
Di tempat lain, Doni telah merencanakan sesuatu untuk membuat perhitungan dengan Rico.
"Jadi apa kau sudah mengerti dengan perintah ku Parman?"tanya Doni.
"Sudah Tuan, tapi yang masih membuat saya bingung, kenapa tidak langsung kita habisi saja dia."Ucap Parman geram.
Doni pun menyeringai licik, melihat reaksi bos nya Parman mendadak merinding, kali ini apa yang sudah di rencana kan bos nya tidak mungkin hal yang main-main.
"Aku tidak mau manusia terkutuk itu mati terlalu mudah Parman." Ucap Doni dengan mata memerah.
"Ya tuan saya mengerti, tapi kalau dia melawan saat saya bawa, apa perlu saya paksa?" tanya Parman.
"Tentu, kau patahkan saja kaki nya, kalau masih melawan juga patahkan lagi yang satu nya." Ucap Doni serius.
Sungguh tidak bisa di pungkiri, Parman merasa takut dengan kemarahan Doni, seperti nya balas dendam terbesar pada orang yang telah berhianat pada diri bos nya akan terjadi pertama kali.
"Baik tuan." Jawab Parman patuh.
"Ingat Parman!!! aku mau cuma kamu yang menjaga manusia keparat itu, yang lain suruh berjaga di luar." Perintah Doni.
"Siap Tuan, perintah siap di laksanakan." Ucap Parman.
"Oh ya Satu lagi, apa Juned dan Sapri sudah selesai dari cuti nya?" tanya Doni lagi.
"Sudah tuan, mereka berdua sekarang ada di perternakan." Ucap Parman.
"Bagus, bilang ke mereka aku menugaskan untuk membantu mu mencari Rico." Perintah Doni ke Parman.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Ucap Parman sambil berpamitan.
Kemudian Parman pergi dari ruang kerja Doni dan segera melaksanakan tugas dari bos nya.
Sedangkan Doni tertawa puas karena apa yang dia rencanakan bakal menjadi kenyataan.
"Kamu lihat Rico, sebentar lagi hidup mu akan hancur, akan ku buat harga dirimu sebagai lelaki lenyap dari muka bumi ini." Ucap Doni dalam hati, tentunya dengan senyum yang sulit di artikan.
Di lain tempat, nampak Bintang tengah serius membaca buku, namun tiba-tiba konsentrasi pecah gara-gara suara Julian yang mengagetkan.
"Bintang, ayo cepat ikut aku!!" Dengan tiba-tiba Julian menari tangan Bintang.
__ADS_1
"Astaghfirullah...Julian, kamu lupa kalau kamu itu seorang muslim ha? adab kita orang muslim harus apa dulu coba?" Ucap Bintang mengingatkan.
"Astaghfirullah...aku lupa, maaf ya Ustadz Bintang, Assalamu'alaikum?" Ucap Julian mengucap salam sambil cengar-cengir.
"Waalaikumsalam." Jawab Bintang sambil menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Bintang, ayo ikut aku!" Ajak Julian.
"Kemana?" tanya Bintang bingung.
"Udah, nggak usah nanya, ikut aja dulu." Ajak Julian memaksa.
"Nggak mau ah...nanti malah nggak jelas kalau ikut kamu." Ucap Bintang meledek Julian.
"Is...kau ini, menyebal kan." Sungut Julian.
Seketika tawa Bintang pecah, dia tertawa sampai-sampai mengeluarkan air mata, entah mengapa melihat ekspresi sahabat nya Bintang merasa sangat terhibur.
"Oke...baiklah, sekarang katakan apa yang akan kau bicarakan?" tanya Bintang serius.
"Is...kau ini, kita jangan bicara disini nanti banyak yang mendengar."Jawab Julian.
" Oh iya, maaf aku lupa."Ucap Bintang cengengesan.
"Ya udah ayok...ikut aku ke kantin."Ajak Julian.
"Aku nggak mau ah kalau ke kantin, soal nya aku belum laper."Tolak Bintang, Lagi-lagi Julian di buat kesal oleh Sahabat nya itu.
" Ya ampun...Bintang yang tampan, aku itu bukan mau ngajakin makan, tapi mau nunjukin sesuati."Dengan ekspresi wajah geram Julian berusaha menjelaskan pada sahabatnya itu.
