
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam kini Rico telah sampai di bandara,Rico nampak begitu antusias karena kepulangan nya kali ini akan di sambut oleh Syalu, dia sangat yakin kalau Doni akan segera mengembalikan Syalu pada nya.
Dari kejauhan nampak Parman telah mengetahui kehadiran Rico, buru-buru dia dan teman nya menghampiri tanpa menimbulkan kecurigaan bagi Rico. Rico pun nampak melihat seseorang yang pernah dia temui, namun dia sedikit lupa sehingga berusaha mengingat-ingat nya.
"Selamat siang den Rico."Ucap Parman memberi hormat pada Rico, dia sengaja melakukan itu agar Rico tidak curiga pada nya.
"Selamat siang, sepertinya aku pernah melihat mu?"Ucap Rico nampak bingung.
"Tentu den Rico pernah melihat ku, karena aku orang kepercayaan tuan Doni." Ucap Parman menjelaskan.
"Oh...ya kau benar, aku baru ingat sekarang, kau adalah orang kepercayaan bos Doni." Ucap Rico.
"Iya Den." Jawab Parman singkat.
"Lalu apa yang membuat mu ada disini?" tanya Rico heran.
"Aku di perintahkan oleh tuan Doni untuk menjemput den Rico dan membawa den Rico ke markas nya." Jelas Parman.
"Untuk apa? kenapa aku harus di bawa kemarkas?" tanya Rico gugup.
"Tenanglah den, ini tidak seperti yang den Rico bayangkan, kami hanya ingin menjemput den Rico dan mempertemukan den Rico dengan non Syalu." Ucap Parman berbohong.
"Benarkah? apakah Doni telah selesai dengan Syalu?" Tanya Rico penuh semangat.
"Ya den, Tuan Doni telah selesai." Jawab Parman singkat.
"Baiklah aku akan ikut kalian, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istriku yang cantik itu." Ucap Rico dengan tak tahu malu.
"Cih...istri? dasar laki-laki tidak tahu malu, dengan mudah kau menjual istrimu ke lelaki lain, dan sekarang kau bilang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrimu yang cantik, dasar konyol." Maki Parman dalam hati.
"Baik den, mari ikut kami ke mobil." Ajak Parman.
"Oke, dimana posisi mobil kalian?" tanya Rico.
__ADS_1
"Mobil kami parkir di luar, agar tidak terlalu jauh saat mau putar balik den." Jawab Teman Parman.
"Baiklah...ayo kita jalan!! ajak Rico.
Kemudian mereka bertiga berjalan kearah mobil yang telah di parkir di luar.
Ditempat lain nampak Delon tengah gusar menunggu kabar dari besan nya, kali ini dia tidak akan memaafkan Rico jika masa depan putrinya telah hancur oleh laki-laki lain, sedangkan Rosa nampak khawatir karena Delon telah mengancam diri nya, jika Syalu tidak kembali apalagi sampai terjadi sesuatu pada putri semata wayang nya mana Rosa akan di usir dari rumah bahkan di ceraikan oleh Delon.
"Pa...papa istrahat dulu ya, dari kemarin papa nggak tidur."Rayu Rosa.
"Aku nggak akan bisa istirahat dengan tenang jika belum tahu kabar putri ku seperti apa."Jawab Delon ketus.
"Tapi pa..." Kata-kata Rosa terhenti ketika Delon mulai menatap tajam dirinya.
"Jangan coba-coba pengaruhi aku dengan kata-kata busuk mu itu ma, karena kelalaian ku putriku jadi korban." Hardik Delon.
"Pa...Syalu juga putriku, aku juga sedih dengan hal yang menimpa Syalu." Ucap Rosa sedikit geram.
"Putri apa? putri yang kamu tukar dengan uang dan harta ha?" Bentak Delon.
"Itu perlu di ungkit Rosa, biar kau tahu diri karena keegoisan mu anak ku menjadi menderita!!!" Uca Delon setengah berteriak.
Rosa tersentak mendengar Delon menyebutkan namanya, sudah sembilan belas tahun mereka mengarungi bahtera rumah tangga, baru kali ini Delon berteriak dan menyebut namanya.
"Pa...istighfar...apa papa nggak sayang lagi sama mama, sampai-sampai papa menyebutkan nama mama dengan penuh amarah."Ucap Rosa mengingatkan.
"Astaghfirullah...cukup Rosa, pergilah dari sini! aku ingin sendirian."Ucap Delon mengusir halus istrinya.
