DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 40. KECURIGAAN DELON


__ADS_3

Setelah melewati behari-hari bahkan berminggu-minggu hati pak Delon semakin tidak tenang, firasat nya mengatakan ada yang tidak beres pada anak semata wayang nya. Terlebih lagi semenjak menikah sampai detik ini Syalu tidak pernah memberikan kabar pada diri nya atau pun Rosa sang istri, handphone nya dan Rico pun tidak bisa di hubungi, kini pak Delon benar-benar gusar memikirkan kondisi anak semata wayang nya.


"Pa...diminum teh nya." Tiba-tiba bu Rosa menyodorkan teh hangat di hadapan nya.


"Kamu saja yang minum, aku tidak berminat." Ucap pak Delon ketus.


"Udah donk pa, jangan marah terus kemama, mungkin Syalu lagi pergi bulan madu kan bersama suaminya." Rayu bu Rosa.


"Papa benar-benar nggak habis fikir dengan mama, Syalu itu sudah menikah selama 2 minggu ma, bahkan semenjak kepergian nya dari rumah ini dia sedikit pun tak memberi kabar, bahakan handphone nya pun tidak bisa di hubungi." Geram pak Delon.


"Tapi pa..." Bu Rosa berusaha membela diri, namun kata-kata nya terhenti ketika pak Delon memotong pembicaraan nya.


"Tapi apa? mama mau bilang lagi kalau mereka sedang pergi bulan madu ha?" hardik pak Delon.


"Bu...buk...an begitu pa..."Bu Rosa tak berani melanjutkan kata-kata nya, apa lagi kilat marah sang suami benar-benar terpampang jelas di hadapan nya.


"Ma...Syalu itu anak kita, dia darah daging kita, mama yang mengandung dan melahirkan nya, kenapa hati mama seperti batu, tidak ada sedikitpun rasa khawatir di hati mama."Ucap pak Delon dengan derai air mata.


"Astaghfirullah...baru kali ini aku melihat papa menangis, iya ya...kenapa Syalu tidak pernah memberi kabar? padahal ini sudah dua minggu dia menikah, handphone Syalu dan Rico pun tidak bisa di hubungi." Ucap Bu Rosa dalam hati, hati nya pun mulai terenyuh ketika melihat suami nya menangis memikirkan anak semata wayang nya.


"Pa...mama sangat menyayangi Syalu, hanya saja mama ingin yang terbaik untuk hidup Syalu." Bu Rosa berusaha menenangkan suami nya sekaligus mencari pembelaan untuk diri nya.


Mendengar istrinya berkata seperti itu, pak Delon justru menyeringai, hati nya sedikit pun tidak tersentuh mendengar kata-kata sang istri.


"Sejak kapan kamu menyayangi Syalu ma? bukan kah yang kamu sayangi hanya harta dan uang saja? dari Syalu kecil sampai sampai dia tumbuh besar mama selalu mengatur dan memaksa kan kehendak mama tanpa memikirkan perasaan Syalu." Ucap pak Delon dengan suara bergetar.


Kali ini Bu Rosa tak dapat menjawab kata-kata suami nya, karena apa yang di katakan suaminya itu semua benar, namun lagi-lagi fikiran egois menguasai diri nya, dia hanya berfikir kalau yang di lakukan diri nya agar semata-mata Syalu hidup enak dan mewah, dan tentu diri nya akan mendapatkan keuntungan dari itu semua.

__ADS_1


"Ingat ma, jika terjadi sesuatu dengan Syalu, seumur hidup papa tidak akan memaafkan mama." Ucap pak Delon kemudian.


"Apa maksud papa?" tanya bu Rosa panik, Kata-kata suaminya barusan bagaikan tamparan keras untuk diri nya.


"Berdoalah semoga Syalu anak kita baik-baik saja, tapi jika sebalik nya yang terjadi dengan Syalu adalah hal buruk, maka mama akan menanggung akibat nya." Ancam pak Delon.


"Jadi papa mengancam mama ha? papa mau usir mama...???Jawab bu Rosa kesal.


" Lebih dari itu ma."Jawab pak Delon dengan sikap dingin.


