
"Syfa...abang harap kamu bisa bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah kamu dan Furqon, nggak baik membuat perasaan orang jadi gelisah kayak gitu."Tegur Bintang pada adik nya.
"Maksudnya bang?" Syfa masih tak paham maksud kakak nya.
"Abang mengerti saat ini kau tengah merajuk pada Furqon." Ucap Bintang.
Deg
Deg
Mendengar pernyataan Bintang sontak membuat Syfa terkejut, entah tau dari mana kakak nya soal diri nya dan Furqon, sejenak Syfa menoleh ke Syalu mata nya mengisyaratkan seolah-olah bertanya apakah Syalu yang menceritakan semua ini pada kakak nya atau kah ada orang lain yang memberi tahu nya. Mendapatkan tatapan dari Syfa, Syalu pun seakan-akan paham maksud dari gadis imut di sebelah nya, spontan kepala nya pun menggeleng Seakan-akan memberi jawaban kalau bukan dirinya yang memberi tahu Bintang.
"Abang tau semua cerita nya karena Furqon sendiri yang langsung nelpon abang." jelas Bintang.
"Jadi mas Furqon yang ngasih tau abang?" ucap Syfa sedikit terkejut.
"Hum. Jadi menurut abang kau harus mendengar kan semua penjelasan dari Furqon agar tidak ada salah paham lagi." Ucap Bintang menyarankan.
Sejenak Syfa terdiam mendengar Kata-kata dari Bintang, apa yang di bicarakan kakaknya memang benar, tak seharusnya dia membuat laki-laki baik itu menjadi bingung.
"Ya udah iya...nanti aku bakal telpon balik mas Furqon."Jawab Syfa
"Lagian kamu tu aneh, masa nggak tau duduk perkara nya udah main ngambek-ngambek aja."ucap Bintang.
"Aduh...si abang...mulai deh...yang adiknya siapa, yang di belain siapa." sungut Syfa.
"Siapa yang belain coba, abang kan cuma meluruskan permasalahan nya saja, kenapa sih semua perempuan itu seribet ini? hobinya ngambek pula." celetuk Bintang tanpa sengaja.
Mendengar Bintang menyebut semua perempuan Syalu pun merasa tidak Terima, akhirnya Syalu pun membuka suara.
"Maaf ustadz, saya rasa tidak semua perempuan seperti itu, saya rasa Syfa mempunyai alasan untuk bersikap seperti itu, dari sudut pandang ustadz mungkin ini seperti kekanak-kanakan, tapi menurut ku tidak, bisa saja kan Syfa hanya ingin perhatian dari mas Furqon, kenapa juga semua laki-laki termasuk mas Furqon nggak peka akan hal itu."Skak Syalu pada Bintang.
Deg
__ADS_1
Deg
Seketika tubuh Bintang menegang mendengar Kata-kata Syalu, jawaban Syalu begitu menohok diri nya.
"Astaghfirullah...kenapa pakai salah jawab sih, ginikan jadinya kena semprot sama bidadari." celetuk Bintang dalam hati.
Melihat ekspresi kakak nya yang menegang akibat jawaban Syalu yang menohok Syfa pun jadi terkekeh melihat nya, tak hanya Syfa supir taxi pun ikut tersenyum melihat Bintang yang jadi kikuk.
"Jadi cerita nya pak supir juga ngeledekin saya nih??" Sungut Bintang.
"Eh...enggak ustadz, maaf saya lancang." jawab Pak supir taxi tergagap.
"Udah...nggak apa-apa pak supir, anggap saja kita lagi senam muka." Jawab Syfa asal.
Mendengar celetukan Syfa pak supir pun hanya nyengir kuda, sedangkan Bintang merasa tidak enak pada Syalu, karena tanpa sengaja ucapan nya telah menyinggung perasaan Syalu.
"Maaf ya Sya...saya nggak bermaksud." Ucap Bintang tanpa menyelesaikan Kata-kata nya, dia bingung harus bicara apa pada Syalu.
"Nggak apa-apa ustadz." Jawab Syalu dingin.
Flashback on.