Tak ingin membuat suaminya tambah murka, Rosa lebih memilih pergi untuk menghindari suaminya.
Diperjalanan menuju kampung W, nampak suasana hening dan canggung, Bintang dan Furqon duduk di bagian depan karena Furqon yang di minta untuk membawa mobil, sedangkan Bintang berada di sebelah nya sekedar berjaga-jaga kalau saja Furqon merasa lelah dan ingin di gantikan posisinya. Syalu dan Syfa berada di posisi tengah, karena mereka nyaman di posisi itu, sedangkan Julian dia memilih duduk sendiri di belakang sambil mendengar kan Sholawatan di handphone nya.
"Kak Syalu...apa kakak sudah siap jika nanti bertemu dengan kedua orang tua kakak? atau mungkin bertemu dengan suami kakak yang keparat itu?" Ucap Syfa memecah kesunyian.
__ADS_1
Baru saja Syalu ingin membuka mulutnya namun Bintang lebih dahulu meyela pembicaraan Sifa.
"Hus...kamu itu ya Syfa, perempuan kok ngomong nya nggak di telaah dulu, jaga bicara kamu! abang nggak suka kamu bicara seperti itu." Ucap Bintang menasehati adiknya.
"Maaf bang, Syfa keceplosan...habis nya Suda geram banget tuh sama laki-laki yang jadi suami kak Syalu." Jawab Syfa.
"Ha? jadi mbak Syalu ini sudah menikah?" Tanya Furqon terkejut.
"Iya mas sudah." Jawab Syalu dengan wajah tertunduk.
"Kamu boleh kesal dengan seseorang, tapi kamu juga harus jaga perasaan istrinya." Ucap Bintang keceplosan.
Spontan membuat Syalu terkejut mendengar nya, dia tidak menyangka kalau Bintang akan berkata demikian, padal dari awal dia sudah mengetahui cerita asal mulai terjadinya pernikahan itu. Mata Syalu berkaca-kaca ingin menahan tangis, sejujurnya hati nya merasa sakit karena ucapan Bintang, dia memang berstatus istri Rico, namun sedikitpun dia tidak menginginkan Rico menjadi suaminya. Melihat Syalu menitikan air mata tentu Syfa tidak tinggal diam.
"Tuh...kan gara-gara abang kak Syalu jadi nangis." Celetuk Syfa.
Spontan Bintang menoleh kebelakang begitupun Julian segera mematikan suara handphone nya dan melihat kearah Syalu.
"Maaf Syalu...aku...aku..." Ucap Bintang sedikit ragu.
"Tidak apa-apa ustadz, yang ustadz katakan memang benar, tapi perlu ustadz ketahui sedikitpin aku tidak menaruh hati pada laki-laki itu, karena kami menikah atas paksaan ibuku dan juga Rico."Jawab Syalu dengan suara penuh luka.
Sejenak Bintang terdiam, ada perasaan bersalah dalam hati nya, dia tidak bermaksud ingin menyakiti hati Syalu namun kenyataan nya kata-kata nya lah yang membuat gadis itu menangis.
"Apa-apaan sih kau ini Bintang, kenapa kau membuat Syalu menangis?" Ucap Julian pada teman nya.
"Tau tuh...si abang, udah tau kak Syalu trauma sama laki-laki itu, masih aja bilang laki-laki itu suami kak Syalu.
"Ya pada kenyataannya kan emang benar, Syalu masih berstatus istri laki-laki itu, kalau dia sudah sendiri atau berpisah dari laki-laki itu, sampai ujung dunia pun aku siap membela dan mendampingi nya." Cerocos Bintang, dan tanpa dia sadari semua orang terkejut dengan kata-kata nya.
"Ha? maksud abang apa?" tanya Syfa dengan tampang terkejut.
"Apa?" Tanya Bintang bingung, bahkan dia sendiripun belum menyadari dengan kata-kata nya sendiri.
__ADS_1
Seketika Furqon, Julian dan Syfa tertawa cekikikan, mereka tidak dapat menahan tawanya lagikini suasana mobil menjadi ramai, menyadari akan kata-kata nya Bintang jadi malu dan kikuk, wajahnya merah seperti tomat, kini dia kembali duduk menghadap depan, rasanya dia ingin menghilang dari mobil tersebut karena malu di hadapan Syalu, sedangkan Syalu merasa salting dan hanya mampu menunduk akibat kata-kata Bintang, dia tidak menyangka jika Bintang akan mengatakan hal itu.