
Menatap kepergian ustadz Bintang dan Syfa membuat Syalu merenung sesaat dengan menarik nafas berat Syalu memitar tubuhnya hendak pergi kekamar dan kembali beristirahat. Namun langkah nya terhenti ketika Rosa berkata dengan nada ketus.
"Mau kemana kamu? udah deh nggak usah lebay, jangan sok-sok sedih, laki-laki banyak di luaran sana bahkan jauh lebih kaya dari pada dia!" ucap Rosa dengan sinis.
"Apaan sih ma? aku tu cuma mau ke kamar dan istirahat." ucap Syalu dengan nada lesu tak bersemangat.
"Apa-apaan sih ma, nggak capek apa bikin masalah terus? ya sudah nak kamu istirahat gih...jangan dengerin omongan mama mu." ucap Delon membela Syalu.
"Papa sama anak sama saja, nyebelin!!!"ucap Rosa sambil berlalu pergi.
"Makasih pa udah belain Syalu, Syalu pamit kekamar ya." ucap Syalu dengan ekspresi wajah murung.
"Tunggu nak !!! ucap Delon menghentikan langkah Syalu."
"Ada apa pa? apa papa butuh sesuatu?" ucap Syalu bingung.
"Tidak nak, papa hanya ingin bertanya sesuatu." Ucap Delon, kemudian keduanya sama-sama terdiam suasana sesaat terlihat hening.
"Papa mau tanya apa?" ucap Syalu gugup.
"Apa kau mencintai nya nak?" ucap Delon dengan lantang.
"A...pa pa? si...sia... pa? yang papa maksud siapa?" ucap Syalu tergagap.
"Kau nak...kau yang papa maksud." ucap Delon penuh selidik.
"Iya pa... Syalu mencintainya, bahkan Syalu sangat mengagumi nya, tapi..." Kata-kata Syalu terputus.
"Tapi kenapa nak? apa yang membuat mu ragu hum?" tanya Delon.
"Tapi Syalu merasa tidak pantas pa, Syalu hanya seorang janda, ilmu agama Syalu pun masih sangat jauh pa." ucap Syalu sedih.
__ADS_1
"Papa yakin ustadz Bintang tidak memandang Status mu nak, bahkan papa yakin jika memang dia mencintaimu dia akan membuatmu pantas di depan semua orang dan di mata allah, papa yakin dia akan membimbing mu nak." ucap Delon dengan penuh semangat.
"Syalu tidak ingin menyimpan harapan pada nya pa, Syalu takut akan kecewa pada akhirnya, biarlah cinta ini akan Syalu simpan dalam hati ini." ucap Syalu sedih kemudian berlalu pergi meninggalkan Delon yang terdiam seribu bahasa.
Sementara itu di mobil nampak Syfa terlihat kesal sambil mengotak atik handphone nya, sedangkan Bintang yang melihat adik kesayangan nya cemberut dan kesal menjadi penasaran apa yang tengah di fikirkan oleh sang adik.
"Syfa...kamu kenapa?" ucap Bintang, namun mata nya masih fokus pada jalanan yang tengah mereka lewati menggunakan mobil.
"Ha? em...em...enggak kok bang, ini aku lagi maen handphone." Ucap Syfa gugup.
"Iya abang tau kamu main handphone, cuma itu kenapa muka nya di tekuk? kamu ada masalah?" tanya Bintang, namun sebenarnya Bintang sudah mengetahui apa permasalahan yang tengah mengganggu fikiran sang adik, sedangkan Furqon yang tengah asik menyetir hanya tersenyum di balik masker yang dia kenakan, Diam-diam dia melirik sang kekasih melalui kaca spion.
Dengan sedikit dongkoo Syfa menjawab pertanyaan sang kakak dengan cemberut.
"Habis nya aku kesel bang....mas furqon dari semalam nggak hubungi aku, aku chat juga nggak di bales." Sungut Syfa.
"Terus?" ucap Bintang seolah-olah tak mengerti.
Mendengar kata-kata calon istri dari sang kekasih mendadak Furqon terkikik geli namun masih bisa dia tahan agar Syfa tidak curiga, sedangkan Bintang mendengar sang adik berkata demikian ikut tertawa terbahak-bahak.
"Ih....abang kok ketawa sih? bukan nya belain adek nya malah ikut-ikutan ngeledek." ucap Syfa jutek.
"Ya...habis nya kamu bilang calon istri, kayak udah dapet restu aja sama abah sama umi." ucap Bintang di sertai senyuman.
