
Setelah bejalan kurang lebih sepuluh menit, kini mereka berempat telah sampai di rumah.
"Assalamu'alaikum?" mereka berempat mengucap salam secara serempak.
"Waalaikumsalam."Jawab Ummi Salmah dari ruang tamu sambil membuka kan pintu.
Kemudian satu persatu mereka menyalami Ummi Salmah dan masuk kedalam.
"Ummi, Abah mana?" tanya Bintang.
"Abah di kamar, tunggu sebentar Ummi panggil kan dulu ya." Jawab Ummi Salmah.
"Iya Ummi."Ucap Bintang.
Kemudian Ummi Salmah menuju kamarnya untuk memanggil suaminya. Sedangkan Syalu beranjak dari duduk nya hendak pergi kekamar.
"Kamu mau kemana?" tanya Bintang ketika Syalu hendak melangkah kan kakinya.
"Ini Ustadz saya mau meletakan tas saya di kamar, habis itu mau bikin minum untuk kalian." Jawab Syalu.
"Wah...kebetulan banget dong kak...aku lagi haus ni, bikin yang seger-seger ya yang dingin-dingin gitu..." Ucap Syfa dengan semangat.
"Iya Syfa...kakak akan bikin minuman yang dingin buat kamu, hemz...Ustadz Bintang dan ustadz Julian mau minum yang dingin apa yang panas?" tanya Syalu kepada dua sahabat tersebut.
Mendengar nama nya di sebut dan mendapat tawaran, tentu kesempatan tersebut tidak di sia-siakan oleh Julian, dengan antusias dia ingin menjawab pertanyaan Syalu, baru saja dia ingin membuka mulut Bintang pun sudah menyela nya.
"Hemz...kayaknyak kita samain aja dengan Syfa, panas-panas gini emang enak minum yang seger-seger dan dingin." Ucap Bintang.
"Kalau untuk Ummi dan Abah gimana ustadz?" tanya Syalu lagi.
"Kalau Ummi dan Abah, mereka biasa nya minum teh panas kak, mereka jarang minum yang dingin-dingin." Kali ini Syfa yang menyela pembicaraan.
"Ya sudah, Syalu tarok tas dulu ya di kamar, habis itu bikin minum." Kemudian Syalu menuju kamar nya dan setelahnya menuju dapur untuk membuat minum.
"Is...kau ini suka banget nyela-nyela omongan orang." sungut Julian.
Bintang sedikit memicingkan matanya, karena dia belum mengerti dengan arah pembicaraan sahabat nya itu.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Bintang tak mengerti.
"Is...ya ampun pura-pura nggak ngerti gitu???" Lagi-lagi Julian nampak kesal.
"Is...kau ini ya, aku tu benar-benar nggak ngerti, apaan sih?" masih dengan tampang bingung nya Bintang berusaha memahami perkataan sahabatnya itu.
"Is...Abang ini ya, masa nggak ngerti maksud kak Julian, tadi itu kan kak Syalu nanya mau minum apa ke kalian, nah Kak Julian mau jawab dengan semangat empat Lima, tapi Abang udah jawab duluan." Jelas Syfa panjang lebar.
"Oh...ha...ha...maaf...maaf aku nggak maksud mau nyela jawaban kamu Ustadz Julian." Kini tawa Bintang dan Syfa pecah, habis-habisan Julian di godain oleh kakak beradik itu.
"Is...kalian ini ya, kakak sama adik sama saja, Sama-sama dzolim." Sungut Julian.
Tiba-tiba dari arah lain terdengar suara Kiyai Somad yang seketika membuat tawa Bintang dan Syfa terhenti.
"Siapa yang dzolim sama kamu Lian? sini biar Abah hukum orang nya." Ucap Kiyai Somad sambil mendekati mereka.
Kiyai Somad memang selalu memanggil nama Julian dengan sebutan Lian saja, tetapi itu hanya di lakukan nya di luar pesantren, jika di dalam pesantren atau di hadapan orang banyak beliau selalu memanggil nama nya seperti biasa Ustadz Julian.
"Eh...Kiyai Somad." Ucap Julian kemudian beranjak dari tempat duduk dan menyalami kiyai Somad dan di susul oleh Bintang dan Syfa.
