DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 50. PERGI BERLIMA


__ADS_3

Setelah selesai dengan drama mengharukan diantara mereka, kini waktu nya bagi mereka bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke kampung halaman Syalu, Ummi Salmah membantu Syalu dan Syfa menyiapkan pakaian dan keperluan lain agar tidak kekurangan apapun selama disana, sedangkan Bintang menyiapkan segala keperluan nya sendiri dan Julian dia pulang ke pondok pesantren untuk menyiapkan pakaian nya disana, karena semenjak memilih tinggal di pondok semua barang-barang Julian ada disana.


Kali ini Bintang tidak ingin membawa mobil sendiri dalam melakukan perjalanan, dia tidak ingin mengambil resiko jika dia kelelahan, dengan cepat dia mengambil ponsel yang ada di saku celana nya dan menghubungi sopir pribadinya sekaligus sahabat nya sejak SMP. Selain menjadi sopir pribadi Bintang sahabatnya itu juga salah satu staf di pesantren An-Nur. Tak selang berapa lama telpon pun tersambung.


"Hallo...Assalamu'alaikum Furqon???" Ucap Bintang mengucap salam ketika telpon tersambung.


"Waalaikumsalam...ustadz, ada apa menelpon? bukankah kau ada kelas juga hari ini? kenapa tidak menemui ku langsung?" sejumlah pertanyaan di lontarkan oleh Furqon pada sahabatnya itu.


"Ya ampun...kebiasaan ya, orang nelpon baru ngucap salam juga pertanyaan sudah segudang." Sungut Bintang.


dari seberang sanapun nampak Furqon terkekeh mendengar omelan dari sahabat nya itu.


"He...he...iya-iya..., baiklah ada apa?" ucap Furqon serius.


"Furqon, aku membutuhkan bantuan mu, sekarang bersiap-siap lah karena kita akan ke kampung W ada Tausy disana." ucap Bintang.


"Baik Ustadz, kalau begitu aku siap-siap dulu, dan aku akan meminta yang lain untuk menggantikan tugasku selama aku tidak ada." jawab Furqon.


"Baiklah kalau memang sudah selesai, datanglah kerumah." Ucap Bintang lagi.


"Baik Ustadz." Ucap Furqon.


"Baiklah kalau begitu telpon nya aku tutup, Assalamu'alaikum?" Ucap Bintang mengakhiri telponnya.


"Ya ustadz, waalaikumsalam." Jawab Furqon.


Setelah itu Furqon bergegas untuk bersiap-siap dan juga menemui salah satu staf di pesantren untuk menggantikan posisi nya selama dia tidak berada di pondok pesantren.


Sedangkan Julian telah usai dengan berkemas-kemas nya, saat hendak keluar pesantren dan menuju rumah Bintang diapun melihat Furqon kearah yang sama, dengan cepat dia mengejar dan menghampiri Furqon.


"Assalamu'alaikum ustadz." Ucap Julian menyapa Furqon.


"Waalaikumsalam...ustadz."Jawab Furqon.


Melihat Furqon membawa tas ransel nya, Julian pun tak sabar ingin bertanya, tak jauh beda dengan Julian Furqon pun penasaran hendak kemana Julian dengan Tas ransel nya.


"Maaf Ustadz Furqon, mau kemana? kenapa kau membawa tas ransel mu itu?" tanya Julian penasaran.


"Ustadz Julian sendiri mau kemana? kenapa membawa ransel juga?" tanya Furqon balik.


"Oh...ini...aku di suruh kiyai Somad untuk mendampingi ustadz Bintang selama Tausyiah di kampung W." Ucap Julian.

__ADS_1


"Oh...kalau begitu sama dong, tadi ustadz Bintang memberitahu kalau dia butuh bantuan untuk melakukan perjalanan ke kampung W karena ada Tausiyah disana."Jawab Furqon.


"Wah...asik ya, kali ini perjalanan Tausiyah kita akan rame, tentu di perjalanan tidak akan bosan dan mengantuk."Jawab Julian antusias.


"Cuma bertiga ustadz...jadi nggak terlalu rame." Jawab Furqon dengan tersenyum.


"Siapa bilang kita cuma bertiga, kita itu berlima." Ucap Julian dengan semangat.


"Ha? berlima?emang siapa aja ustadz?" tanya Furqon penasaran.


"Ustadz Bintang, aku, kamu, Syalu dan..." Tiba-tiba saja Julian menggantung kalimat nya.


