
Malam ini warung Mak Aminah makin ramai dengan kedatangan Ehsan dan Ayudia. Wanita itu bahkan tak segan membantu Mak Aminah. Sementara Ehsan, pamit untuk mengambil mobilnya di seberang. Pria itu lupa bahwa mobilnya masih berada di depan resto yang disinggahi Fathan tadi siang.
Saat Ehsan keluar dari warung, mobil Fathan sudah tak ada di tempatnya. Pria itu pun tak ambil pusing, ia sudah menemukan putrinya dan tak perlu lagi bertemu dengan pria tua itu.
"Jadi kamu masih mau cewek itu kerja di sini, Kram?" Terdengar suara wanita seperti sedang bertengkar dengan seseorang.
"Olive, dengar dia harus menyelesaikan pekerjaannya, kamu jangan cemburu kaya gitulah." Suara sang pria kini yang terdengar.
Ehsan menggelengkan kepalanya. "Anak jaman sekarang kalau bertengkar nggak tahu tempat." Pria itu pun menyalakan mobilnya dan hendak memarkirnya di halaman warung Mak Aminah.
Ternyata Ikram dan Olive masih bertengkar gara-gara Yuki karena Olive melihat kalau Ikram jadi selalu memperhatikan Yuki. Jadi, saat Ikram bilang kalau pria itu akan membujuk Yuki untuk kembali bekerja, Olive tersulut emosi.
Pasangan kekasih itu bahkan masih berdebat hingga malam, padahal tadi siang Olive baru saja dikenalkan pada sang kakek. "Lebih baik kamu istirahat, Olive. Nggak cape apa dari tadi marah-marah terus?"
"Aku cape, aku sebel, aku kesel, aku marah pokoknya sama kamu, Ikram." Gadis itu mengacak rambutnya dengan frustrasi lalu membanting tubuhnya ke sofa.
"Biar aku antar kamu ke hotel, aku tidur di sini saja," ucap Ikram lembut.
"Nggak, aku mau di sini sama kamu, enak aja kamu mau godain cewek itu kak?" Olive kembali membahas Yuki.
Ikram pun menghela nafas. "Terserah kamu, aku cape mau istirahat." Pria itu pun berlalu ke sofa lain dan merebahkan tubuhnya di sana, kemudian memejamkan netranya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Olive mengerang kesal melihat sikap kekasihnya yang seolah tak peduli dengan perasaannya. Aku memang menyukaimu Ikram, dan hanya sebatas itu. Aku harus bisa meyakinkanmu kalau kamu memang hanya buat aku, hmm.
Tak berselang lama terdengar dengkuran halus dari bibir Ikram. Olive pun beranjak dari duduknya lalu mengusap air matanya. Gadis itu lalu mengambil ponselnya. Dia mengetikan sesuatu di sana dengan satu ujung bibirnya ditarik ke atas. "Kakekmu sudah melihatku, aku yakin dia akan merestui pernikahan kita, Ikram, dan itu artinya ...." Olive tersenyum licik.
__ADS_1
Setelah itu, Olive pun pergi meninggalkan Ikram sendirian.
Sementara itu, di seberang resto Ikram terlihat dua wanita sedang menutup warungnya. Dua wanita itu terlihat sangat mirip dari arah belakang, hanya pakaiannya saja yang jauh berbeda, terlihat dari pakaian yang digunakan bahwa usia mereka jauh berbeda.
"Mami udah sekarang kita istirahat, Mami pasti cape, kan?" ucap gadis yang mengikat rambutnya sembarang itu.
"Mami seneng bisa bareng sama kamu lagi, Vanya. Mami nggak mau kamu ninggalin Mami lagi, Mami nggak mau." Wanita berbaju biru itu memeluk putrinya dengan erat, ternyata dia adalah Ayudia mami daei Vanya.
Kemudian, keduanya kembali masuk ke warung. Ruangan sudah ditata
dengan rapi seperti biasanya. Kini di sana sudah ada Ehsan, Ayudia, Mak Aminah dan Yuki alias Vanya. Mereka berempat duduk melingkar di sebuah meja dengan hidangan makan malam yang masih hangat.