Bu Rosa sejenak terdiam mencerna kata-kata suaminya, baru kali ini pak Delon bersikap tegas pada nya, bahkan semenjak menikah dengan nya tak pernah sekalipun pak Delon berkata kasar pada diri nya bahkan mengancam diri nya, kini hati bu Rosa mulai bergetar dan merasa takut kalau ancaman suami nya benar-benar terjadi.


Melihat Rosa terdiam dengan wajah bingung, pak Delon beranjak pergi dari tempat duduk nya.


"Papa mau kemana?" tanya bu Rosa yang kemudian menghentikan langkah suami nya.


"Aku mau kerumah pak Darto, aku mau memastikan kalau Syalu dalam keadaan baik-baik saja." Ucap pak Delon tanpa menoleh ke istrinya.


"Terserah."Jawab pak Delon ketus.


"Mama ambil tas di kamar dulu pa, papa tunggu di mobil ya." Buru-buru Rosa berlari kekamar dan mengambil tas kemudian menyusul suaminya keluar rumah.


Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua, mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing, bu Rosa memikirkan kata-kata suami nya ketika berada di rumah tadi, sedangkan pak Delon tak henti-hentinya berdoa semoga putri semata wayang nya dalam keadaan baik-baik saja.


Sedangkan di hari yang sama, pak Darto dan sang istri baru saja tiba di rumah, entah kenapa kali ini pak Darto ingin cepat-ceoat pulang, tadi nya ingin berlama-lama di kota namun hati nya merasa tidak tenang memikirkan anak dan menantu nya, sama hal nya dengan Mar sang istri, kali ini dia merasa ada yang tidak beres, setiap menghubungi Syalu dan Rico selalu tidak bisa, sedangkan kalau menelpon di rumah, Sepertinya nya Bik Atun selalu menghindar setiap kali di tanya soal Syalu dan Rico.


"Assalamu'alaikum." Ucap pak Darto dan Mar ketika sudah sampai di depan pintu rumah mereka.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Jawab Bik Atun dari dalam Rumah.


Ketika bik Atun membuka pintu, alangkah terkejut diri nya melihat sang majikan telah berada di hadapan nya, tidak biasa nya sang majikan tidak memberikan kabar saat akan pulang, wajah bik Atun berubah pucat ketika melihat sang majikan.


"Tu...tu...an...nyo...nya." Ucap Bik Atun tergagap.


"Ada apa bik? kenapa bibik terkejut seperti melihat hantu?" tanya bu Mar bingung.


"Ti...ti... dak nyonya, bibik hanya kaget dengan kedatangan tuan dan nyonya, biasanya memberi kabar ke bibik kalau mau pulang." Jawab bik Atun gugup.


"Sengaja bik, biar jadi kejutan." Ucap Bu Mar sambil tersenyum.


"Mana Rico dan menantu ku? kenapa rumah ini terlihat sepi." Ucap pak Darto kemudian.


Deg


Deg


Deg


Seketika wajah bik Atun bertambah pucat ketika pak Darto menanyakan menantu nya, kali ini dia benar-benar bingung harus menjawab apa, dari sambungan telepon mungkin dia bisa menghindar, tapi tidak untuk kali ini, tubuh bik Atun sedikit bergetar ketika pak Darto mengulangi pertanyaan nya.


"Bik, kenapa diam? kemana Rico dan Syalu? kenapa mereka tidak terlihat?" tanya pak Darto.


"Iya bik, kenapa rumah ini sepi? ini sudah jam sebelas, nggak mungkin kan mereka masih tidur."Ucap bu Mar.


"Tuan dan nyonya masuk dulu ya, bibik antarkan koper nyonya dan tuan ke atas dulu."Jawab Bik Atun menghindar.

__ADS_1


" Baiklah."Ucap Darto dengan dingin.


Kali ini dia merasa ada yang tidak beres yang telah terjadi di rumah nya, tidak biasa nya bik Atun bersikap seperti sedang ketakutan, kali ini pak Darto harus benar-benar menemukan jawaban nya dari bik Atun, pak Darto mulai curiga ada yang sedang di tutup-tutupi oleh asisten rumah tangga nya.


__ADS_2