
Di pondok pesantren nampak para santri tengah mengikuti pelajaran dengan serius, seperti salah satu kelas yang sedang di isi oleh ustadz Furqon semua nampak senang ketika ustad Furqon mengambil alih kelas tersebut walaupun hanya untuk sementara, bagi para santriwati sama saja walaupun cara menjelaskan materi nya berbeda namun antara ustadz Furqon dan ustadz Bintang tetaplah memiliki keunikan masing-masing untuk menyampaikan materi ke para santri sehingga mudah di Terima dan di mengerti. Tapi beda hal untuk Gendis, sudah hampir satu minggu semenjak ustadz Bintang tidak berada di pondok dia merasa tidak bersemangat untuk belajar dan menjalani hari-hari nya, dia lebih banyak melamun di kelas bahkan tidak fokus dalam belajar.
"Ndis...lu lagi mikirin apa sih? perasaan dari kemarin kerjaan lu ngelamun mulu..." Ucap Bella setengah pada Gendis.
Namun Gendis masih saja tak bergeming, dia masih sibuk dengan pemikiran nya, bahkan di saat pelajaran telah berakhir pun Gendis masih tak menyadari nya, beruntung di saat ustadz Furqon menjelaskan materi dia tidak terlalu fokus kearah tempat duduk Gendis sehingga tak menyadari kalau salah satu santriwati nya ada yang sedang tidak fokus dalam belajar karena biasanya Furqon akan sangat tegas pada para santri-santri yang tidak fokus belajar dan main-main dalam jam pelajaran.
"Baiklah...untuk materi hari ini cukup ya, nanti setelah jam istirahat kalian selesai ustadzah Dena yang mengisi kelas kalian, assalamu'alaikum?" ucap Furqon mengakhiri pelajaran.
"Waalaikumsalam." jawab para santri kompak.
Kemudian Furqon berlalu keluar kelas menuju ruangan nya, sedangkan Gendis masih saja terdiam dengan posisinya.
"Ndis...Ndis...lu dengar nggak sih gua lagi ngomong? itu pelajaran ustadz Furqon udah selesai, kantin yuk!!!laper nih..." ajak Bella sambil mengguncang-guncang tubuh Gendis.
Sontak Gendis pun terkejut dengan sikap Bella.
"Ih...apaan sih lu? jangan berisik, nanti ustadz Furqon denger, mau lu di hukum?" sentak Gendis.
Bella pun tercengang mendengar penuturan Gendis, ternyata sahabat nya ini sudah terlalu jauh larut dalam lamunan nya sehingga tak menyadari kalau pelajaran ustadz Furqon telah berakhir dari tadi.
"Emang lu dari tadi kemana aja sih Ndis? sampai-sampai nggak nyadarin kalau pelajaran kita udah kelar?" sungut Bella.
"Ha? kelar?masa sih?" Ucap Gendis sambil clangak clinguk mencari keberadaan ustadz Furqon.
"Ustadz idaman gua udah pergi, jadi lu nggak usah nyari-nyari." celetuk Bella.
Kata-kata Bella sontak membuat Gendis melotot kearah nya.
"Lu suka sama ustadz Furqon?" tanya Gendis penuh selidik.
"He...he...iya, habis mas Furqon unyu-unyu sih...gua juga pengen Ndis cari calon imam seorang ustadz kayak lu." ucap Bella sambil nyengir kuda.
"Idih...panggilan nya udah berubah aja tu jadi mas-mas, asal jangan jadi mas koki ya!!!" goda Gendis.
"Ah...lu mah...bisa aja ledekin gua, ntar kalau kita di Terima jadi calon mereka, kita nikah nya bareng ya!!!" ucap Bella malu.
"Idih...ogah, ntar biaya nikah nya lu nebeng sama gua, gua kan nanti kalau nikah sama Ustadz Bintang maunya di rayain besar-besaran, masa iya gua nikah sama anak pemilik pesantren yang terkenal ini nikah nya cuma sederhana doang." ucap Gendis penuh dengan percaya diri.
__ADS_1
"Kok lu tau apa yang ada di fikiran gua Ndis?" ucap Bella malu-malu.
"Udah ketebak, udah ah...gua mau nemuin calon imam lu dulu." Ucap Gendis sambil beranjak ke luar kelas menuju ruangan Furqon.
"Ha? ngapain? eh...lu jangan bilang-bilang soal yang tadi ya, jangan bikin malu gua." Ucap Bella terburu-buru mengejar langkah Gendis.
