DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 6. PERDEBATAN RICO DAN PAK DARTO


__ADS_3

Sementara itu di kediaman pak Darto, nampak bu Mar tengah sibuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan yang akan di bawa selama mereka pergi, saat bu Mar akan memasukan pakaian ke dalam koper tiba-tiba pak Darto ingin mengajak Mar bicara dengan serius.


"Ma. Bisa nggak kita bicara dulu, ada yang mau papa bahas." Ujar Darto.


"Ada apa pa? tumben mau biacara serius, apa ada masalah yang mengganggu fikiran papa?" tanya bu Mar.


"Ini masalah Syalu dan Rico, entah kenapa papa perhatikan sepertinya Syalu tidak bahagia dengan pernikahan ini." Jawab pak Darto.


"Ah... masa sih pa? mungkin perasaan papa aja kali." Jelas bu Mar.


"Enggak ma, papa tu udah perhatikan gerak gerik Syalu dari pertama kita bawa dia kemari, raut wajah anak itu nampak sangat sedih dan terluka." Jelas pak Darto lagi.


"Pa..., Syalu itu anak gadis yang masih sangat muda, dan pernikahan ini terbilang sangat cepat dengan persiapan seadanya, mungkin dia merasa sedih karena karena harus pisah dengan kedua orang tua nya." Pungkas bu Mar.


"Iya juga sih ma, mungkin apa yang mama bicarakan itu benar, dan mungkin itu hanya perasaan papa saja." ujar Darto.


Sementara itu di ruang tamu nampak Syalu duduk dengan sedikit gelisah, fikiran nya berkecamuk tak kala melihat Rico yang menatap dirinya dengan mesum. Ada perasaan sedikit takut dalam hati nya, Apa lagi Rico sempat memegang tangan nya, Syalu takut Rico akan melakukan hal yang lebih dari itu.


Sedangkan Rico yang duduk berseberangan dengan Syalu nampak senyum-senyum sendiri melihat Syalu yang duduk di hadapan nya, fikiran nya sudah menari-nari di area ranjang, rencana akan menikmati malam pertama tanpa gangguan sudah dia bayangkan semenjak tahu orang tua nya akan pergi ke kota. Rico nampak seperti orang gila karena asik senyum-senyum sendiri sambil menikmati kecantikan sang istri.


"Di dalam hati Syalu hanya mampu mengumpat Rico, entah kenapa dia merasa jijik di tatap Rico seperti itu, dasar mesum, kamu fikir aku nggak tau apa yang ada di otak mesum mu itu, jangan mimpi kamu bisa merasakan malam pertama dengan ku, lebih baik aku mati dari pada melakukan itu dengan mu. Ucap Syalu dalam hati.


Ketika mereka asik dengan fikiran masing -masing tiba-tiba saja mereka di kejutkan oleh suara yang memanggil Syalu.


"Eh... pengantin nya udah dateng ya, selamat datang non Syalu, semoga non Syalu betah ya disini." Sapa bik Atun dengan lembut.

__ADS_1


"Oh... iya." Jawab Syalu bingung.


"Non bingung ya, kenalin non saya bik Atun, pembantu di rumah ini, dan saya sudah lama bekerja di rumah tuan Darto dan nyonya Mar." Jelas bik Atun.


"Oh iya bu." Jawab Syalu dengan santun.


"Eh...non jangan panggil ibu, saya kan cuma pembantu, panggil aja bibik." Ucap bik Atun.


"Oh iya bik." Syalu menurut, ketika mereka asik bercengkrama tiba-tiba Rico menyela dengan nada tidak sopan.


"Eh bik, ngapain sih ikut nimbrung disini, ganggu aja." Ketus Rico.


"Oh maaf Den, maaf atas kelancangan bibik." Sambung bik Atun.


"Itu bibik tau, kenapa masih disini, sana bikin minuman buat kita." Perintah Rico.