"Syfa yakin kok bang kalau abah sama umi bakal merestui, secara mas Furqon itu selain ganteng dia juga salah satu tipe mantu idaman abah sama umi." ucap Syfa polos. Mendengar penuturan Syfa sontak membuat Furqon tersedak dan batuk karena merasa bahagia mendengar penuturan sang kekasih.
"Uhuk...uhuk... huk, astaghfirullah...Syfa ngenalin suara aku nggak ya pas batuk tadi?" ucap Furqon dalam hati.
Sedangkan Syfa yang mendengar sang supir terbatuk langsung terdiam dan sedikit curiga, dia merasa pernah mendengar suara tersebut, namun otaknya tak dapat berfikir karena rasa kesal nya pada Furqon.
"Wah...bisa kembang kempis tu hidung ustadz Furqon kalau dengar kamu puji dia kayak gini." ucap Bintang sambil terkikik.
__ADS_1
"Wah benar-benar ya si ustadz Bintang ngatain aku kayak gitu, aku kan jadi keki di hadapan calon istri ku yang ciut." ucap Furqon dalam hati sambil tersenyum geli.
"Tapi ini hanya di depan abang aja ya Syfa puji mas Furqon, kalau di depan orang nya mah mana mungkin Syfa berani ngomong kayak gini." ucap Syfa lagi.
"Emang kenapa kalau kamu memuji ustadz Furqon di hadapan orangnya langsung?" tanya Bintang dengan menautkan kedua alisnya.
Furqon yang menjadi pendengar setia antara percakapan seorang kakak dan adik hanya dapat menghembuskan nafasnya secara perlahan, jantung nya berdegup kencang ketika mendengar kekasihnya berkata demikian.
"Ya nggak mau aja nanti mas Furqon tahu kalau calon istrinya yang cantik ini sebenarnya sangat memuja ketampanan dan ketulusan nya itu loh..." ucap Syfa dengan tersipu.
Mendengar pengakuan sang kekasih Furqon merasa bangga dan percaya diri karena cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Ya...ya... abang percaya kalau ustadz Furqon begitu tampan dan tulus, karena itu di pesantren begitu banyak para gadis yang memuja dan menginginkan ustadz Furqon jadi suami mereka." celetuk Bintang, dia memang sengaja memanas-manasi Syfa dan sekaligus mengerjai Furqon yang dari tadi merasa bangga karena selalu di puji oleh sang adik.
"Apa? serius bang? jadi di pesantren banyak gadis-gadis yang ingin mendekati mas Furqon?" ucap Syfa dengan ekspresi kaget.
"Wah...benar-benar ya... ustadz Bintang, sengaja nih kayak nya ngerjain aku...biar Syfa ragu sama aku, nggak bisa di biarin ini..!!!" celetuk Furqon dalam hati.
"Biasa aja kali dek....ekspresi nya, jangan lebay deh...biasa kan kalau orang ganteng itu banyak penggemar nya." tambah Bintang, dia sengaja berkata demikian sambil melirik Furqon yang sedari tadi mulai cemas.
"Benar-benar ya kamu mas...jadi kamu sengaja nggak kasih kabar ke aku, biar kamu bebas sama para penggemar kamu!" Ucap Syfa yang mulai emosi.
"Kayak nya emang bener dek kalau Ustadz Furqon lagi tebar pesona di pesantren, buktinya sampai sekarang nggak ada kabar kan sama kamu." Lagi-lagi Bintang memanasi sang adik, dia sengaja ingin mengerjai Furqon yang telah membuat adik nya gelisah
"Ha...ha....rasain tuh...emang enak gua kerjain." Kekeh Bintang dalam hati.
"Dasar....ustadz karatan, bisa-bisa nya dia ngomong kayak gitu, aduh...gimana nih, kalau ngaku sekarang sia-sia dong mau kasih kejutan, tapi kalau nggak ngaku sekarang bisa-bisa my love ngamuk kayak macan betina." ucap Furqon dalam hati, saat ini dia benar-benar merasa dilema.
"Bisa-bisanya dia ngelakuin itu sama aku bang....apa dia nggak tau aku tuh udah nyimpan rasa kangen segunung." ucap Syfa dengan kesal.
Seketika tawa Bintang pecah ketika mendengar pengakuan sang adik yang sudah menyimpan rindu segunung, sedangkan Syfa merasa kesal karena sang kakak tak mengerti dengan rasa rindunya saat ini, sedangkan orang yang tengah dia fikirkan malah sibuk dengan penggemarnya, Furqon yang mendengar istilah dari sang kekasih tentang kangen segunung pun spontan tertawa lepas tanpa dia sadari.
__ADS_1