DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 75. RINDU


__ADS_3

"Ya Allah baru juga mau bahagia tapi sekarang di buat gelisah lagi." Ucap Furqon dalam hati, sumpah Demi apapun hatinya saat ini benar-benar tidak tenang jika mengingat kiyai Somad.


"Ustadz Furqon apa kau benar-benar serius ingin meminang adik ku?" tanya Bintang serius.


"UB...apa aku terlihat bercanda? butuh bertahun-tahun aku bisa mengutarakan ini pada nya." Jawab Furqon sungguh-sungguh.


"Aku melihat nya, dan aku percaya jika kau benar-benar tulus tanpa modus, dan untuk itu aku akan membantumu untuk berbicara dengan abah, dan, semoga abah dapat merestui niat baik mu ini."ucap Bintang dengan yakin.


Mendengar perkataan Bintang Furqon pun merasa terharu, matanya berbinar seolah-olah mendapatkan dukungan dari calon abang ipar nya.


Ada perasaan haru yang membuncah hati Syfa tak tahan membendung air matanya Syfa pun berhamburan kepelukan Bintang, dengan terisak Syfa berusaha berbicara dan berterima kasih pada abang kesayangan nya itu.


"Abang...terima kasih, Terima kasih karena sudah mendukung keputusan Syfa,terima kasih karena abang mau membantu untuk bicara dengan abah." Ucap Syfa sesegukan.


"Hey...adik abang kenapa nangis, bukankah ini suatu hal yang baik, tentu abang akan mendukung dan merestui nya." Jawab Bintang bijak.


"Apa abang nggak apa-apa?" Ucap Syfa sambil mendongakan kepala dengan tatapan polosnya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu tentu membuat Bintang sedikit bingung dan mengernyitkan alis nya.


"Nggak apa-apa gimana maksudnya?" Ucap Bintang.


"Ya kalau Syfa menerima pinangan dari mas Furqon itu artinya Syfa akan mendahului abang untuk menikah, tentu abang akan menjadi bujang lapukan?" ucap Syfa polos tanpa dosa.


Seketika Syalu, Julian dan Furqon yang mendengar nya menjadi tertawa geli, Julian yang tadinya posisi duduk langsung berguling-guling di lantai menahan sakit perut akibat tertawa keras.


"Astaghfirullah...Syfa...kau ini ya kebangetan ya jadi adik, masa abang di katain bujang lapuk."Sungut Bintang.


" Ih...bukan gitu bang, Syfa cuma nggak rela aja kalau abang dapat predikat bujang lapuk kayak kak Julian."Ucap Syfa lagi yang kemudian dapat tatapan tajam dari Julian yang sedang tertawa.


Dengan wajahh kesal Julian berkata pada Syfa.


"Is...kau ini ya, nggak abang nya nggak adik nya sama-sama betul." geram Julian.


Sedangkan yang lain nya kembali tertawa pecah, sungguh malang nasib Julian yang selalu dapat bulian malam itu.


"Oh ya...ada hal yang ingin saya bahas dengan kalian, tapi berhubung ini sudah larut malam mending kita bahas besok pagi ketika sarapan, kasian Syalu dan Syfa seperti nya mereka sangat lelah." Ucap Bintang.


"Emang ada apa sih? kok serius banget kayaknya." Ucap Julian.

__ADS_1


"Dasar kepo!!!tadi kan sudah saya bilang, besok akan kita bahas, mending sekarang kita istirahat." Ucap Bintang.


Keesokan hari nya setelah mereka melakukan sarapan di luar Julian dengan tidak sabar nya langsung menanyakan perihal yang akan di sampaikan oleh Bintang.


"UB...bukan nya pagi ini ada yang ingin kau bahas." Ucap Julian sambil menyeruput kopi di gelasnya.


"Iya bang, kata nya ada yang mau di bicarakan." Imbuh Furqon.


Mendengar Furqon memanggilnya abang spontan Bintang menjitak kening Furqon.


Pletak...


"Aw...sakit bang!!!" ucap Furqon sambil mengusap kening nya.


Sedangkan yang lain hanya terkikik melihat Furqon yang kena jitak kening oleh Bintang.


"Hey...hentikan panggilan mu itu, aku tidak suka." Sungut Bintang.


"Emang kenapa bang? bukan nya abang sudah merestui?" tanya Furqon polos.


