Dikejar Mantan Calon Suami

Dikejar Mantan Calon Suami
Pulang


__ADS_3

Sekitar tiga hari Vanya dirawat di rumah sakit dan hari ini adalah waktunya Vanya pulang. Tubuh gadis itu sudah terlihat lebih segar saat ini. Ehsan dan Ayudia membantu Vanya untuk keluar dari kamar pesakitannya. Gadis itu sudah terlihat lebih segar.


"Akhirnya kita pulang, Sayang." Ayudia tersenyum senang.


Keluarga kecil itu pun berjalan menuju lift ke lantai bawah. Saat mereka akan masuk, tiba-tiba seorang pria berkemeja rapi menyapa, "Selamat pagi, Vanya apa kabar?"


Ehsan dan Ayudia menatap pria itu dengan mengerutkan keningnya, berbeda dengan Vanya yang terpaku dan mengepalkan tangannya. "Siapa, Sayang?" tanya Ehsan pada putrinya.


"Dia ...."


"Kenalkan Jafin, teman Vanya." Pria itu mengulurkan tangannya pada pria paruh baya di depannya.


Ehsan tak langsung menerima uluran tangan pria berpenampilan rapi itu. "Apakah kita pernah bertemu?"


Jafin tersenyum ramah seperti biasanya untuk menutupi siapa dia sebenarnya. "Sepertinya ini pertemuan pertama kita."


"Mami, Vanya pengen cepet pulang, ayo!" ajak gadis itu untuk segera mengakhiri pertemuan dengan Jafin.


Ehsan pun pamit tanpa menyambut uluran tangan pria itu. Akhirnya, Jafin pun mengangguk dan menurunkan tangannya lalu mempersilakan keluarga kecil itu pergi.


Selama Vanya dirawat, Jafin memang selalu memantau perkembangan gadis itu bahkan mencari informasi tentang siapa Vanya sebenarnya. Ternyata gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Ayahnya pemilik Pradipta Group. Perusahaan besar yang bergerak di bidang properti.


"Kamu harus mengganti semuanya, Vanya. Kita lihat tanggal mainnya." Jafin tersenyum miring setelah kepergian gadis itu berserta orang tuanya.


Pria berparas tampan itu pun kini hendak kembali ke ruangan sang ibu. Perkembangan kesehatan ibunya cukup baik, walaupun masih belum bisa pulang dalam waktu dekat. Namun, ia juga sudah mengantongi kabar bahwa Vanya akan segera bertunangan. Jafin sudah membuat rencana untuk hari itu.


Di lain tempat seorang pria berjas hitam terlihat sibuk di ruangannya. Setelah menutup laptopnya, pria yang ternyata Ikram itu langsung beranjak dengan langkah cepat ia keluar dari ruangannya menuju ruangan lain untuk meeting.


Ikram ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya karena tiga hari lagi ia akan bertunangan dengan pujaan hatinya. Pria itu begitu fokus saat mendengar presentasi kliennya yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Sekitar pukul 15.00, Ikram akhirnya bisa keluar dari kantornya. Pria itu akan mengunjungi kediaman Pradipta untuk bertemu dengan Yuki yang pulang dari rumah sakit tadi pagi.

__ADS_1


Ikram melepaskan jasnya dan menyimpan benda itu di samping kemudi. Pria itu juga membuka dasi dan kancing bagian atas kemejanya. "Aku datang, Yuki. Kamu harus siap untuk acara pertunangan kita tiga hari lagi," gumam pria itu lalu mulai mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran kantor.


Selama perjalanan menuju rumah Vanya, Ikram tak berhenti menarik ujung bibirnya le atas, pria itu merasa senang bisa kembali bertemu dengan gadis galak itu. Setelah ia menjenguk Vanya waktu itu, Ikram belum sempat kembali ke rumah sakit karena pekerjaannya. Pria itu ingin acara pertunangannya nanti tak diganggu oleh pekerjaan.


Saat mobil itu sedikit lagi sampai ke kediaman Pradipta. Ikram terlebih dahulu menuju ke minimarket yang ada di sekita sana untuk membeli buah tangan untuk Vanya. Vanya sudah pernah berkata kalau dia tak menyukai bunga, jadi Ikram membeli banyak coklat dan cemilan untuk gadis itu.