"Ampun bah...ampun..."ucap Julian sambil memgang telinga nya yang di jewer, tentu saja tidak sakit karena kiyai Somad hanya menyentuh telinga nya sedikit.
"Rasain...tuh...emang Bah si Julian suka bandel." ledek Bintang.
"Is...kau ini ya, dasar tukang ngadu." Sungut Julian.
"Sudah-sudah, kenapa jadi debat gini sih, ayo, kita duduk." Lerai Ummi Salmah.
"Lah...ini Syalu nya kemana?" tanya kiyai Somad.
"Oh...itu ada bah, lagi bikin minum di belakang."Jawab Syfa.
"Jadi apa yang membuat Abah menyuruh kami pulang berempat?" tanya Bantu serius.
"Iya memang ada yang harus Abah bahas, tapi kita tunggu Syalu terlebih dahulu."Jawab Kiyai Somad.
Tak lama kemudian Syalu datang dengan membawa minuman di nampan, Buru-buru Syfa membantu Syalu agar minuman nya tidak tumpah.
__ADS_1
Setelah minuman di sajikan, barulah kiyai Somad memulai pembicaraan.
"Lian,kata ustadz Alvi ada tawaran Tausiyah di Kampung W? apa benar begitu?" ucap Kiyai Somad memulai pembicaraan.
Deg
Deg
Deg
"Kampung W? Bukankah itu alamat kampung ku?" ucap Syalu dalam hati.
"Benar Abah, mereka minta isi acara Tausiyah selama 3 hari, dan ini permintaan langsung dari kepala desa dan masyarakat nya." Ucap Julian.
"Baiklah kalau begitu, menurut mu siapa yang akan kita kirim kali ini?" tanya kiyai Somad.
"Mereka meminta ustadz Bintang yang mengisi acara Tausiyah nya bah." Jawab Julian.
"Bagaimana menurutmu Bintang? apa kau sanggup pergi ke kampung itu dan mengisi acara Tausiyah di sana?" tanya kiyai Somad pada Bintang.
"Insya Allah bah, Insya Allah Bintang sanggup, karena me
reka sudah mempercayakan Bintang untuk mengisi acara Tausiyah nya." Jawab Bintang tegas.
Sementara itu Syalu nampak melamun, hati nya bergemuruh ketika nama kampung nya di sebut, ingin rasanya dia pulang ke kampung nya dan menemui kedua orang tua nya, namun rasa takut dan traut masih menyelimuti dirinya, takut jika dia di paksa akan kembali dengan Rico, takut jika Doni menemukan nya dan mengetahui kalau diri nya telah berbohong. Saat Syalu masih sibuk dengan fikiran nya, Tiba-tiba kiyai Somad mengejutkan diri nya dengan bertanya sesuatu.
"Nak Syalu!!! apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya kiyai Somad.
Kiyai Somad sudah mengerti dengan apa yang di fikirkan oleh Syalu, untuk itulah dia memanggil Syalu pulang, agar dia mengetahui tempat yang akan Bintang kunjungi adalah kampung halaman nya. Dia berharap Syalu mau memaafkan kedua orang tua nya dan mau mengunjungi mereka walaupun hanya sebentar, namun kiyay Somad tak ingin mengutarakan itu kecuali Syalu sendiri yang meminta nya.
"A...bah...bukan kah kampung itu adalah tempat asal Syalu?" Ucap Syalu gugup.
Spontan Yang lain langsung menoleh kearah Syalu, sebenarnya yang cuma mengetahui tempat asal Syalu cuma kiyai Somad dan Ummi Salmah saja, sedangkan yang lain hanya mengetahui tempat dia dimana melarikan diri dari Doni. Dan Julian pun tak kalah terkejut karena diapun memang tak mengetahui apa-apa soal Syalu.
"Kau benar nak, itu memang kampung dimana kau di lahirkan dan di besarkan." Jawab Kiyai Somad tenang.
Seketika Syalu tertunduk dan menangis, hati nya benar-benar sakit dan pilu jika mengingat kejadian yang telah menimpa dirinya, dia memang menyayangi kedua orang tua nya, namun perlakuan sang mama benar-benar membuat nya merasa trauma. Dia ingin sekali pulang walau pun hanya sebentar karena dia juga merindukan mereka namun hatinya masih menyimpan rasa takut jika mama nya mengetahui dirinya sudah tidak bersama dengan Rico.
__ADS_1