"Mari kita bicara di rumah abah, seperti nya ada hal yang sangat penting yang akan kalian sampaikan.Ucap Abah Sudin pada Bintang, Syalu dan Syfa.
Ketika di Masjid Syalu memang sudah setuju untuk jujur pada abah Sudin, setelah mereka bertiga berjalan mendekati abah Sudin mereka pun sudah siap untuk bicara, namun abah Sudin lebih memilih mengajak mereka bicara di rumah di bandingkan di masjid,Setelah sampai di rumah kediaman abah Sudin mereka pun langsung di ajak makan terlebih dahulu kemudian mereka berbincang-bincang di ruang tamu dan memulai pembicaraan yang serius.
"Jadi apa yang ingin kalian katakan nak?" Ucap Abah Sudin.
Bintang dan Syalu saling pandang sebelum memulai pembicaraan nya dan pada akhirnya Syalu membuka suara.
"Abah...ini aku Syalu!" dengan berurai air mata Syalu membuka cadar nya.
"Subhanallah...Syalu!!!" pekik abah Sudin sambil menutup mulut dengan telapak tangan nya.
__ADS_1
"Iya bah ini Syalu!" ucap Syalu dengan tangis nya.
"Ya Allah nak, kau baik-baik saja? apa sudah terjadi sesuatu pada mu?" ucap abah Sudin penuh haru.
"Syalu baik-baik saja bah, Syukur alhamdulillah Syalu bertemu dengan keluarga ustadz Bintang, merekalah yang menolong Syalu dan juga menampung Syalu selama ini." Ucap Syalu.
"Lalu kenapa kau tidak pulang nak? kasihan mama dan papa mu!!" ucap Abah Sudin.
"Syalu takut bah, Syalu takut di paksa kembali dengan laki-laki bajingan itu." Ucap Syalu dengan nangis tergugu.
"Tidak nak, justru papa mu menginginkan kau pulang, dia begitu memikirkan mu nak." Ucap Abah Sudin.
"Dan mama? apa mama menginginkan aku pulang bah? apa mama juga memikirkan ku?" tanya Syalu pada Abah Sudin.
"Mama mu juga khawatir nak, pulang lah!!! kasian mama dan papa mu." Ucap Abah Sudin
"Nggak mungkin mama menginginkan Syalu pulang bah, kalaupun menginginkan pasti mama ingin aku kembali pada Rico." Ucap Syalu terisak.
"Tidak nak, papa mu tidak mengizinkan kau kembali dengan laki-laki itu, bahkan laki-laki itu saat ini tengah terbaring di rumah sakit." jelas Abah Sudin.
"Apa??? rumah sakit?" Syalu sedikit terpekik karena terkejut mendengar berita tentang laki-laki yang sangat dia benci.
"Apa yang terjadi pada nya bah?" kali ini Syfa yang membuka suara untuk bertanya.
"Abah tidak begitu paham dengan kejadian yang telah menimpa Rico, tapi yang jelas dia di culik seseorang dan di aniaya sampai salah satu kaki nya patah, bahkan seluruh tubuhnya penuh dengan luka sulutan rokok." Jelas abah Sudin lagi.
"Astaghfirullah..." Ucap mereka bertiga serempak.
"Secepat itukah karma Allah bekerja untuk laki-laki bajingan itu bah?" ucap Syfa spontan.
"Istighfar Syfa...jaga ucapan mu." Bintang berusaha mengingat kan sang adik agar tidak asal bicara.
"Apa abah sudah bertemu dengan Rico?" tanya Syalu penasaran.
__ADS_1
"Hum. Kemarin abah pergi bersama mama dan papa mu, papa mu sengaja datang kerumah sakit hanya untuk menginterogasi Rico terkait dirimu nak." ucap Abah Sudin.
Hati Syalu terenyuh mendengar penuturan abah Sudin terkait sang papa, ternyata papa nya masih sangat peduli dan menyayangi dirinya, kini rasa rindu terhadap orang tuanya kian membuncah dalam hatinya, ada perasaan bersalah dalam hati nya karena dia sedikitpun tak berniat memberi kabar pada orang tuanya karena rasa kecewa yang mendera hatinya.