
Setelah menyelesaikan sarapan, Syalu, Syfa dan Bintang berpamitan pergi ke pesantren, sepanjang jalan Syalu hanya berdiam diri, sedangkan Bintang merasa heran dengan sikap diam Syalu, tanpa di sadari karena sibuk memperhatikan Syalu Bintang tidak menyadari ada bongkahan batu lumayan besar yang menghalangi jalan nya.
Bruk...
Tiba-tiba tubuh Bintang tersungkur di jalan.
"Akh..." Ucap Bintang menang sakit.
Melihat Bintang tersungkur tentu saja membuat Syalu dan Syfa terkejut dan spontan memekik.
"Abang!!!"pekik Syfa.
"Ustadz Bintang."Ucap Syalu Syok.
Kemudian Syalu dan Syfa berlari berhamburan ke arah Bintang, sedangkan Bintang sudah terduduk di tanah dengan posisi jempol kakinya berdarah akibat tersandung batu.
"Abang...ada apa? kenapa bisa berdarah gini bang?" Ucap Syfa cemas.
"Ustadz, kenapa bisa jatuh? astaghfirullah kaki ustadz berdarah." Pekik Syalu dan dengan spontan memegang pergelangan tangan Bintang.
Deg
Deg
Deg
"Astaghfirullah...Syalu kenapa kamu harus menyentuh ku, lihat lah jantung ku rasa nya mau lepas." Ucap Bintang dalam hati.
"Kenapa abang bisa jatuh sih, apa yang sedang abang fikirkan?" Tanya Syfa lagi-lagi dengan ekspresi cemas.
"Hemz...kau ini Syfa, abang tu nggak apa-apa, abang tadi cuma tersandung kaki nya kena batu ini." Ucap Bintang sambil melirik tangan Syalu yang masih memegang lengan nya.
"Astaghfirullah...abang, batu segede ini nggak keliahatan sama abang?" Ledek Syfa pada Bintang.
"Is...kau ini, abang nya lagi kesakitan sempat-sempat nya godain abang."Sungut Bintang.
"heheheh...habis nya abang kebangetan, batu segede ini nggak keliatan." Ucap Syfa lagi.
"Udah-udah jangan pada ribut, ayo Syfa kita bantu ustadz bangun dulu." Ucap Syalu melerai keributan di antara kakak beradik itu.
"Maaf Syalu, kamu tidak bisa menyentuh ku seperti ini." Ucap Bintang spontan.
Seketika Syalu dengan reflek melepaskan cengkraman tangan nya.
"Maaf Ustadz saya lupa kalau kita buku mukhrim, tadi saya hanya khawatir melihat ustadz tersungkur." Ucap Syalu jujur.
"Iya bener itu kak, kalian bukan mukhrim, maka nya kalau mau halal dan bisa sentuh menyentuh cepatan deh kalian ta'aruf." Ceplos Syfa asal.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Kali ini jantung keduanya sama-sama berdegup kencang, entah kenapa Syalu merasa tersipu mendengar Syfa mengatakan ta'aruf bersama ustadz Bintang, sedangkan Bintang merasakan hal yang sama.
"Masya Allah, ternyata dia mengkhawatirkan ku." Ucap Bintang dalam Hati.
Kemudian Bintang berdiri di bantu oleh Syfa, sedangkan Syalu membantu memegang tas dan buku Bintang.
"Ayo bang!! kita ke pesantren, nanti kita obatin disana."Ajak Syfa.
" Iya."Jawab Bintang.
"Ngomong-ngomong Abang dan kak Syalu kenapa nggak ta'aruf aja, kalian pasangan yang serasi."Lagi-lagi celetuk Syfa membuat kedua nya terdiam tak bisa berkata-kata.
"Sini Syalu biar Abang yang bawa tas nya, nanti kamu keberatan." Ucap Bintang tanpa sadar.
Tentu hal itu membuat Syalu dan Syfa terkejut, sehingga kata-kata bintang di jadikan senjata oleh Syfa untuk meledek diri nya.
"Cie...cie...ada yang minta di panggil abang nih." Ledek Syfa sambil senyam-senyum kearah Syalu dan Bintang.
"Apaan sih dek, abang tu salah ucap, gara-gara kamu tuh jadinya abang nggak fokus." Elak Bintang.
Sedangkan Syalu hanya senyum-senyum sendiri melihat Bintang yang salah tingkah.
"Idih...mau ngelak, ngaku aja deh bang, Syfa dukung kok kalau kalian ta'aruf secepatnya." kata-kata Syfa sukses membuat Bintang dan Syalu jadi tersipu, dan wajah mereka merah seperti tomat.
Sedang asik bersenda gurau di perjalanan menuju pesantren tiba-tiba handphone Bintang berdering.
Kring
Kring
Kring
Syalu dan Syfa hanya mengangguk mendengar kata-kata Bintang.
"Assalamu'alaikum ustadz Julian."Ucap Bintang.
