DIJUAL DI MALAM PERTAMA

DIJUAL DI MALAM PERTAMA
bab 92. PERHITUNGAN


__ADS_3

"Ndis...kenapa lu ngga nyamperin kerumah ustadz aja? kan Ummi Salmah orang nya baik, anggap aja lu lagi PDKT ama camer!!" Ucap Bella pada Gendis.


"Maksud lu?" tanya Gendis tak mengerti.


"Ya...lu kan selama ini susah banget tuh deketin ustadz Bintang, nah mending sekarang lu deketin Ummi Salmah dan Kiyai Somad, kalau mereka udah setuju ama lu, berarti kemungkinan dapetin ustadz Bintang juga bakal mudah kan?" ucap Bella.


Gendis nampak memangguk-manggukan kepala nya, sepertinya gadis cantik tersebut paham dengan kata-kata sahabat nya tersebut.


"Kayak nya ide lu bagus juga, lagian dari mereka aku juga bisa cari tau kenapa ustadz Bintang udah satu minggu ini nggak masuk-masuk untuk mengajar di pondok." Ucap Gendis dengan semangat.


"Eh...tunggu Ndis, ada yang aneh deh...kamu mikir nggak sih, kok bisa samaan ya di saat ustadz Bintang nggak masuk, tuh cewek yang sok kecakepan juga nggak masuk-masuk." ucap Bella dengan ekspresi penuh tanda tanya.


"Maksud lu Syalu?" ucap Gendis menerka-nerka.


"Hum." Bella menganggukan kepala membenarkan tebakan Gendis.


"Oh iya...kenapa aku nggak kepikiran ya?" ucap Gendis.


"Mungkin nggak sih kalau Syalu ikut Ustadz Bintang ke acara tausyiah itu?" Lagi-lagi Bella berasumsi.


"Ha? lu tu ya...kalau ngomong yang bener, jangan suka bikin gua panik gini." ketus Gendis.


"Ya...gua nggak bermaksud bikin lu panik Ndis, tapi kan bisa aja kalau kata-kata gua tu bener." Lagi-lagi ucapan Bella membuat Gendis jadi gelisah.


"Awas saja kalau sampai benar-benar begitu, akan ku buat perhitungan sama cewek kegatelan itu." Ucap Gendis dengan tatapan mengerikan.

__ADS_1


"Ya udah Ndis mending sekarang lu fokus deketin camer lu, siapa tau dengan dapat restu dari mereka langkah lu buat dapetin ustadz Bintang makin mulus." ucap Bella menyemangati sahabatnya tersebut.


"Hum. Oke...gua rasa apa yang lu katakan ada benar nya juga, ya udah kita ke kantin dulu ya, udah demo ni yang di dalam perut." Ucap Gendis seraya mengusap-usap perutnya yang langsing.


"Apa? kantin? hayu...atuh...soal urusan perut mah Bella nomer satu, urusan cintaah nomer dua, tapi...jangan lupa ya...traktir gua." ucap Bella dengan cengengesan.


"Hu...dasar...nggak berubah lu dari dulu, doyan makan gratisan." Ledek Gendis.


Kemudian keduanya menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai lapar, namun tak dapat di pungkiri hati Gendis sudah mulai gelisah karena kata-kata Bella yang menyangkut soal Syalu, entah kenapa dia baru menyadari kalau gadis yang paling dia benci beberapa hari ini juga tidak kelihatan di pondok, bahkan sampai detik ini pun dia tidak mengetahui dimana letak kamar Syalu, karena selama ini dia hanya fokus ingin menarik perhatian ustadz Bintang sehingga dia pun melupakan untuk mencari tahu tentang gadis yang sekarang jadi penghalang bagi dirinya dan ustadz Bintang.Bella dan Gendis memang tidak tahu kalau selama ini Syalu tinggal bersama keluarga Kiyai Somad, yang mereka tahu hanyalah Syalu seorang gadis yang menyebalkan dan sok cantik, apa lagi perkiraan mereka yang mengatakan kalau Syalu lah yang selama ini selalu mencari perhatian dan simpatik dari seorang ustadz Bintang.