Setelah membayar semuanya, Ikram pun kembali ke mobilnya dan langsung melaju menuju rumah Vanya. Sambutan satpam rumah Pradipta tetap ramah dan membuat Ikram leluasa untuk masuk ke sana.


Dengan dua kantong besar berisi berbagai macam cokelat dan juga cemilan. Saat pria itu masuk, ia disambut hangat oleh Ayudia. Sementara Ehsan dan Vanya menatapnya dengan datar.


"Maaf, Tante. Ikram tadi nggak bisa ikut jemput Vanya." Pria itu menyimpan bawaannya di meja lalu mencium punggung tangan Ayudia.


"Tidak apa-apa, Nak Ikram. Kami tahu Nak Ikram sedang banyak kerjaan, kan?" Wanita paruh baya itu kemudian mengajak Ikram untuk duduk bersama mereka. Karena sore ini keluarga kecil itu sedang duduk bersama di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Ikram melihat ke arah Vanya yang asyik bersandar pada dada sang papi. Nanti kalau kita sudah menikah kamu akan bersandar padaku, Yuki. Lalu pria itu mendekat untuk menyalami Ehsan juga Vanya. Namun, sepertinya pria paruh baya itu masih enggan menerima dirinya sebagai calon tunangan putrinya.


"Kamu udah baikan sekarang, Yu ... Vanya?" tanya Ikram basa-basi.


"Alhamdulillah."


Ikram pun akhirnya duduk di samping Ayudia karena saat ingin duduk di samping Vanya, Ehsan seolah menghalanginya. Cinta pertama seorang perempuan adalah ayahnya itu memang benar. Ehsan terlihat sangat menyayangi putrinya begitu pun Vanya.


Suasana hening masih menemani mereka sampai akhirnya Ikram mengeluarkan suaranya. "Maaf, Om, Tante. Kakek berpesan katanya Vanya udah bisa fitting baju buat acara tunangan nanti," ucap Ikram.


"Tidak perlu, kami sudah menyediakan semuanya." Ehsan menjawab datar.


"Ikram hanya menyampaikan pesan kakek. Beliau tidak ingin merepotkan Om dan Tante."


"Memangnya harus banget ya? Cuma acara tunangan doang," sela Vanya dengan malas.


"Kakek ingin semuanya sempurna, Sayang. Kalau kamu siap besok aku akan jemput untuk mengantar."

__ADS_1


"Percuma sempurna kalau akhirnya kabur juga," sindir Ehsan yang membuat Ikram salah tingkah.


"Kali ini Ikram akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah Ikram lakukan, Om."


Sementara Ikram dan Ehsan berbincang, Vanya beranjak dan melihat ke arah kantong yang dibawa oleh Ikram. Vanya pun mendekati dan melihat isinya.


Dia mau bikin aku diabetes apa? Atau suruh aku jualan? Banyak banget.


"Itu semua untuk kamu, Vanya. Aku nggak tahu cokelat apa yang kamu suka, jadi aku ambil semua," ucap Ikram saat melihat ke arah gadisnya.


"Kamu mau suruh aku jualan?"


"Eh, bukan. Masa jualan itu semua untuk kamu, Sayang. Karena aku tahu kamu nggak bunga jadi ...."


"Ya udah makasih. Sekarang udah sore kamu pulang aja gih!" Vanya menyela ucapan Ikram kemudian mengusirnya dengan terang-terangan.


"Vanya!" Ayudia menatap putrinya dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa kok, Tante. Ikram juga harus kembali ke kantor lagi biar besok bisa jemput Vanya."


"Tuh, Mami. Emang harus pulang, kan." Vanya merasa menang.


"Ya udah, makasih ya Mas Ikram cokelat dan cemilannya."


"Sama-sama, Sayang. Besok aku jemput pagi-pagi ya," balas Ikram yang membuat Vanya terdiam tanpa bantahan.


"Kalau gitu Ikram pamit pulang dulu ya, Om, Tante." Pria itu pun beranjak lalu menyalami kembali calon mertuanya itu.


"Hati-hati di jalan ya, Mas Ikram!" Vanya tersenyum miring pada pria yang baru saja melewatinya.


"Makasih, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2