"Saya geli dengar kamu panggil abang, saya memang sudah merestui tapi bukan berarti untuk sekarang kamu langsung panggil abang ke saya." Ucap Bintang.


"Is...kau ini di bilang jangan panggil-panggil abang, geli tauuuu!!!" Lagi-lagi Bintang terlihat kesal pada Furqon.


"Is...abang ini, sini bang peluk adik ipar dulu biar kita kayak saudara kandung gitu!!!" ucap Furqon menggoda Bintang.


"Hey...mau aku pecat jadi calon adik ipar?" gertak Bintang.


Seketika Furqon terdiam mendengar ancaman dari Bintang, dia tidakau kehilangan kesempatan nya menjadi adik ipar sang ustadz hanya gara-gara kekonyolan nya pagi ini.


Syalu tersenyum geli melihat tingkah keduanya karena seperti anak kecil, sedangkan Julian tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi Furqon yang tiba-tiba jadi jaim setelah mendapat ancaman dari Bintang.


"Sudah-sudah jangan berdebat lagi, sekarang apa yang sebenarnya yang ingin abang sampaikan." Ucap Syfa menengahi.


"Baiklah sekarang kita bahas inti dari pembicaraan kita pagi ini." Ucap Bintang serius.


"Ada apa UB? sepertinya ini sangat serius?" tanya Julian penasaran.


"Ini soal Syalu, jadi malam kemari aku telah membahasnya berdua dengan Syalu tentang masalah nya dan juga kedua orang tua nya."Ucap Bintang menjedah kalimat nya.

__ADS_1


"Apa? berdua? hey UB kau sengaja ya tidak mau mengajak ku berbicara dengan Syalu? aku juga pengen tau bicara berdua dengan Syalu."Dengan konyol nya Julian menyeletuk karena merasa cemburu tidak dapat berbicara berdua dengan Syalu.


"Istighfar wey...mba Sya kan istri orang, kenapa pada sibuk mau bicara berdua." ucap Furqon yang mengingat kan.


Seketika Julian langsung beristighfar karena merasa sempat lupa akan status Syalu.


"Astaghfirullah...ya Allah ampuni hamba."Lirih Julian namun masih bisa di dengar yang lain.


Syalu yang mendengar perkataan Furqon pun hanya mampu tersenyum getir karena merasa tidak enak hati pada Bintang dan Julian.


"Julian...aku bicara pada Syalu kemarin malam bukan karena sengaja ingin berduaan, tapi kami membahas tentang masalah yang tengah di hadapi Syalu."Jelas Bintang.


" Hemz...iya maafkan aku."Ucap Julian menyesali.


"Lalu apa yang akan UB bahas."Ucap Furqon yang sudah mengubah panggilan nya untuk Bintang.


Mendengar Furqon yang sudah mengubah panggilan nya seketika membuat Julian tertawa.


"Haha...cieee yang takut di pecat jadi adik ipar, patuh amat!!!" ledek Julian.


"Is...kau ini...!!!" sungut Furqon.


"Jadi begini, saya ada rencana ingin membantu Syalu menyelesaikan masalah nya dengan kedua orang tua nya, karena Syalu tidak ingin masalah ini berlarut-larut, dan Syalu butuh teman untuk mendampingi dirinya ketika berhadapan dengan kedua orang tua nya.


"Benarkah? Sya apa kamu sudah siap ingin bertemu dengan kedua orang tua mu?"tanya Julian.


"Mau nggak mau aku harus siap ustadz, aku nggak mau masalah ini berlarut-larut, dan juga aku sangat merindukan kedua orang ku."Ucap Syalu dengan sedih.


"Jadi apa yang bisa kami bantu Sya?"ucap Julian serius.


"Hari ini kau dan Furqon kembalilah ke pondok, tidak enak jika terlalu lama kalian meninggalkan pesantren, untuk beberapa hari kedepan aku, Syalu dan Syfa akan tetap disini, setelah selesai acara Tausiyah disini mungkin kami akan segera menemui orang tua Syalu." Jelas Bintang dengan tenang..


Deg


Deg


"Jadi hari ini aku akan pulang ke pondok? masya Allah, aku pasti merindukan mu dinda." Ucap Furqon dalam hati.


Syfa pun berfikir yang sama seperti Furqon, baru saja hati nya bahagia karena sudah mengetahui perasaan laki-laki pujaan hati nya namun sekarang harus berpisah karena suatu pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2