Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Tawaran Kerja


__ADS_3

Vanya baru saja menyelesaikan makan siang pertamanya di rumah Jafin. Gadis itu ingin membantu mencuci piring bekas makannya, tetapi alih-alih mencuci piring, Vanya malah membuat dapur Jafin jadi berantakan bahkan piringnya pun pecah.


Jafin yang saat itu sedang menghubungi seseorang, langsung menutup sambungan teleponnya dan berlari ke arah sumber suara. "Ada apa?" Pria itu panik dan saat melihat keadaan dapurnya, ia menepuk keningnya.


"Ya ampun Vanya, sudah biarkan saja, nanti akan ada orang yang membereskan rumah."


"Maaf, Bang. Aku hanya ...." Vanya menundukkan kepalanya dengan busa sabun yang masih melimpah di tangannya.


Jafin kemudian mendekat, ia tak mau terjadi hal buruk pada tamunya. Dengan perlahan ia menarik tangan gadis itu dan membantu mencucinya di wastafel yang tersedia di sana.


"Ayo, kita ke depan! Kamu itu tamuku, jadi jangan mengerjakan apapun di rumah ini, selain yang aku suruh, oke." Vanya hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.


Kemudian keduanya berjalan menuju ruang depan. Wanita tua yang duduk di kursi roda itu masih di posisi yang sama. Vanya kemudian duduk di sofa. "Maafin aku, Bang." Kalimat itu kembali meluncur dari bibir mungil Vanya.


"Sudah, Abang nggak marah. Kalau mau bantu Abang, bisakah Vanya menemani ibu kalau Abang sedang pergi?" ucap Jafin sambil mengusap rambut panjang Vanya lembut.


"Bisa, Bang." Kini gadis berambut panjang itu berani menatap pria di depannya.


"Anak pintar." Jafin tersenyum dan kembali mengacak pelan rambut Vanya.


Malam pun tiba, setelah seharian Vanya menemani ibu dari Jafin. Akhirnya, waktu tidur pun tiba. Jafin yang keluar sejak tadi siang, sudah memberi tahu juga kebiasaan sang ibu seperti apa, bahkan tentang jam tidurnya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00, dan itu berarti waktu tidur ibu Jafin telah tiba. Vanya pun mendorong kursi roda wanita tua itu menuju kamarnya. Vanya memang telaten jika mengurus lansia, karena setiap satu bulan sekali ia selalu mengunjungi panti jompo yang ada di kotanya.


"Sekarang Ibu tidur, ya. Besok Vanya bacain lagi buku," ucap gadis itu sambil memindahkan wanita itu ke ranjangnya dengan alat yang sudah tersedia. Setelah memastikan ibu Jafin tidur, Vanya baru keluar dari sana.


Awalnya Vanya akan kembali ke kamarnya, tetapi ia urungkan dan kembali ke ruang depan untuk menunggu Jafin. Malam semakin larut dan pria yang ditunggu Vanya pun tak kunjung datang sampai akhirnya ia tertidur di sofa.


**


Keesokkan paginya, Vanya terbangun di kamar milik adik Jafin. Wanita itu mengucek matanya yang perih. "Kenapa aku tidur di sini?" gumamnya lalu turun dari ranjang queen size itu.

__ADS_1


Vanya kemudian masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia ragu untuk menggunakan baju lain yang ada di lemari kamar itu, sehingga ia pun kembali menggunakan bajunya yang sudah ia cuci kemarin. "Duh, masih agak basah lagi, tapi ya udahlah."


Setelah dirasa siap, gadis itu pun keluar dan disambut hangat oleh Jafin. "Selamat pagi, mari sarapan," ajaknya lembut.


Vanya hanya mengangguk dan sekaligus malu karena tidak membantu apa-apa.


"Kenapa semalam tidur di sofa, Vanya? Sudah Abang bilang kalian tidur saja duluan, jangan tunggu Abang." Jafin mulai menyediakan nasi goreng untuk Vanya.


"Duduklah!" imbuhnya.


"Makasih, Bang."