Di kediaman Delon, nampak Bintang dan Syfa sedang bersiap-siap untuk kembali ke pesantren, walaupun sebenarnya merekaasoh betah ingin berlama-lama di kampung Syalu yang begitu sejuk dan damai, namun tidak mungkin bagi Bintang untuk mengabaikan tugas nya sebagai seorang pendidik dan seorang ustadz, sedangkan Syfa juga sudah satu minggu meninggalkan tugas belajar nya, tentunya akan sungguh repot mengejar pelajaran-pelajaran yang tertinggal.


"Syfa...apa kamu yakin ingin pulang hari ini?" tanya Syalu dengan raut wajah yang sedih.


"Hum. Bukan kah kakak tau, aku sudah lama meninggalkan pelajaran ku." jawab Syfa apa ada nya.


"Syfa...maafin kakak ya, gara-gara permasalahan kakak kalian jadi repot seperti ini." ucap Syalu penuh dengan sesalan.


"Hey...kak, kok ngomong kayak gitu? kami nggak merasa di repotkan, kakak sudah di anggap keluarga oleh kami, kakak tetap jadi bagian keluarga kami, makanya kakak ikut aja ya ke pondok sama kita." ucap Syfa tulus.


"Untuk saat ini kayak nya kakak belum bisa pergi ke pondok Syfa, kakak harus menyelesaikan perceraian kakak dengan Rico terlebih dahulu." Jawab Syfa.


"Tapi kakak janji ya, setelah urusan kakak selesai kakak kembali ke pondok, soalnya Syfa udah nyaman banget sama kaka, kalau nggak ada kakak pasti Syfa kesepia." Ucap Syfa dengan ekspresi sedih dan bibir di kerucut kan.


"Is...kau ini lebay, mana ada kesepian tanpa kakak, bukankah nanti setelah ke pondok udahas Furqon." goda Syalu sambil menaik turun kan alisnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Mendengar nama Furqon di sebut sontak Syfa menjadi terkejut dan ingat sesuatu.


"Astaghfirullah...ya ampun kak, untuk kakak bilang soal mas Furqon, aku lupa kasih kabar kalau hari ini mau pulang."ucap Syfa nampak panik.


" Ya...ampun segitu nya yang udah punya calon suami, santai....woy...mas Furqon nggak akan lari kemana-mana kalau telat di kasih kabar."Lagi-lagi Syalu menggoda Syfa sambil terkekeh.


"Is...kau ini, serius kak...tadi malam itu pas kita telponan Syfa janji sama mas Furqon bakal kasih kabar kalau jadi pulang hari ini." Sungut Syfa.


"Hem...iya-iya percaya deh, ya udah gih kamu telpon mas Furqon dulu, kakak mau temuin ustadz Bintang dulu." Ucap Syalu.


"Oke kak." Ucap Syfa sambil mengacungkan jempol, kemudian Syalu berlalu dan rencananya dia akan menemui Bintang untuk mengucapkan banyak terimakasih.


Syalu nampak celingukan mencari Bintang, dan dia sudah mencoba mengetuk kamar Bintang beberapa kali namun tak ada jawaban, matanya begitu gelisah mencari kesana kemari keberadaan sangat ustadz namun tak kunjung di temukan. Hingga tanpa di sadari ada sosok laki-laki tengah berdiri di belakang Syalu, laki-laki tersebut nampak keliahatan gagah dan tampan, dengan memawwwkai kemeja warna biru langit dan celana jeans putih, namun kali ini laki-laki tersebut tak memakai peci kebanggaan nya, rambutnya yang hitam pekat sudah tertata rapi, hari ini Bintang sengaja memakai pakaian yang terlihat santai, sungguh pemandangan yang sangat indah, siapaun wanita yang melihat nya tentu hatinya akan meleleh.


"Hem...apa kau mencari ku nona?" Bintang sengaja berdeham untuk mengagetkan Syalu.


Deg


Deg


Syalu nampak terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul di belakang nya.


"Suara itu? apa iya itu dia? tapi...?"lirih Syalu, nampak dia masih bingung dengan suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Wah...nona ini benar-benar nggak sopan ya, masa iya saya Bicara sama punggungnya." Goda Bintang.

__ADS_1


"Ha? ustadz?" seketika Syalu langsung membalikan badan.


Wajah Syalu bersemu merah, tak dapat di Pungkiri saat ini dia tengah gugup, karena tak menyangka kalau orang yang dia cari ternyata sekarang ada di hadapan nya bahkan dengan jarak yang sangat dekat.


__ADS_2