"Cukup Rico, kamu apa-apaan sih, nggak sopan banget ngomong sama orang yang lebih tua." Bela Syalu.


Namun Rico seolah-olah tak perduli dengan semua itu, dia hanya tau kalau bik Atun hanyalah seorang pembantu yang nggak berarti apa-apa.


"alah... udah deh sayang, nggak usah belain dia. Dia kan cuma seorang pembantu." ucap Rico sengit.


"Walaupun bik Atun cuma seorang pembantu, tapi beliau juga manusia yang patut di hormati." Jelas Syalu.


Perdebatan yang terjadi antara Syalu dan ge.

__ADS_1


"Nah itu kamu tau, sekarang mending bibik pergi dari sini bikinin kita minum dan habis itu persiapkan kamar pengantin kita." Seringai Rico.


"Baik den." Bik atun mengangguk patuh kemudian berlalu pergi dari hadapan Syalu dan Rico.


Tak selang berapa lama pak Darto dan bu Mar muncul dari lantai atas, nampak pak Darto membawa dua buah koper besar turun menapaki anak tangga, nampak bu Mar mengekor di belakang pak Darto seraya bertanya kepada anak menantu nya.


"Rico... Syalu... ada apa nak, kami dengar tadi dari atas kok ada suara ribut-ribut di bawah, apa yang terjadi nak?" tanya bu Mar.


"Oh itu tadi ma, bik Atun main nimbrung-nimbrung aja, aku kan jadi kesel nggak bisa berduaan dengan istri aku." Sambil mengedipkan mata ke Syalu.


Lagi-lagi Syalu merasa jijik dengan sikap genit Rico.


"Aduh... Rico kamu nggak boleh gitu dong sayang, ingat bik Atun itu dulu pengasuh kamu, dia yang selalu mengurus kebutuhan kamu." Tegur bu Mar.


"Dia kan cuma pembantu dan pengasuh kan ma, jadi udah deh nggak usah berlebihan ngebelainpembantu." Jawab Rico kesal.


"Cukup Rico! dan tolong jaga sikap kamu, kamu ituudah punya istri, jangan seperti anak kecil." kata pak Darto tiba-tiba.


"Papa apa-apaan sih, kok malah marahin Rico, liat tuh ma... papa bentak-bentak aku di depan istri aku sendiri." Adu Rico.


"Ini ni... akibat mama selalu manjain anak nggak tau diri ini, Lama-lama makin kurang ajar, udah punya istri bukan nya jaga sikap malah tambah gila." Umpat pak Darto.


"Aduh udah dong pa, kok malah kita yang berantem, kan nggak enak di liat mantu kita, dan kamu Rico, tolong jaga sikap, malu tuh ama Syalu. Lerai Bu Mar.


" Aduh udah iya-iya, maaf Rico yang salah." Rico berpura-pura minta maaf agar mama papa nya tidak mengomel lagi.

__ADS_1


Sementara itu Syalu nampak tambah ilfil dengan sikap dan kelakuan Rico, entah apa yang ada di fikiran mama nya, sampai-sampai mau menjodohkan dirinya dengan laki-laki yang tidak sopan dan berwatak mesum seperti Rico. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua telah terjadi, Syalu hanya berharap suatu hari nanti ada mukjizat yang dapat membuat nya lepas dari kehidupan Rico, ingin rasa nya ia pergi jauh-jauh dari kampung tempat tinggal nya, agar tidak pernah lagi bertemu dengan laki-laki macam Rico.


Sementara itu tanpa di sadari Syalu ada sepasang mata yang lagi memperhatikan Syalu yang tengah melamun, dia tak lain adalah papa mertua nya Syalu yakni pak Darto Waluyo. Beliau nampak menerka-nerka apa yang sedang di fikir kan Syalu saat ini, bahkan dari awal perdebatan terjadi Syalu hanya diam tanpa kata-kata, namun pak Darto tak mau salah sangka, beliau langsung menyapa Syalu dengan nada lembut.


__ADS_2