Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Bayi Besar


__ADS_3

Ikram merasa pusing tiba-tiba saat akan menarik tangan Yuki agar tidak pergi, tetapi kakinya malah tersandung kaki meja dan menabrak tubuh Yuki hingga gadis itu terjatuh dan siyalnya tubuh pria itu menimpa tubuh Yuki.


"Aduh!" Yuki memekik kesakitan juga terkejut saat wajah pria itu begitu dekat dengannya.


Sorakan Nisa membuat Yuki makin kesal saat gadis itu malah berkata kalau dia belum tujuh belas tahun ke atas sambil menutup wajahnya.


"Nisa! Bantuin aku ih, dia malah tidur!" Yuki berusaha mendorong tubuh Ikram yang malah memejamkan matanya, entahlah pria itu pura-pura tidur atau apa.


Nisa pun langsung berlari saat Yuki terus berusaha bangkit dan lepas dari Ikram. Gadis itu pun mendekat dan melihat keadaan keduanya. "Eh, Teh Yuki kenapa si Akangnya nggak bangun-bangun?" ucap gadis itu setelah mendorong tubuh Ikram ke samping dan Yuki pun berhasil bangun.


"Dih, aku mana tahu, udah kamu urus dia aja." Yuki beranjak lalu hendak pergi meninggalkan Nisa dan Ikram.


Nisa pun panik saat diberikan tugas untuk mengurusi orang yang sama sekali tidak ia kenal, apalagi keadaannya sepertinya tidak baik-baik saja. "Teh Yuki, jangan tinggalin Nisa atuh!" Gadis itu berlari mengikuti Yuki.


"Nisa nggak mau ah, bagaimana kalau si Akang itu ... meninggal ...."


"Hus! Mulutnya ...." Yuki pun kembali berbalik ke arah Ikram yang masih tergeletak di lantai. "Duh, nih orang kenapa lagi sih?" Gadis berambut dicepol itu menusuk-nusuk pipi Ikram dengan telunjuknya. Sesekali ia mengibaskan tangannya dan mendekatkan jarinya pada hidung mancung Ikram. "Ah, masih nafas syukurlah."


"Teh Yuki gimana?" Nisa yang berada di sebelahnya masih memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yuki.


"Aman, udah kamu kasih minyak kayu putih aja nanti juga bangun sendiri. Aku balik ke warung ya," ucap Yuki sambil beranjak.


Nisa hanya terdiam saat mendengar ucapan Yuki. Namun, setelah Yuki menghilang Nisa baru sadar bahwa dirinya kini harus mengurus orang tak dikenal di hadapannya. "Astagfirullah Teh Yuki! Nisa nggak tahu kayu putihnya digimanain?" Gadis itu baru ingat pesan Yuki tentang minyak kayu putih yang bisa membangunkan orang pingsan.


Nisa pun mencoba mencari benda itu dan beruntungnya ada di laci meja yang ada di sana. Gadis itu kemudian mengambilnya. Dengan bismillah ia pun mulai menuangkan sedikit minyak itu ke telapak tangannya. Setelah itu, tanpa pikir panjang Nisa langsung mengusapkan ke wajah Ikram. "Maaf, ya Akang muka gantengnya Nisa pegang."


Tak berselang lama, pria itu pun mulai mengerjapkan matanya. Namun, setelah itu ia berteriak sambil berkata kalau wajahnya panas. "Apa yang kamu lakukan?" Ikram setengah membentak Nisa yang juga terlihat kaget.

__ADS_1


"A-aku cuma bikin Akang biar sadar," ucap Nisa gugup.


"Aduh! Panas!" Ikram langsung berdiri dan berlari ke toilet. Pria itu membasuh wajahnya tak lupa menggunakan sabun muka miliknya. Ikram jadi teringat saat dulu Yuki mengerjainya dengan memberikan sabun cuci tangan untuk wajahnya. "Yuki!" pekik Ikram tertahan. Setelah selesai, pria itu mengambil handuk kecil untuk mengelap wajahnya.


Saat keluar ternyata gadis bernama Nisa itu masih ada di sana dan duduk di sofa dengan memilin jari-jemarinya. "Ngapain kamu masih di sini? Mana Yuki?" tanya Ikram datar.