"PD amat sih lu!!!gua mau nemuin ustadz Furqon mau nanyain calon laki gua, kenapa udah hampir satu minggu nggak masuk-masuk, nggak tau apa calon istri nya yang cantik ini udah kangen berat."Ucap Gendis percaya diri.
"Idih...situ yang percaya diri, udah di tolak berkali-kali juga masih aja percaya diri ngaku-ngaku jadi calon istri ustadz Bintang."ucap Bella dalam hati sambil terkekeh.
"Nggak usah ngehujat gua di dalam hati,mau lu gua kutuk jadi perawan tua?" ucap Gendis, sebenarnya Gendis sudah curiga melihat Bella yang senyum-senyum sendiri.
"Lu...tu kayak wak Bordir ya?" sungut Bella.
"Wak Bordir mana?" tanya Gendis Bingung, karena baru kali ini dia mendengar nama itu.
"Itu...personil salah satu warintil, wak Bordir itu bisa dengar apa yang di ucap kan oleh orang lain di dalam hati." jelas Bella sedikit kesal.
Gendis pun terkekeh mendengar penuturan sahabat nya tersebut, sebenarnya dia hanya asal menebak saja karena melihat Bella yang senyum-senyum sendiri.
"Itu karena gua nggak sebegok kayak lu!!!" ucap Gendis sambil menyentil kening Bella.
"Aw...sakit Ndis...!!!keluh Bella sambil mengelus-elus kening nya.
"Ah...udah ah...gua mau keruangan ustadz Furqon dulu." ucap Gendis sambil melangkah keruangan Furqon.
Ketika sudah sampai di depan pintu ruangan Gendis pun mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum?" ucap Gendis.
"Waalaikumsalam, masuk!!!" ucap Furqon mempersilahkan seseorang yang mengucap salam dari luar untuk masuk.
__ADS_1
Kemudian muncul Gendis dan Bella menghadap Furqon dengan langkah sedikit ragu-ragu.
"Selamat siang ustadz." ucap Gendis menyapa.
"Selamat siang mba, ada apa? ada yang bisa saya bantu?" ucap Ustadz Furqon tersenyum ramah.
"Masya Allah...senyum nya itu loh...,apa nggak bangkit semua tuh bidadari surga kalau liat senyum ustadz manis ku." Ucap Bella dalam hati sambil terkekeh.
"Mba Bella kenapa? kok senyum-senyum sendiri?" tanya Furqon sedikit bingung.
"Oh...nggak ustadz, saya nggak kenapa-kenapa." ucap Bella tersipu.
"Lu jangan bikin napa? ntar ustadz Furqon ilfeel sama lu mau?" ucap Gendis lirih, namun masih bisa di dengar Bella.
"Ya jangan dong Ndis, masa iya calon imam ilfeel sama calon istri."Sungut Bella.
"Maka nya lu jangan mikir yang aneh-aneh, senyum-senyum sendiri kayak orang gila."Rutin Gendis.
" Iya-iya."sungut Bella.
"Maaf mba, ini ada apa ya? kok dari tadi pada bisik-bisik, apa ada yang ingin kalian tanyakan?" ucap Furqon menebak.
"He...he..iya ustadz, ada yang ingin saya tanyakan." Ucap Gendis sedikit ragu.
"Oh...ya monggo silahkan, mau tanya apa mba?" ucap Furqon dengan sopan.
"Ustadz, sebenarnya ustadz Bintang kemana sih? kok nggak masuk-masuk?"tanya Gendis langsung.
"Ha? maksudnya mba?" Furqon masih tak paham arah pertanyaan Gendis.
"Ya...maksud saya, kok ustadz Bintang udah lama nggak masuk kelas, bukankah beliau hanya tiga hari mengisi acara tausyiah? dan ini sudah hampir satu minggu." ucap Gendis.
"Oh...masalah itu, kamu benar beliau hanya tiga hari mengisi acara tausyiah tersebut, namun karena ada suatu hal jadi beliau belum bisa pulang untuk saat ini." Jelas Furqon.
"Ustadz kira-kira kapan ustadz Bintang pulang?" tanya Gendis lagi.
"Maaf mba kalau masalah itu saya kurang tau, yang jelas setelah urusan nya selesai baru kemungkinan beliau akan kembali." Jelas Furqon.
__ADS_1
Gendis pun nampak berfikir setelah bertanya pada Furqon, seperti nya dia tidak akan mendapatkan informasi apapun yang akan membuat hatinya bahagia, dengan ekspresi tak ada semangat akhirnya dia pamit undur diri dari sang ustadz.