
"Tapi menurut saya ustadz nggak cocok sama dia, mending sama anak saya, udah cantik pinter pula." Ucap Rosa tanpa dosa.
Deg
Deg
Deg
Syalu terlonjak kaget mendengar kata-kata ibunya, sedangkan Bintang nampak salah tingkah, wajahnya memerah seperti tomat, kali ini Syfa terkikik geli, bahkan diapun mendukung niat si ular keket untuk menjodohkan Syalu dengan kakak nya.
"Maaf bu Rosa, bukankah Syalu sudah menikah?" Ucap Abah Sudin, dia sengaja berbicara seperti itu karena hanya ingin tahu reaksi Rosa seperti apa.
"Ya...ya...kau benar bah, tapikan sebentar lagi dia akan bercerai dari suaminya yang lumpuh itu." Ucap Rosa tergagap, kali ini dia merasa tidak enak pada Bintang pasalnya telah menjodohkan putrinya yang masih berstatus istri orang.
Syalu semakin bingung dengan tingkah sang mama, padahal selama ini dia yang begitu mendukung hubungan nya dengan Rico, tapi kenapa kali ini dia dengan begitu enteng berbicara tentang perceraian nya dan Rico.
"Bukankah Rico itu menantu kesayangan ibu? kenapa di suruh bercerai bu?"Ucap Abah Sudin yang seolah-olah sengaja ingin menjebak kalimat Rosa sendiri.
" Ya...itukan dulu, saya fikir dia akan membuat Syalu bahagia, tapi malah membuat anak saya menderita, bahkan dengan lancang sudah menjual putri saya pada laki-laki lain."Ucap Rosa.
"Memang putri ibu dimana sekarang?" tanya Bintang seolah-olah tidak mengetahui keberadaan Syalu.
"Entahlah saya juga tidak tahu, anak tidak tahu diri itu sampai sekarang tidak memberikan kabar." Ketus Rosa.
"Astaghfirullah..." Ucap Bintang, Abah Sudin dan Syfa serempak.
Sedangkan Syalu hanya merasakan sakit atas sikap ibu nya, sampai detik ini ibu nya benar-benar belum berubah.
"Bener-bener ya si ular keket, nggak ada hati banget sih jadi mama...kak Syalu pasti terluka tuh pas dengar kata-kata mama nya yang kasar itu, kalau abang nggak larang aku ngomong aja udah aku semprot tuh si ular keket." Sungut Syfa dalam hati.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama berbasa-basi dengan Rosa akhirnya Abah Sudin pun memutuskan ingin menemui Delon secara langsung, karena abah Sudin tidak tega melihat Syalu yang selalu di persalah kan oleh Rosa.
"Maaf Bu, bisakah kami menemui pak Delon sekarang? tidak lama kok, hanya sebentar saja." Ucap Abah Sudin langsung.
"Ya sudah silahkan masuk! tapi ingat ya bah, jangan lama-lama, karena suami saya itu sedang sakit, ntar saya yang repot ngurusin dia." Sungut Rosa.
"Iya bu Terima kasih sudah mengingat kan." ucap abah Sudin.
Sedangkan Bintang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa kasihan melihat Syalu yang selalu di pojokan oleh ibu nya sendiri, bahkan di saat dia tidak adapun mama nya masih saja menyalahkan dirinya. Raut wajah Syalu berubah jadi murung dan sedih, entah apa yang sedang di rasakan oleh gadis itu saat ini, yang Bintang tahu dia begitu peduli dengan gadis cantik yang ada di hadapan nya.
Setelah Rosa mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu, Rosa pun segera memanggil suaminya yang sedang istirahat di kamar, suasana rumah dan juga isi nya masih sama seperti dahulu, tidak ada yang berubah, Syalu begitu merindukan rumah nya bahkan kamar nya di mana selama ini tempat dia melepas lelah setelah melakukan kegiatan di luar rumah.
Tak lama Delon pun keluar dari kamar nya, tubuhnya yang dulu berisi dan terlihat gagah tidak terlihat lagi, yang ada hanyalah tubuh lemah, kurus dan tak terawat wajah yang selama ini Syalu rindu kan kian mendekat pada dirinya, wajah itu nampak terlihat lesu dan tak berdaya, ingin rasanya Syalu berlari kedalam pelukan dan menangis dalam dekapan sang papa yang sudah lama dia rindukan.