Lagi-lagi Bintang terkikik melihat tingkah konyol sahabat nya itu, pada akhirnya Bintang pun mengalah dan menuruti semua kemana sahabatnya itu.
"Iya...iya Baiklah, aku akan mengikuti mu." Pasrah Bintang.
Kemudian mereka berdua menuju kantin dimana banyak sekali para murid sedang menikmati makan siang mereka. Tiba-tiba Julian menunjuk kesalah satu kursi yang di tempati oleh dua orang gadis yang tengah asik mengobrol.
"Lihat itu!!!" Ucap Julian, sambil menunjukan tangan nya kearah dua orang gadis.
"Kenapa?ada apa dengan mereka?" tanya Bintang seolah-olah tak mengerti.
__ADS_1
"Ya...lihat itu!!!" lagi-lagi Julian berusaha menunjukan sesuatu pada Bintang.
"Iya...apa maksud nya? aku nggak ngerti maksud kamu nunjuk kearah dua gadis itu." Ucap Bintang pura-pura tak mengerti.
"Astaghfirullah...hari ini mata kamu kenapa sih? masa nggak bisa lihat wanita secantik itu."Ucap Julian kesal.
Benar saja dugaan Bintang, pasti yang di maksud oleh Julian adalah Syalu, namun dia memang sengaja berpura-pura seperti biasa saja saat melihat Syalu, padahal dalam hati nya dia merasa gugup kalau berhadapan dengan gadis itu.
"Iya aku lihat, udah deh jangan lebay...biasa aja." Ketus Bintang.
"Ya...ampun Bintang, apa kata mu? Biasa aja? hey...coba kamu perhatikan, dia lebih segala-galanya dari..." Seketika kata-kata Julian berhenti.
"Dari apa?" Ucap Bintang yang menunggu kata-kata Julian selanjutnya.
"Astaghfirullah...enggak maksud aku, ya dia cantik kayak Bidadari." Elak Julian, hampir saja dia menyebut nama Gendis.
Sedangkan dari sudut lain ada dua pasang mata yang sedang mengawasi Syalu dan Bintang, hati nya merasa terbakar saat melihat Bintang diam-diam Melirik Syalu dan memperhatikan nya.
"Kurang ajar, berani-beraninya wanita kampung itu mau merebut ustadz Bintang dari aku." Geram Gendis.
"Tapi kan Syalu itu nggak ngapa-ngapain ustadz Ndis." Ucap Bella polos.
"Diam kamu!!!kalau masih komentar aku cakar-cakar wajahmu yang nggak seberapa itu." Ancam Bella.
"Ya ampun...Ndis, demi cinta buta loe, loe rela jadi gila kayak gini, ustadz Bintang aja nggak pernah respon perasaan loe, kenapa loe masih nggak Terima kayak gini." Batin Bella.
"Lihat aja, gua akan beri dia pelajaran." Kemudian Gendis dengan penuh amarah membawa gelas minuman nya menuju meja Syalu, sedangkan dari arah lain ustadz Bintang dan Julian, mereka melihat Gendis membawa air tersebut menuju Syalu.
"Lihat Bintang, kenapa Gendis membawa air ke arah santriwati itu." Tunjuk Julian.
"Iya, mau apa dia? apa mungkin dia mau gabung?" Bintang kasih berprasangka baik pada gadis itu.
"Kayak nya nggak deh, coba kamu lihat seperti raut wajah nya marah sekali." Ucap Julian Khawatir.
"Ayo kita dekati mereka, seperti nya ada yang nggak beres."Ucap Bintang.
Baru saja beberapa langkah mereka mendekat tiba-tiba saja.
Byur...
__ADS_1
Satu gelar air penuh di tumpahkan di atas kepala Syalu, tentu saja itu membuat Syalu dan Kharimah terkejut, ternyata dugaan Julian benar, Gendis seperti menyimpan marah untuk gadis cantik itu, melihat hal itu tentu Bintang dan Julian tak tinggal diam, dia tidak ingin para santri dan santriwati nya memiliki sifat arogan seperti yang di lakukan oleh Gendis.