kemudian mobil Doni melaju pergi meninggalkan Syalu.
__ADS_1
"Uffttt...untung aja dia nggak ingat dengan kata-kata nya yang mengajak aku periksa, kalau enggak...tamat sudah riwayat ku." Ucap Syalu setelah kepergian Doni.
Syalu mencari tempat duduk yang nyaman untuk sekedar beristirahat, dia masih bingung menentukan pilihan akan kemana diri nya pergi, dia sengaja mengatakan pada Doni akan kembali pada orang tua nya supaya Doni percaya kalau dirinya benar-benar sakit dan tidak akan kabur dari nya. Yang jelas untuk saat ini Syalu belum siap bertemu dengan kedua orang tua nya, apa lagi sang mama sangat mendukung Rico untuk menjadi suaminya, bisa jadi sang mama tidak akan percaya dengan semua kejadian yang menimpa dirinya.