Mereka pun sarapan bersama, sesekali Jafin sambil menyuapi sang ibu. Pria itu selalu melakukan semuanya sendiri, bahkan saat Vanya menawarkan diri untuk membantunya, Jafin selalu menolaknya. Jafin selalu berkata kalau Vanya hanya harus menemani ibunya selama dirinya tak ada di rumah.


**


Sudah satu minggu Vanya tinggal bersama Jafin dan ibunya, pria itu benar-benar mengurusnya dengan baik, bahkan belum sekalipun ia bersikap kurang ajar pada dirinya. Vanya merasa memiliki seorang kakak yang sesungguhnya.


"Kamu mau kerja, kan?" tanya Jafin pada Vanya sore itu.


"Aku mau, Bang. Aku malu numpang hidup terus sama Abang." Vanya antusias mendengar pertanyaan Jafin.


"Baiklah, nanti malam kamu ikut Abang. Dandan yang cantik ya, bajunya nanti Abang siapin." Jafin tersenyum senang.


"Makasih, Bang." Vanya selalu mengucapkan hal sama setiap kali Jafin melakukan hal tak terduga yang membantunya.


Malam pun tiba, Vanya sudah cantik dengan riasan di wajahnya. Namun, saat wanita itu akan mengenakan baju yang diberikan Jafin, ia tertegun dengan baju terbuka yang akan dipakainya.


"Baju apaan ini? Ya ampun pendek banget." Vanya mengangkat baju berwarna merah itu ke atas sambil direntangkan.


"Vanya sudah belum? Kalau kamu heran dengan bajunya, itu yang dikasih bos buat kamu, hari ini kamu bisa mulai bekerja." Jafin berteriak dari luar.

__ADS_1


"Oh, iya Bang sebentar. Aku boleh pake tas punya adik Abang nggak? Buat bawa alat make up." Vanya bertanya tanpa membuka pintu kamarnya.


"Boleh, gunakan saja, jika perlu baju ganti pun kamu boleh membawanya sesuka hatimu." Jafin mengakhiri percakapannya.


Entah mengapa perasaan Vanya sudah tak enak sejak siang tadi, sehingga ia menyiapkan segalanya untuk antisipasi. Vanya memilih tas punggung yang cukup besar untuk membawa beberapa baju dan alat lainnya. Karena baju yang diberikan Jafin sangat pendek, ia pun menggunakan legging untuk menutupi kakinya yang putih. Sementara bagian atasnya ia menggunakan sweaternya.


Vanya pun keluar dengan tas di punggungnya, rambutnya ditata dengan rapi, wajahnya juga dipoles dengan sangat cantik. Jafin sudah menunggunya di ruang depan bersama sang ibu.


"Lho kok, pakai sweater?" Jafin mengerutkan keningnya.


"Dingin, Bang. Nanti kalau sudah sampai di tempat aku buka kok." Vanya beralasan.


"Oh, oke. Kalau begitu ayo pergi!"


Namun, saat Vanya berpamitan pada ibu Jafin, wanita tua itu menggenggam tangan Vanya begitu erat, seolah wanita itu melarangnya pergi.


"Vanya cuma mau kerja, Bu. Nanti pulang kerja Vanya temenin ibu lagi ya." Vanya melepaskan tangan wanita tua itu perlahan.


Kemudian pergi mengikuti Jafin. Namun, entah kenapa pandangan ibu Jafin terus terbayang di benak Vanya.


"Siap berangkat?" Pria dengan dandanan rapi seperti biasa itu bertanya setelah Vanya memasang sabuk pengamannya.


"Siap, Bang. Eh, tapi tadi ibu kayak ... larang aku pergi, Bang." Vanya mengungkapkan isi hatinya.


"Jangan dihiraukan itu artinya ibu sudah dekat denganmu, Vanya." Jafin pun melajukan mobilnya.


Baru saja beberapa meter berjalan, suara dering ponsel Jafin berbunyi dengan keras.


"Iya, aku sudah membawanya," jawab Jafin yang didengar jelas oleh Vanya.


"Siapkan uangnya sesuai perjanjian kita." Jafin pun menutup sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Perjanjian apa, Bang?"


__ADS_2