"Assalamu'alaikum?" tubuh lemah itu menyapa dengan senyum ramah nya.
"Waalaikumsalam." jawab mereka serempak.
Namun pertanyaan abah Sudin hanya di tanggapi senyuman oleh Delon.
"Saya nggak apa-apa bah, mungkin hanya kecapean saja."Jawab Delon seadanya.
Dan pandangan Delon mengedar pada tiga orang lain nya, hingga pada pandangan terakhir jatuh pada tatapan Syalu yang matanya sudah berembun ingin mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya.
"Ada apa? kenapa ustadz Bintang kesini? bukan kah hari ini dia terakhir tausyiah di kampung ini? seharusnya dia sudah kembali ke pondok kan? dan gadis ini? ya Allah...kenapa sepertinya aku sudah mengenal gadis ini sangat lama, kenapa matanya sangat mirip sekali dengan Syalu putriku!!!" Begitu banyak pertanyaan yang ada dalam hati Delon.
"Abah...ini ada apa ya???kenapa ustadz Bintang ada disini? bukankah hari ini beliau harus pulang ke pondok?" tanya Delon pada abah Sudin.
Abah Sudin pun tersenyum dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Delon.
__ADS_1
"Mereka hanya ingin bersilaturahmi saja pak, apa tidak boleh?" goda abah Sudin.
Mendengar kata-kata abah Sudin Delon pun terkekeh, namun masih terasa mengganjal di hatinya karena kedatangan ustadz Bintang dan dua gadis yang bercadar.
"Tentu boleh bah, ini kesempatan baik dan bagus bisa di datangin orang terkenal seperti ustadz Bintang ini, saya sangat ngefans loh sama ustadz." Ucap Delon jujur.
"Waduh....pak...jadi terharu saya."Ucap Bintang tersipu.
Terlihat dari arah dapur Rosa membawa teh untuk para tamu.
"Silahkan di minum ustadz, abah...dan...."Kalimat Delon menggantung, entah kenapa dia merasa canggung ketika berhadapan dengan salah satu gadis yang bercadar tersebut.
"Kak Sya pak...nama nya."Ujar Syfa memotong kalimat Delon.
"Oh...Sya ya nama nya, kalau boleh tau Sya apa ya kepanjangan nama nya?"ucap Delon mulai penasaran.
"Syahla pak."Ucap Syfa, Kata-kata itu mencelos begitu saja dari bibir nya.
Deg
Deg
"Syahla? bukan kah nama itu terselip di salah satu nama Syalu?"ya Allah...apa jangan-jangan dia..."Ucap Delon dalam hati.
"Papa kenapa? kok gitu amat ngeliat gadis ini?" ucap Rosa tak suka.
"Ngga apa-apa ma, papa hanya teringat dengan putri kita, bukan kah dia mirip dengan putri kita? matanya...dan juga tinggi tubuh persis seperti nak Syahla ini." Ujar Delon.
Syalu yang dari tadi hanya diam karena menahan sedih dan tangis nya,tak dapat lagi menahan diapun segera beranjak dari duduk nya dan berhamburan ke pelukan sang papa saat itulah tangis Syalu pecah, mendapatkan pelukan yang tiba-tiba membuat Delon terhenyak kaget, pelukan itu begitu hangat dan terasa damai, beda hal dengan Rosa, melihat suaminya di peluk oleh wanita lain tentu membuatnya murka dengan sekuat tenaga dia menarik dan menghempas tubuh Syalu ke lantai.
__ADS_1
"Hey...gadis tidak tahu malu!!! berani-berani nya kamu peluk-peluk suami saya."Hardik Rosa.
Syalu yang sudah terpental ke lantai pun hanya mampu meringis kesakitan, dan tentu saja yang lainnya itu terkejut dengan perlakuan Rosa yang kasar, bukan tanpa alasan Rosa murka pada gadis yang masih menggunakan cadar tersebut, karena memang dirinya belum mengetahui kalau itu sebenarnya Syalu putri kandungnya.