" Waalaikumsalam, kamu dimana tadz? kok saya periksa di kelas belum keliatan?"tanya Julian.
"Iya ni ustadz, saya masih di jalan, tadi ada kecelakaan kecil di jalan." Ucap Bintang.
"Astaghfirullah, kecelakaan gimana maksudnya?" tanya Julian cemas.
"Enggak, cuma kecelakaan kecil aja, tadi kakiku tersandung batu dan aku tersungkur di jalan." Ucap Bintang menjelaskan.
"Masya Allah, tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya Julian masih dengan rasa khawatir.
"Nggak apa-apa sahabat ku, tadikan udah aku bilang nggak apa-apa."Ucap Bintang menenangkan.
" Syukurlah."jawab Julian lega.
"Oh ya kamu menelpon ada apa? kalau sekiranya ada yang penting katakanlah, tapi jika kurang penting nanti saja soalnya aku lagi dijalan, dan sebentar lagi akan sampai."Ucap Bintang.
"Ini Lumayan penting sih, tapi tak apalah, aku akan setia menunggu mu di sini sayang ha...ha." Seketika tawa Julian pecah karena telah menggoda Bintang.
__ADS_1
"Dasar konyol." Umpat Bintang sambil terkikik.
"Ada apa bang, apa yang kalian bicarakan Sampai-sampai abang tertawa seperti itu?" Ucap Syfa kepo.
"Nggak ada apa-apa." Ucap Bintang sambil tersenyum.
"Is...kau ini bang, orang penasaran juga." Rutuk Syfa.
"Ya sudah, aku tutup telpon nya, sampai ketemu di kelas ya, Assalamu'alaikum?" Ucap Bintang.
"Waalaikumsalam." Jawab Julian.
"Ayo berangkat sekarang!!" Ajak Bintang.
"Iya." Jawab Syalu dan Syfa serempak.
Tak sampai sepuluh menit mereka bertiga sudah sampai di pesantren, Syfa telah memasuki kelas nya, sedangkan Syalu memang di suruh Bintang masuk terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kecurigaan di antara para santri-santri nya.
Sedangkan Bintang menuju ruangan pribadi nya untuk membicarakan hal penting dengan Julian, dia jadi penasaran hal apa yang akan di bahas oleh sahabat nya itu. Tak lama setelah Bintang berada di ruangan pribadi nya kini Julian muncul dan segera menghampiri sahabat nya itu.
"Assalamu'alaikum?"ucap Julian sambil mendekati sahabat nya itu.
" Waalaikumsalam."Jawab Bintang.
"Gimana kondisi loe, mana yang luka?" Ucap Julian.
"Ya ampun lebay amat sih, kan udah di bilang nggak ada yang serius, semua baik-baik aja." Ucap Bintang.
"Orang perhatian gini di bilang lebay, dasar temen nggak ada akhlak lu..." Rutuk Julian.
"Ha...ha..., iya-iya maaf, oke sekarang kembali ke topik, ada apa? apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Bintang serius.
"Jadi gini, tadi aku dapat telpon dari kampung W, bapak kepala desa disana ingin mengadakan acara Tausiyah selama tiga hari, nah beliau ingin yang memberikan Tausiyah nya itu ustadz dari pesantren An-Nur." Jelas Julian.
"Lalu?" Tanya Bintang tak mengerti.
"Astaghfirullah...ya ustadz nya itu kamu!!!"Jaway Julian kesal.
"Kenapa harus aku? kan yang lain banyak,ustadz yang berkompeten dan pemberi tausyiah yang bagus juga banyak, Di pesantren ini sudah banyak para ustadz dan ustadzah yang di percayakan Abah untuk mengisi Tausiyah setiap ada yang memintanya dan itu termasuk kamu." Tolak Bintang secara halus.
"Iya...aku tau kalau soal itu, tapi masalah nya bapak kepala desa dan para masyarakat nya ingin kamu yang mengisi Tausiyah nya, mereka sering melihat kamu di televisi, dan mereka tertarik dengan cara kamu bertausiyah."Jelas Julian lagi.
" Masa sih?"Tanya Bintang tak percaya.
"Ya ampun, emang kamu nggak pernah nonton televisi ya?Pesantren kita ini lagi tranding, karena para ustadz dan ustadzah nya yang cantik dan tampan tetapi juga karena cara mengajar dan memberikan Tausiyah nya juga menarik."Ucap Julian menggebu-gebu.
"Jadi ini maksudnya gimana? tetap harus aku yang berangkat nih?" tanya Bintang lagi.
"Ya udahlah ya, kita bahas lagi nanti, udah jam masuk kelas nggak enak kalau terlambat, pulang nanti kita bahas lagi.
"Oke Baiklah."Ucap Bintang mengikuti keinginan sahabat nya.
Kemudian mereka masuk ruangan kelas masing-masing untuk melaksanakan tugas nya. sedang kan para santri dengan antusias menerima pelajaran yang di berikan oleh ustadz Bintang dan ustadz Julian.
__ADS_1