Julian memang sengaja menggantung kalimat terakhir nya, karena dia ingin tahu bagaimana reaksi Furqon jika tau yang ikut dalam perjalanan ke kampung W itu salah satunya adalah Syfa. Julian sebenarnya sudah mengetahui kalau Furqon menyukai Syfa sejak lama, walaupun usia mereka berbeda berapa tahun namun bagi nya Syfa merupakan gadis yang cantik dan sholeha. Karena persahabatan nya dengan Bintang serta statusnya hanya sekedar staf dan supir dari kakak Syfa itu membuat diri nya merasa tidak pantas dan tak berani mengutarakan isi hati nya.


"Ada apa? siapa orang yang terakhir?" tanya Furqon penasaran.


"Syfa." Ucap Julian sambil tersenyum menggoda.


Deg


Deg


Deg


"Ada apa? kenapa dengan wajahmu? apa kau baru selesai makan cabai?" Goda Julian.


"A...ku...a...ku tidak kenapa-kenapa, wajah ku memang seperti ini." Jawab Furqon gugup.


Seketika tawa Julian pecah, dia sangat bahagia bisa menggoda Furqon seperti itu.


"Ha...ha..."Julian tertawa sampai-sampai mengeluarkan air mata.


"Ada apa ustadz, kenapa kau tertawa seperti itu?" tanya Furqon bingung.


"Tidak apa-apa Ustadz, aku hanya menyarankan segerelah bertindak sebelum terlambat." Ucap Julian sambil meneruskan perjalanan nya.


Sedangkan Furqon diam mematung mencerna ucapan dari Julian, dia masih bingung dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Julian.


"Apa yang di maksud oleh ustadz Julian itu Sudah Syfa ya? apa aku harus segera bertindak agar Syfa..." Ucap Furqon dalam hati, namun Kata-kata nya terhenti ketika Julian memanggil nama nya.


"Hey...ustadz, apa yang kau fikirkan? ayo...berangkat!!!" Ucap Julian.

__ADS_1


"Eh...iya ustadz."Jawab Furqon sambil sedikit berlari mengejar Julian.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di kediaman Kiyai Somad.


"Assalamu'alaikum."Dengan serempak mereka mengucap salam.


"Waalaikumsalam..."jawab seseorang dari dalam rumah.


Ketika pintu rumah tersebut di buka.


Deg


Deg


Deg


Dua pasang mata langsung saling memandang terkejut, dan ternyata yang membuka kan pintu adalah Syfa, sedangkan Furqon tidak menyangka jika yang akan membuka kan pintu adalah Syfa.


"Ehem...awas mata nya di jaga!!!" Ucap Julian mengingat kan kemudian masuk kedalam rumah begitu saja.


"Mendapatkan peringatan dari Julian tentu saja membuat Syfa dan Furqon terkejut dan segera beristighfar sambil membuang pandangan mereka.


" Astaghfirullah."Ucap mereka serempak.


Furqon membuang pandangan nya kearah lain, sedangkan Syfa tertunduk malu setelah menyadari dirinya bertatapan mata dengan Furqon. Julian tersenyum melihat tingkah kedua nya seperti canggung, padahal mereka sudah kenal sejak lama, melihat semua itu Julian tambah yakin kalau sebenarnya keduanya sama-sama saling mencintai, namun kedua nya enggan mengutarakan isi hati nya masing-masing.


"Sy...Sy...fa apa kabar?" tanya Furqon gugup.


"Baik...mas,mas apa kabar?."Jawab Syfa sambil menunduk dan tersenyum.


"Aku juga baik."Jawab Furqon sedikit tenang.


Tak selang berapa lama muncul suara dari arah lain yang mengagetkan Syfa, Furqon dan Julian.


"Eh...kalian udah datang? kenapa tidak langsung menemui ku di kamar saja?" Sapa Bintang.


Melihat Furqon yang masih berdiri di depan pintu tentu membuat Bintang bingung dan bertanya pada Furqon.


"Hey...kenapa kau masih di luar, ayo masuk!!!" Ucap Bintang.


"Iya ustadz." Ucap Furqon kemudian masuk kedalam rumah dan melewati Syfa.

__ADS_1


Kini Syfa hanya terdiam di dekat pintu, dia merasa bingung kenapa ada Furqon di rumah nya, Laki-laki pendiam dan juga santun pada semua orang, Syfa begitu mengagumi sosok Furqon, Syfa selalu berdoa di setiap sujud nya jika suatu saat ingin memiliki jodoh seperti Furqon.


__ADS_2