"Maaf, Kang. Aku disuruh Teh Yuki untuk temenin Akang." Nisa menjawab dengan menundukkan kepalanya.


"Kamu balik ke warung saja, saya juga akan ke sana." Ikram berjalan menuju pintu keluar lalu diikuti Nisa dengan berlari.


Mereka berdua pun berjalan menuju warung, tidak bersama, karena Ikram berjalan lebih dulu ke warung Mak Aminah. Saat sampai di sana, Yuki terlihat sedang melayani beberapa orang yang membeli pulsa.


"Tulis aja di sini nomornya, Kang." Yuki memberikan pulpen dan kertas.


"Kalau ditulis di hp Neng Yuki aja boleh nggak?" goda pria bertubuh berisi itu.


Yuki dan pria tadi tentu saja langsung melihat ke arah Ikram. Pria itu sudah memasang wajah menyeramkan walau tetap saja terlihat ganteng. "Nggak usah didengerin, Kang." Yuki kembali beralih ke pembelinya. Kemudian dengan cepat pria itu menulis nomor ponselnya di kertas yang sudah Yuki berikan.


"Jangan lupa simpan nomor Akang ya," bisik pria itu kemudian pamit undur diri setelah membayar uang pulsanya.


Ikram masih berdiri di sana dengan memperhatikan Yuki yang masih sibuk dengan pelanggannya. Cukup lama Ikram menunggu gadis berkaus merah muda itu, sampai akhirnya Yuki pun selesai dengan tugasnya.


"Kamu kenapa kabur, Yuki?" tanyanya sambil mendekat ke arah gadis itu.


"Aku udah nitipin kamu ke Nisa kok tadi saat pingsan, buktinya sekarang udah sadar jadi Nisa bener dong urusnya, Bayi besar," ucap Yuki sambil menekankan nama Bayi besar.


"Kamu ... kamu tahu nggak dia basuk muka aku pakai minyak kayu putih." Ikram menunjuk ke arah wajahnya sendiri.

__ADS_1


"Apa?" Yuki bukannya merasa iba, gadis itu malah tertawa lepas saat mendengar ucapan Ikram. "Ya Allah Nisa, Nisa ...." Yuki tak bisa berhenti tertawa dan tentu saja hal itu membuat Ikram makin jengkel. Hari sudah malam, warung Mak Aminah sudah mau tutup. Jadi, suasana sudah mulai sepi.


"Sudah ketawanya?" sindir Ikram yang kini sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Namun, kibasan tangan dari Yuki membuat pria itu makin kesal, sampai akhirnya Ikram pun mendekat dan mencubit hidung mancung Yuki dengan gemas.


"Aw!"


Sementara itu, Nisa dan Mak Aminah sedang membereskan piring dan gelas bersih ke tempatnya.


Ikram dan Yuki masih sibuk dengan perdebatan mereka. "Aku belum makan sejak tadi siang, pokoknya sekarang kamu harus masakin aku."


"Dih, kamu lupa aku nggak bisa nyalain kompor? Apalagi masak." Yuki menjawab dengan memiringkan wajahnya. "Udah ah, aku mau tutup warung dulu, besok saja kembali lagi ya, Masnya." Gadis itu pun melewati Ikram untuk pergi keluar.


"Enak saja, pokoknya kamu harus tanggung jawab." Ikram mencekal pergelangan Yuki.


"Oke, tunggu di sini!" Yuki menepiskan tangan Ikram lalu pergi menemui sang emak. Wanita paruh baya itu terlihat sibuk menuangkan beberapa makanan yang masih tersisa.


"Mak, masih ada makanan, kan?" tanya Yuki walaupun ia tahu kalau apa yang ia tanyakan tak perlu jawaban.


"Neng Yuki nggak lihat, ini masih ada banyak malah buat makan malam kita juga masih nyisa kayanya. Kenapa?"


"Tuh, Bayi besar minta makan, Mak." Yuki menunjuk ke arah Ikram dengan dagunya.


"Ya udah kita makan malam bersama aja, Neng. Ayo ajak Nak Ikramnya." Mak Aminah pun memanggil Nisa untuk menyajikan makan malamnya di meja.


"Woi, Bayi besar tuh makan malamnya!" Yuki memanggil Ikram dengan panggilan baru.


"Mak, boleh dicubit nggak sih anaknya?"

__ADS_1


__ADS_2