"Silakan dinikmati!" ujar Mak Aminah dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Mereka makan malam bersama dan sesekali diselingi perbincangan mengenai diri mereka masing-masing. Namun, saat Mak Aminah menceritakan kehidupannya yang lalu, Ehsan tertegun saat mendengar nama ayah dari wanita di hadapannya. "Putra Pratama?" Ehsan mengulang nama ayah dari Mak Aminah.
Ehsan menyipitkan netranya, lalu menebak nama yang sebenarnya ia ragu untuk mengucapkannya. "Mina, kamu Mina kah?"ucap Ehsan yang membuat Ayudia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan tak terbaca.
"Kok, tahu nama kecilku?" Mak Aminah terkejut saat pria di hadapannya menyebut nama kecilnya, walaupun sebenarnya ia juga merasa familiar dengan wajah Ehsan.
"Aku Ehsan, anaknya Pak Pradipta, kamu lupa?" Ehsan tersenyum lebar saat tebakannya ternyata benar.
"Kang Ecan? Ini serius Kang Ecan?" Mak Aminah menutup mulutnya dengan telapak tangan saat Ehsan mengangguk.
Ayudia dan Vanya saling pandang, mereka tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini antara Mak Aminah dan Ehsan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya kamu ketemu dan sehat, Mina. Saat suamimu membawa kamu pergi, kenapa tidak pernah ada kabar. Kami semua sangat mengkhawatirkan kamu." Ehsan tersenyum bahagia.
"Sebentar Papi, ini kenapa, Mak Aminah sama Papi ada hubungan apa?" Vanya mulai mengeluarkan pendapatnya, gadis itu takut kalau Mak Aminah adalah istri muda sang papi.
Ehsan berbalik ke arah sang putri yang sudah menatapnya dengan horor. Kemudian pria itu mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Terima kasih, Sayang. Berkat kamu Papi bisa bertemu dengan Tante kamu, dia masih saudara Papi yang dulu pernah hilang."
Ayudia menatap ke arah suaminya. "Pantesan saat pertama ketemu, Papi merhatiin Mak Aminah terus. Mami kira Mak Aminah ini mantan Papi."
Ehsan tertawa dan mengusap pipi istrinya dengan lembut. Kemudian pria itu pun menceritakan silsilah keluarganya. Kakek Ehsan dan kakek Mak Aminah bersaudara. Kakek Ehsan memiliki putra bernama Bagas Pradipta yaitu ayah Ehsan, sementara kakek Mak Aminah memiliki putra bernama Putra Pratama ayah Mak Aminah.
Saat itu, keluarga Mak Aminah tak setuju putrinya menikah dengan pria yang notabene dari kalangan biasa, tetapi karena cinta tulus mereka, keduanya tetap menikah dan Mak Aminah pun dibawa pergi oleh suaminya Sodik. Selama itu, tak ada kabar dari Mak Aminah. Bahkan semua orang menganggap dirinya sudah tiada.
Namun, ternyata takdir mempertemukan mereka kembali berkat Vanya. Kepergian Vanya ternyata membawa keberkahan dengan mempertemukan kembali saudara yang telah lama hilang.
"Kang Sodik tetap mencintaiku dengan tulus, Kang. Walaupun aku tak bisa memberikannya turunan." Mak Aminah mulai terisak saat mengingat mendiang suaminya.
"Ke mana dia sekarang? Aku ingin berjumpa dengannya," tanya Ehsan.
"Kang Sodik ... sudah meninggal dunia beberapa tahun silam, Kang."
"Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un," ucap Ehsan bersamaan dengan Ayudia.
"Hidup aku kembali saat bertemu dengan Neng Yuki eh Neng Vanya, dia yang menyemangatiku, dia yang membuat aku kembali semangat hidup, setelah sekian lama aku hidup sebatang kara."
Ayudia kembali menatap putrinya dengan bangga. Gadis manja yang dianggap tak bisa berbuat apa-apa ternyata bisa bermanfaat bagi orang lain dan memberikan kebahagian. "Mami bangga sama kamu, Sayang." Ayudia kembali mendekap putrinya.
__ADS_1
"Tolong jangan pisahkan aku sama Neng Vanya, Kang!"